Ben Robani Blog

Hari 102: Jangan Cuma Bereaksi

Hari ini waktunya menyelesaikan target satu buku satu minggu. Buku ke-14 yang saya selesaikan adalah Rework, ditulis oleh Jason Fried dan David Heinemeier Hansson, orang-orang di balik Basecamp.

Buku ini menarik karena cukup berani menabrak banyak asumsi kerja yang dianggap normal hari ini. Banyak hal yang selama ini terasa “harus begitu” justru mereka pertanyakan lagi. Dan buat saya, itu menyegarkan.

Saya rasa buku ini cocok dibaca oleh orang yang sedang membangun sesuatu. Entah pengusaha, orang yang pegang proyek, orang yang ingin membuat produk, atau siapa pun yang tidak mau cuma ikut arus cara kerja orang lain.

Ada tiga hal yang paling membekas buat saya dari buku ini.

1. Jangan bilang iya pada semua hal

Salah satu poin yang paling terasa adalah soal jangan terlalu mudah bilang iya pada semua masukan.

Kalau kita bikin produk lalu semua komentar dituruti, semua kritik dimasukkan, semua saran direspons dengan perubahan, produk itu akhirnya bisa kehilangan arah. Karena tidak ada lagi ketegasan soal sebenarnya produk ini mau jadi apa.

Menurut saya ini penting. Produk bisa berhasil justru karena ada “kita” di dalamnya. Ada sudut pandang pembuatnya. Ada pilihan yang sengaja diambil. Ada keberanian untuk tidak menyenangkan semua orang sekaligus.

Bukan berarti masukan tidak penting. Masukan tetap perlu didengar. Tapi tidak semuanya harus masuk ke kepala, apalagi langsung diubah jadi keputusan. Kadang sesuatu yang benar-benar penting akan terus muncul dan terasa membekas. Kalau bahkan kita sendiri cepat lupa pada masukannya, mungkin memang itu bukan hal yang terlalu penting.

2. Jangan hidup dari reaksi

Hal kedua yang saya suka adalah soal jangan terlalu sibuk mengikuti orang lain.

Kalau kita hanya melihat kompetitor, menunggu orang lain bikin apa, lalu kita ikut bereaksi, kita tidak akan pernah benar-benar jadi pembuat arah. Kita hanya jadi pengikut yang sibuk merespons.

Padahal seharusnya kita lebih banyak mencipta, bukan cuma bereaksi.

Menurut saya ini relevan sekali. Banyak kerja hari ini habis untuk membandingkan. Kompetitor bikin apa, orang lain posting apa, tren sekarang ke mana, pasar lagi ngomong apa. Semua itu memang boleh dilihat, tapi seperlunya saja.

Karena kalau terlalu sibuk melihat luar, kita kehilangan fokus pada apa yang sebenarnya ingin kita bangun.

3. Banyak “harus” ternyata bisa dipertanyakan

Bagian ketiga yang membekas buat saya adalah bagaimana buku ini menampar banyak kata yang selama ini terasa normal: “harus”, “semua orang bilang”, “biasanya begitu”, “praktik umumnya begitu”.

Padahal kalau dipikir lagi, belum tentu semua hal itu memang wajib diikuti.

Sering kali kita bekerja memakai asumsi yang diwariskan begitu saja. Seolah ada satu template yang berlaku untuk semua orang, semua tim, semua situasi. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu.

Menurut saya, di situ pentingnya berpikir ulang. Bukan berarti anti aturan, bukan berarti asal beda, tapi berani mengecek: ini benar-benar perlu, atau cuma kebiasaan yang tidak pernah dipertanyakan?

Karena kalau semua hanya diikuti mentah-mentah, kita bekerja seperti menyalin, bukan memahami.

Menyesuaikan tanpa kehilangan arah

Yang saya suka dari buku seperti ini adalah ia bukan mengajak kita memberontak asal-asalan. Tapi mengingatkan bahwa pekerjaan tidak harus selalu mengikuti template umum secara kaku.

Kita tetap bisa punya sistem. Tetap bisa punya prinsip. Tetap bisa punya cara kerja yang rapi. Tapi semua itu harus bisa disesuaikan dengan keadaan, situasi, konteks, dan tujuan yang memang sedang kita hadapi.

Buat saya, itu pelajaran penting.

Karena kadang yang membuat kerja jadi berat bukan karena kita kurang rajin, tapi karena kita terlalu sibuk mengikuti hal-hal yang sebenarnya tidak harus diikuti.

Jadi mungkin salah satu pengingat terbaik dari buku ini adalah: jangan cuma bereaksi. Bangun sesuatu dengan pendirian.

Exit mobile version