Hari ini saya mau merefleksikan satu kejadian saja.
Tentang rasa tidak percaya diri untuk menjual sesuatu yang belum sempurna.
Kadang masalahnya bukan produknya jelek. Bukan juga karena tidak ada nilainya. Tapi ada rasa bahwa kita belum tahu semuanya, masih ada pertanyaan yang belum bisa dijawab, masih ada bagian yang belum pasti, sehingga akhirnya kita memilih untuk tidak terlalu mendorongnya.
Takut nanti ketemu orang yang bertanya terlalu jauh.
Takut ternyata ada celah.
Takut kelihatan belum siap.
Padahal saya jadi berpikir: kalau semua hal harus sempurna dulu sebelum dibawa keluar, mungkin banyak hal tidak pernah benar-benar mulai.
1. Validasi Tidak Menunggu Sempurna
Di dunia startup ada istilah yang cukup terkenal: fake it until you make it.
Saya sendiri tidak terlalu suka kalau itu dimaknai sebagai boleh berbohong atau berpura-pura punya sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Bukan itu maksudnya.
Bagi saya, fase awal sebuah produk justru memang tidak pernah sepenuhnya sempurna. Masih ada asumsi. Masih ada bagian yang diuji. Masih ada pertanyaan yang baru akan terjawab setelah produk bertemu pengguna.
Karena itulah validasi ada.
Yang perlu kita pegang bukan kesempurnaan, tetapi nilai utama yang ingin diberikan.
Masalah apa yang kita selesaikan?
Kenapa orang perlu ini?
Apa yang sudah benar-benar bisa kita kerjakan hari ini?
Kalau semua jawabannya harus sempurna sejak awal, proses belajar justru tidak pernah terjadi.
Kita menunggu terlalu lama untuk mengetahui sesuatu yang sebenarnya hanya bisa diketahui setelah dilempar ke pasar.
2. Kalau Tugasnya Menjual, Ya Jual
Ada perbedaan antara orang yang bertugas mengembangkan produk dan orang yang bertugas menjualnya.
Tim product tentu harus terus memperbaiki, mengembangkan, menguji, dan mencari bentuk terbaik.
Tapi kalau tugas kita menjual, ya pertanyaannya menjadi: dengan kondisi produk hari ini, bagaimana caranya supaya tetap bisa dijual?
Bukan bagaimana caranya menunggu sampai semua selesai.
Tentu saja ada batasnya.
Tidak boleh berbohong.
Tidak boleh menjanjikan sesuatu yang tidak ada.
Tidak boleh melebih-lebihkan kemampuan produk.
Tetapi di luar itu, menurut saya justru kreativitas seorang penjual diuji.
Bagaimana menjelaskan nilai produk yang sudah ada. Bagaimana mencari customer yang kebutuhannya cocok. Bagaimana menyusun cerita yang tepat. Bagaimana menawarkan sesuatu yang belum sempurna, tapi sudah cukup bernilai untuk digunakan.
Bahkan sebuah ide pun bisa dijual.
Kalau terus menunggu kesempurnaan, sementara orang lain berani mencoba, kita akan terus kejar-kejaran dengan pasar.
3. Pekerjaan Butuh Kepercayaan Diri
Yang paling mengganggu saya sebenarnya bukan soal produknya.
Tapi rasa ragunya.
Menurut saya setiap orang harus punya rasa percaya diri terhadap apa yang dikerjakannya.
Bukan percaya diri yang buta. Bukan merasa semuanya sudah bagus dan tidak perlu dikritik.
Justru percaya diri yang lahir karena kita memahami apa yang kita punya, tahu kekurangannya, tapi tetap bisa berdiri dan mengatakan: ini sesuatu yang layak saya kerjakan dan saya tawarkan.
Hal ini tidak cuma berlaku di sales.
Orang yang bikin konten harus percaya pada kontennya.
Orang yang membuat produk harus percaya bahwa produknya punya nilai.
Orang yang presentasi harus percaya pada apa yang dia presentasikan.
Kalau kita sendiri selalu terdengar ragu, bagaimana orang lain mau ikut percaya?
Kadang memang ada celah yang harus diperbaiki.
Tapi kalau celah itu membuat kita diam terus, barangkali yang perlu dibangun dulu bukan produknya.
Rasa percaya dirinya.
Jangan Aman Terus
Hal yang saya takutkan dari kondisi seperti ini adalah jangan-jangan kita terlalu lama tinggal di zona aman.
Kita memilih sesuatu yang sudah kita kuasai. Menghindari pertanyaan yang belum kita tahu jawabannya. Tidak mencoba pasar baru karena takut terlihat tidak siap.
Akhirnya bukan cuma produknya yang lambat berkembang.
Kita juga.
Padahal sering kali proses development berjalan cepat justru karena ada tekanan dari luar. Ada customer yang bertanya. Ada kegagalan saat pitching. Ada keberatan yang belum pernah terpikirkan. Semua itu memaksa kita memperbaiki sesuatu lebih cepat.
Jadi mungkin kita memang tidak perlu menunggu semuanya sempurna.
Yang penting jangan berbohong tentang apa yang belum ada, percaya diri terhadap apa yang sudah ada, lalu berani mengujinya.
Karena kadang yang membuat kita lambat bukan kekurangan produk.
Tapi ketakutan untuk membawanya keluar.
Leave a Reply