Hari 258: Bos Juga Perlu Melihat Proses

Hari ini saya mencoba satu hal yang agak berbeda: kerja bareng secara online dengan salah satu tim.

Ide awalnya sebenarnya sederhana.

Karena interaksi informal di kantor remote terasa kurang, saya ingin punya ruang untuk kerja bareng saja. Saya mengerjakan pekerjaan saya, mereka mengerjakan pekerjaan mereka. Tidak harus meeting. Tidak harus laporan.

Yang penting ada ruang yang sama.

Awalnya memang banyak bercandanya. Lempar joke, ngobrol receh, lalu kembali ke pekerjaan masing-masing.

Tapi karena saya berada di sana cukup lama, sekitar tiga jam, ternyata yang saya lihat bukan cuma bercandanya.

Saya jadi melihat proses kerja yang biasanya tidak pernah kelihatan dari meja CEO.

Dan justru itu bagian paling menariknya.

1. Kehadiran Bos Bisa Mengubah Perilaku

Ada satu kekhawatiran yang saya punya sebelum mencoba ini.

Kalau bos ikut masuk ke ruang kerja tim, apakah orang akhirnya malah jadi performatif?

Kelihatan sangat sibuk.

Tiba-tiba buka semua dokumen.

Lebih banyak ngomong soal pekerjaan.

Seolah-olah harus menunjukkan, “Nih, saya kerja kok.”

Saya cukup takut dengan kondisi seperti itu.

Karena kalau tujuan saya mau memahami bagaimana tim benar-benar bekerja, tapi kehadiran saya justru membuat semua orang berubah, saya tidak sedang melihat kenyataan.

Saya cuma melihat pertunjukan.

Dan ini mungkin memang salah satu tantangan ketika seorang atasan mencoba masuk lebih dekat ke proses kerja.

Begitu ada orang yang punya posisi lebih tinggi, perilaku orang bisa berubah.

Makanya saya rasa semakin sering kita melakukan hal seperti ini, semakin penting membuat keberadaan bos terasa biasa saja.

Bukan inspeksi.

Bukan sidak.

Bukan “ayo tunjukkan kalian sedang kerja apa”.

Cuma bekerja bersama.

2. Lama-lama Prosesnya Jadi Natural

Yang menarik, kekhawatiran tadi ternyata perlahan hilang.

Awalnya memang terasa seperti ada sedikit persiapan karena bos datang.

Tapi tiga jam ternyata cukup lama untuk terus berpura-pura. 😅

Lama-lama suasananya jadi natural.

Orang mulai bertanya.

“Kalau ini bagaimana?”

“Yang ini maksudnya apa?”

“Kalau skenarionya begini, kita pilih yang mana?”

Ada yang minta pendapat.

Ada yang clarify.

Ada yang mengingatkan orang lain.

Ada diskusi yang sepertinya memang akan tetap terjadi meskipun saya tidak berada di ruangan itu.

Di situ saya justru bisa melihat bentuk asli dari kerja remote sehari-hari.

Ternyata koordinasi memang terjadi.

Mungkin biasanya medianya chat.

Kalau offline mungkin orang tinggal menoleh ke meja sebelah.

Hari ini kebetulan saya melihatnya langsung dalam satu ruang virtual.

Dan buat saya itu berharga.

Karena ada banyak hal dalam pekerjaan yang tidak pernah masuk laporan.

Pertanyaan kecil.

Clarification.

Diskusi dua menit.

Keputusan yang berubah setelah ada informasi baru.

Hal-hal seperti itu tidak terlihat di dashboard, tapi ternyata menopang hasil akhirnya.

3. Melihat Proses Menambah Respect

Ini bagian yang paling terasa buat saya.

Sebagai CEO, kadang yang saya lihat adalah hasil di ujung.

Angka mingguan.

Report.

Target.

Done atau belum.

Naik atau turun.

Kalau hasilnya rendah, mudah sekali berpikir:

“Kok cuma segini?”

Padahal ketika melihat prosesnya langsung, saya jadi sadar bahwa satu angka bisa mewakili banyak sekali pekerjaan yang tidak kelihatan.

Ada diskusi.

Ada percobaan.

Ada pertanyaan.

Ada skenario what if.

Kalau ini gagal bagaimana?

Kalau customer memilih opsi ini bagaimana?

Kalau orang tersebut tidak membalas bagaimana?

Kalau kondisi berubah apa alternatifnya?

Ada banyak ikhtiar sebelum akhirnya sesuatu berubah menjadi satu baris di laporan mingguan.

Dan ketika melihat itu, rasanya perspektif saya ikut berubah.

Bukan berarti hasil tidak penting.

Tetap penting.

Kalau target tidak tercapai, tetap harus dievaluasi.

Tapi sekarang saya merasa kita perlu berhati-hati supaya tidak terlalu egois hanya melihat angka lalu langsung kecewa atau marah.

Karena angka hanya memperlihatkan hasil.

Ia tidak selalu memperlihatkan perjuangan di belakangnya.

Mendekat Tanpa Mengganggu

Ini baru pengalaman pertama saya bekerja seperti ini bersama tim.

Dan rencananya masih akan ada safari ke tim-tim lain.

Saya justru penasaran apa yang akan saya pelajari dari cara kerja masing-masing tim.

Harapannya tentu bukan membuat orang merasa terus diawasi.

Bukan juga menciptakan kepalsuan karena semua orang ingin terlihat bagus di depan bos.

Kalau itu yang terjadi, eksperimennya gagal.

Yang saya harapkan justru sebaliknya.

Saya ingin semakin dekat dengan realitas pekerjaan mereka.

Melihat apa yang tidak tertulis di report.

Memahami kenapa suatu pekerjaan ternyata membutuhkan waktu.

Dan mungkin yang paling penting: belajar menghargai proses sebelum buru-buru menilai hasil.

Karena kadang-kadang kita bisa marah hanya karena melihat satu angka.

Lalu setelah melihat bagaimana angka itu dibuat, kita justru berpikir:

“Oh, ternyata prosesnya sepanjang ini.”


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *