Ben Robani Blog

Hari 1: Kegagalan Konsistensi (dan Cara Baru untuk Menang)

Tahun lalu saya pernah punya niat yang sama: menulis setiap hari.

Niatnya sederhana dan terdengar mulia. Blog ini bukan untuk jadi terkenal. Bukan untuk dibaca banyak orang. Bukan untuk jadi “personal branding”. Blog ini saya niatkan sebagai tempat refleksi: menulis hal-hal yang ingin saya baca sendiri, mendokumentasikan isi kepala, dan menyimpan potongan hidup dalam bentuk yang bisa saya kunjungi lagi kapan pun.

Tapi ada satu masalah: saya mandek.

Kalau saya ingat, mandeknya bukan di awal. Saya bisa mulai. Saya bahkan bisa jalan cukup jauh. Tapi sekitar tulisan ke-20an, saya mulai sadar sesuatu yang agak menyebalkan: konsistensi saya rendah. Resolusi saya gampang patah di tengah jalan. Dan itu bukan cuma soal menulis—itu pola yang sering kejadian.

Ada fase di mana semuanya terasa punya energi: “Ayo, tahun ini saya bakal begini.” Lalu pelan-pelan, tanpa drama besar, tiba-tiba hilang. Seperti tombol yang mati sendiri.

Saya mencoba jujur: kenapa?

Mungkin karena blog ini tidak dibaca siapa-siapa.

Dan lucunya, itu yang sebenarnya saya inginkan sejak awal—blog ini memang untuk diri sendiri. Tapi mungkin justru di situlah tantangannya. Ketika tidak ada yang melihat, tidak ada yang bereaksi, tidak ada yang menunggu, konsistensi jadi terasa… tidak penting. Tidak ada yang “memegang” saya untuk tetap jalan.

Padahal saya tahu saya bisa konsisten.

Buktinya: tahun lalu saya sempat bikin konten AI hampir 60 hari berturut-turut. Hampir dua bulan tanpa putus. Itu bukan keberuntungan. Itu bukti bahwa di dalam diri saya ada sisi yang bisa disiplin. Ada sisi yang bisa “jalan terus”.

Lalu saya bandingkan, apa bedanya?

Satu hal yang paling terasa: konten AI itu saya bagikan. Ada yang baca. Ada reaksi. Ada jejak sosial. Konsistensinya “terlihat” oleh orang lain. Kalau saya berhenti, saya sendiri akan sadar—dan orang lain pun bisa sadar.

Ada semacam tekanan halus yang sehat.

Dan dari situ saya dapat satu kesimpulan kecil:
saya bukan cuma butuh niat. saya butuh sistem yang membuat saya terlihat.

Karena masalahnya bukan saya tidak punya ide. Justru sebaliknya: saya punya banyak gagasan yang sering terasa cemerlang, sering terasa “wah ini bagus”, tapi kemudian hilang begitu saja. Skip. Lenyap. Bukan karena idenya jelek—tapi karena saya tidak mendokumentasikannya dengan baik.

Kadang saya ketemu ide yang sebenarnya bisa dipakai berkali-kali. Bisa jadi tema yang bisa saya ulang ke beberapa orang. Bisa jadi pegangan saat saya butuh arah. Tapi karena tidak dicatat, ide itu cuma lewat. Seperti percakapan bagus yang kita lupa setelah tidur.

Jadi tahun ini saya mau coba pendekatan yang beda.

Saya akan kerja sama dengan ChatGPT.

Saya tidak nyaman mengetik panjang. Jadi saya akan nyalakan mic. Saya akan ngomong 2, 3, 4, 5 menit—tentang apa yang terjadi hari ini, tentang apa yang saya pikirkan, atau tentang apa yang saya ingin tulis. Lalu saya transkripkan. Lalu saya minta bantuan untuk mengembangkan sedikit, supaya jadi tulisan yang solid.

Dan satu hal lagi yang saya ingin ubah: faktor “dibaca”.

Tidak harus viral. Tidak harus banyak. Tapi cukup ada jejak bahwa tulisan ini hidup. Sesekali mungkin saya unggah ke LinkedIn. Sesekali saya kirim ke grup. Sesekali saya bilang ke orang: “Saya lagi nulis tiap hari.”

Bukan untuk pamer.

Tapi untuk membuat komitmen ini punya bentuk, punya saksi, punya cermin. Supaya ketika saya ingin berhenti di tengah jalan, saya merasa ada yang bisa menahan saya satu detik lebih lama—cukup lama untuk memilih lanjut.

Saya juga tahu saya bukan tipe yang “nabung konten”. Saya tidak mau menunggu tulisan terkumpul 30 dulu baru diposting. Saya mau mengejar satu hal yang lebih penting: ritme.

Setiap hari ada satu hal.

Walaupun kecil. Walaupun sederhana. Walaupun cuma satu paragraf yang jujur.

Karena mungkin yang sedang saya latih bukan “menulis bagus”, tapi menjadi orang yang tidak kabur dari niatnya sendiri.

Ini Hari 1.

Bismillah.

Exit mobile version