Hari 254: Ekspektasi Harus Ditagih

Hari ini menyenangkan karena satu metode yang saya coba ternyata bekerja.

Kadang kita punya tim, partner, atau staf yang menurut kita sering miss. Ada yang kelewat. Ada yang tidak sesuai ekspektasi. Ada hal yang sebenarnya pernah kita sampaikan, tetapi beberapa waktu kemudian ternyata tidak berubah.

Lalu kita kecewa.

Masalahnya, setelah saya pikir-pikir lagi, sering kali pola kita juga kurang lengkap.

Kita menyampaikan ekspektasi sekali.

Lalu menganggap orang sudah paham.

Setelah itu kita kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Beberapa minggu kemudian kita melihat hasilnya tidak sesuai, lalu bertanya: “Kok masih begini?”

Padahal bisa jadi masalahnya bukan cuma orangnya.

Bisa jadi sistem menyampaikan ekspektasinya memang terlalu mudah untuk dilupakan.

1. Terlalu Dekat Bisa Membuat Sungkan

Ada satu situasi yang menurut saya cukup berbahaya: ketika hubungan sudah terlalu dekat sampai kita mulai tidak enak memberi teguran.

Mungkin karena sudah lama bekerja bersama.

Mungkin kita sangat percaya dengan orangnya.

Mungkin takut hubungan berubah.

Atau simpel saja: rasanya tidak nyaman menyampaikan bahwa ada sesuatu yang mengecewakan.

Akhirnya kita memilih diam.

Tapi diam tidak menghilangkan ekspektasi.

Kita tetap berharap orang tersebut berubah. Kita tetap memperhatikan kekurangannya. Dan ketika hal yang sama terjadi lagi, kekecewaannya malah semakin besar.

Menurut saya, kalau kedekatan mulai membuat komunikasi jujur menjadi sulit, kita perlu mengganti pendekatannya.

Bukan berarti harus menjadi galak.

Justru perlu mencari cara yang membuat persoalannya lebih objektif.

Kurangi perasaan “saya sedang menegur kamu”.

Perbanyak kejelasan “ini yang kita sepakati untuk diperbaiki”.

Hubungan yang dekat seharusnya tidak membuat standar menjadi hilang.

2. Ekspektasi Harus Spesifik

Hal berikutnya adalah jangan berhenti pada kalimat-kalimat yang terdengar baik.

“Ke depan lebih teliti ya.”

“Tolong ditingkatkan.”

“Harus lebih proaktif.”

“Jangan sampai kejadian lagi.”

Kalimat seperti itu terdengar benar, tetapi pertanyaannya: apa yang sebenarnya harus dilakukan?

Menurut saya, ekspektasi harus dibuat jauh lebih terang.

Apa yang saya harapkan?

Apa yang selama ini membuat saya kecewa?

Perilaku atau hasil seperti apa yang harus berubah?

Bukti perbaikannya nanti terlihat dari mana?

Kalau ada lima hal yang harus diperbaiki, ya sebutkan lima-limanya.

Tidak perlu ditutupi terlalu banyak dengan kata-kata manis sampai inti pesannya malah hilang.

Tetap sampaikan dengan baik, tentu saja.

Tapi baik tidak berarti samar.

Karena seseorang sulit memenuhi ekspektasi yang bentuknya saja tidak benar-benar dia pahami.

3. Tulis dan Tentukan Kapan Ditagih

Ini bagian yang paling terasa efeknya buat saya.

Setelah ekspektasi dibicarakan, saya tulis.

Dijadikan daftar.

Dijadikan checklist.

Apa saja yang harus dilakukan dibuat terlihat satu per satu.

Lalu ada satu hal lagi: saya bilang bahwa seminggu kemudian semua itu akan saya cek lagi.

Ternyata bagian ini penting.

Karena sesuatu yang hanya dibicarakan gampang kalah dengan pekerjaan lain yang muncul setiap hari.

Begitu masuk daftar dan jelas kapan akan ditagih, muncul urgensi yang berbeda.

Orangnya tahu:

Ini bukan sekadar obrolan.

Ini akan dicek lagi.

Kalau tidak selesai, nanti saya sendiri yang tidak enak ketika ditanya.

Dan seminggu kemudian, hasilnya benar-benar ada.

Hal-hal yang sebelumnya menjadi sumber kekecewaan ternyata dikerjakan.

Kecewa Bisa Jadi Apresiasi

Bagian paling menyenangkan hari ini adalah perubahan perasaannya.

Sebelumnya kecewa.

Setelah semua ekspektasi yang ditulis tadi dikerjakan, rasanya berubah menjadi syukur, respect, dan apresiasi.

Saya jadi berpikir bahwa kadang kita terlalu cepat menilai seseorang tidak mampu memenuhi harapan kita.

Padahal mungkin harapannya sendiri belum kita kelola dengan baik.

Sudahkah kita menjelaskannya?

Sudahkah kita memastikan orang tersebut paham?

Sudahkah kita menuliskannya?

Sudahkah kita menentukan kapan akan mengeceknya lagi?

Karena ekspektasi yang hanya ada di kepala kita mudah berubah menjadi kekecewaan.

Tapi ekspektasi yang dijelaskan, ditulis, disepakati, lalu ditagih punya peluang jauh lebih besar untuk berubah menjadi hasil.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *