Author: benrobani

  • Hari 202: Dari Pembeli Menjadi Pembela

    Melanjutkan obrolan tentang Piala Dunia, saya jadi kepikiran satu hal: kenapa sepak bola bisa menumbuhkan fanatisme yang begitu kuat? Orang bisa melakukan banyak hal untuk tim nasionalnya. Itu mungkin lebih mudah dipahami karena ada rasa kebangsaan dan identitas bersama. Namun, fanatisme terhadap klub juga sama kuatnya. Orang rela datang jauh-jauh, membeli berbagai atribut, membela timnya…

  • Hari 201: Bintang Bisa Menang, Tim Bisa Juara

    Hari Senin ini dimulai dengan kondisi yang agak tidak ideal. Dari sekitar pukul dua sampai hampir pukul lima pagi, saya masih menonton final Piala Dunia. Setelah itu, tetap harus melanjutkan pekerjaan dan meeting seperti biasa. Di satu sisi, saya cukup lega Piala Dunia akhirnya selesai. Hampir 40 hari terakhir, ritme hidup terasa seperti jet lag.…

  • Hari 200: Konsistensi Selalu Punya Jalan Pulang

    Hari ini terasa cukup istimewa. Tulisan ini sudah sampai pada Hari 200. Artinya, ada 200 hari dan 200 konten yang sudah diupayakan selama tahun ini. Tahun sebelumnya, saya hanya sampai sekitar Hari 20. Banyak hal sudah terjadi sejak tulisan pertama dibuat. Ada kesibukan yang datang, orang-orang yang datang dan pergi, urusan keluarga, pekerjaan, perusahaan, sampai…

  • Hari 199: Terlalu Ingin Juara

    Di hari-hari terakhir Piala Dunia, saya menonton pertandingan perebutan tempat ketiga antara Inggris dan Perancis. Dua tim yang sebenarnya mungkin diperkirakan bisa bertemu di final, tetapi ternyata sama-sama gagal lolos ke pertandingan puncak. Pertandingan itu berakhir dengan skor 6-4. Menurut saya, pertandingan tersebut sangat menyenangkan untuk ditonton. Bukan hanya karena banyak gol, tetapi juga karena…

  • Hari 198: Report Bukan Work Log

    Setiap Senin, kami melakukan koordinasi untuk menyusun arah pekerjaan selama satu minggu. Lalu pada hari Jumat, setiap divisi melaporkan apa yang sudah terjadi dan apa yang berhasil dikerjakan. Karena manajer kadang tidak bisa hadir, saya membuat format audience report. Harapannya, siapa pun yang mewakili divisi tetap bisa membacakan laporan dengan konteks yang cukup. Awalnya, format…

  • Hari 197: Dari Feeling ke Fakta

    Salah satu tantangan ketika organisasi ingin menjadi lebih data oriented adalah ternyata tidak semua hal mudah diukur. Di atas kertas, kita bisa menyebut banyak data yang ingin diketahui. Berapa retensi pelanggan? Berapa upsell yang terjadi? Intervensi apa yang paling efektif? Berapa banyak pekerjaan yang benar-benar menghasilkan dampak? Pertanyaannya terlihat menarik. Namun, ketika mulai mencari jawabannya,…

  • Hari 196: Tracker Bukan Tempat Setor

    Saya mencoba menyusun OKR tracker agar semua upaya untuk mencapai tujuan bisa terlihat dan diperiksa secara berkala. Harapannya sederhana. Kita tidak hanya tahu target akhirnya, tetapi juga bisa melihat apakah langkah-langkah yang dilakukan benar-benar membawa kita mendekati tujuan tersebut. Namun, tracker sering kali hanya dimaknai sebagai tempat setor data. Tim mengisi angka karena diminta. Setelah…

  • Hari 195: Proposal Bukan Sekadar Form

    Saya mencoba mengembangkan sebuah framework proposal agar setiap inisiatif yang diajukan memiliki standar yang sama. Di dalamnya ada pertanyaan tentang alasan inisiatif tersebut dibuat, tujuan yang ingin dicapai, indikator keberhasilannya, langkah pelaksanaannya, kebutuhan anggaran, sampai bagaimana hasilnya nanti dievaluasi. Namun, respons terhadap format seperti ini kadang cukup sederhana: terlalu ribet. Orang melihat proposal hanya sebagai…

  • Hari 194: Tidak Semua Harus ke CEO

    Ketika perusahaan membuka ruang bagi tim untuk menyampaikan ide, gagasan, dan inisiatif, ada satu pola yang cukup sering terjadi. Semua ide terasa penting. Semua inisiatif dianggap mendesak. Semua keputusan ingin dinaikkan sampai ke level CEO. Dari sisi kehati-hatian, mungkin ini terasa aman. Tim merasa sudah mendapat persetujuan dari level tertinggi sehingga lebih percaya diri untuk…

  • Hari 193: Bukan Soal Kerja di Mana

    Setelah pandemi, banyak perusahaan kembali bekerja dari kantor. Namun, model kerja WFH, work from anywhere, dan berbagai bentuk kerja fleksibel tetap menjadi idola. Banyak orang merasa tidak perlu menghabiskan waktu di jalan, terjebak commuter, atau menjalani rutinitas pulang-pergi yang melelahkan. Secara teori, kerja fleksibel terdengar sangat menarik. Masalahnya, fleksibilitas akan sulit dijalankan kalau accountability-nya tidak…