Hari Sabtu.
Waktunya nonton bola.
Akhirnya tim yang saya dukung menang juga.
Tapi kalau dilihat dari permainannya, rasanya belum terlalu menjanjikan.
Menangnya juga cukup terbantu karena lawannya memang sedang tidak perform.
Dari situ saya jadi kepikiran satu hal.
Kita memang sering diajarkan untuk fokus kepada hal-hal yang bisa kita kontrol.
Dan menurut saya itu benar.
Tapi fokus kepada sesuatu yang controllable bukan berarti kita boleh menutup mata terhadap kondisi di luar diri kita.
Karena walaupun kita tidak bisa mengontrolnya, kondisi eksternal tetap bisa memengaruhi hasil.
Bahkan kadang justru membuka kesempatan.
Dari pertandingan hari ini, saya menarik tiga hal.
1. Fokus pada yang bisa dikontrol
Hal pertama tetap sama.
Kita harus fokus kepada sesuatu yang memang bisa kita kontrol.
Effort kita.
Seberapa banyak kita mencoba.
Seberapa serius kita belajar.
Seberapa baik persiapan kita.
Seberapa disiplin kita menjalankan strategi.
Karena pada akhirnya kita cuma bisa benar-benar bertanggung jawab atas bagian kita sendiri.
Kita tidak bisa berharap orang lain akan mempermudah jalan.
Tidak bisa berharap kondisi selalu mendukung.
Tidak bisa berharap keberuntungan selalu datang.
Jadi kalau mau meningkatkan peluang mendapatkan hasil yang lebih baik, bagian pertama yang harus dibereskan memang diri kita sendiri.
Apa yang bisa saya lakukan lebih baik?
Apa yang bisa saya ulang?
Apa yang bisa saya pelajari?
Apa yang bisa saya kontrol hari ini?
Menurut saya itu tetap fondasinya.
2. Faktor luar tetap berpengaruh
Masalahnya, dunia tidak hanya berisi diri kita sendiri.
Ada lawan.
Ada pasar.
Ada situasi.
Ada momentum.
Ada orang lain yang juga sedang mengambil keputusan.
Dalam pertandingan bola misalnya, kita mungkin bermain biasa saja.
Tapi ketika lawan ternyata tampil buruk, kondisi pertandingan langsung berubah.
Itu bukan sesuatu yang bisa kita kontrol.
Tapi tetap memengaruhi peluang kita untuk menang.
Begitu juga dalam pekerjaan atau bisnis.
Ada kondisi ekonomi.
Ada kompetitor.
Ada perubahan tren.
Ada keputusan orang lain.
Ada momentum yang mungkin tidak kita rencanakan.
Jadi fokus pada internal bukan berarti kita cukup melihat diri sendiri.
Kita tetap harus tahu apa yang sedang terjadi di luar sana.
3. Kesempatan harus dimanfaatkan
Hal ketiga yang menurut saya paling penting adalah ketika kondisi luar berubah, kita harus bisa bereaksi.
Kalau lawan sedang buruk, ya manfaatkan.
Kalau market tiba-tiba membuka peluang, masuk.
Kalau kompetitor sedang lambat, mungkin itu waktu untuk bergerak lebih cepat.
Kalau ada momentum yang tidak kita rencanakan, kita harus cukup adaptif untuk mengambilnya.
Menurut saya di sinilah bedanya antara hanya punya rencana dengan benar-benar membaca permainan.
Kita tetap punya strategi internal.
Tapi kita tidak kaku.
Kita melihat kondisi.
Membaca perubahan.
Lalu menyesuaikan.
Karena kesempatan yang muncul dari luar juga tetap perlu kemampuan dari dalam untuk dimanfaatkan.
Kalau kita tidak siap, peluang lewat begitu saja.
Look inside, watch outside
Pertandingan hari ini mengingatkan saya bahwa fokus kepada sesuatu yang bisa dikontrol memang penting.
Tapi jangan sampai konsep itu diterjemahkan menjadi tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar.
Kita tetap harus look inside.
Perbaiki permainan sendiri.
Perbaiki effort.
Perbaiki strategi.
Tapi pada saat yang sama, tetap aware dengan outside.
Apa yang sedang berubah?
Apa yang sedang dilakukan orang lain?
Apa peluang yang muncul?
Apa risiko yang mulai terlihat?
Karena pada akhirnya hasil tidak hanya datang dari seberapa baik kita menjalankan rencana.
Kadang hasil juga ditentukan dari seberapa cepat kita membaca perubahan dan bereaksi terhadapnya.
Kita mungkin tidak bisa mengontrol situasi di luar, tapi kita tetap bisa mengontrol bagaimana kita meresponsnya.
Leave a Reply