Hari 246: Memahami Bukan Berarti Mengamalkan

Hari ini akhirnya selesai buku ke-26 dari target 52 buku tahun ini.

Artinya sudah tepat setengah perjalanan. Alhamdulillah.

Buku ke-26 ini adalah The 48 Laws of Power karya Robert Greene. Dan ini mungkin salah satu buku paling berbeda yang saya baca tahun ini.

Bukan cuma secara fisik bukunya menyenangkan dibaca, tetapi isinya juga berkali-kali membuat saya berhenti dan berpikir, “Serius begini?”

Selama ini saya cukup banyak membaca buku tentang leadership. Tentang membangun kepercayaan, menciptakan rasa aman, mengembangkan orang, menjadi pemimpin yang baik, dan seterusnya.

Lalu masuklah buku ini.

Rasanya seperti pindah rak buku sekaligus pindah dunia.

Buku ini dipenuhi cerita sejarah, tokoh-tokoh masa lalu, fabel, kutipan, sampai strategi mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Beberapa terasa tidak nyaman. Beberapa bahkan bertentangan dengan prinsip leadership yang selama ini saya baca.

Tapi justru karena itulah buku ini menarik.

1. Pemimpin dan Penguasa Berbeda

Hal pertama yang paling terasa adalah buku ini bukan buku tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik.

Ini buku tentang power.

Dan ternyata dua hal itu tidak selalu sama.

Dalam banyak buku leadership, kita diajarkan membangun orang lain, memberikan kepercayaan, menciptakan lingkungan yang aman, dan membuat tim berkembang bersama.

Di buku ini, sudut pandangnya berbeda. Yang dibicarakan adalah bagaimana membaca kekuatan, menjaga posisi, memainkan persepsi, menghadapi lawan, sampai menggunakan kondisi tertentu untuk mempertahankan pengaruh.

Lumayan membuat syok setelah sebelumnya membaca banyak buku leadership.

Tapi dari situ saya justru mendapat satu pembeda penting: orang yang punya kekuasaan belum tentu pemimpin yang baik, dan pemimpin yang baik belum tentu mengejar kekuasaan dengan segala cara.

Power bisa membuat seseorang diikuti.

Leadership seharusnya membuat orang mau berjalan bersama.

Hasil luarnya kadang terlihat mirip. Cara mendapatkannya bisa sangat berbeda.

2. Tahu Bukan Berarti Meniru

Ada bagian lain yang menurut saya menarik sekaligus agak menakutkan.

Ketika kita membaca berbagai strategi mendapatkan kekuasaan, pikiran pertama mungkin: bagaimana kalau orang lain menggunakan cara-cara ini kepada kita?

Justru di situlah saya melihat manfaat membaca buku ini.

Kita tidak harus mempelajari manipulasi supaya menjadi manipulatif.

Kita bisa mempelajarinya supaya tahu ketika manipulasi sedang terjadi.

Setelah mengetahui pola-pola tertentu, kita jadi lebih peka membaca situasi. Kenapa seseorang melakukan ini? Kenapa informasi tertentu ditahan? Kenapa orang ini berusaha membangun persepsi tertentu? Kenapa hubungan dengan orang lain dimainkan sedemikian rupa?

Bukan berarti setelah membaca buku ini setiap tingkah orang harus dicurigai sebagai salah satu dari 48 hukum.

Nanti malah capek sendiri.

Tetapi setidaknya kita punya tambahan kacamata untuk memahami manusia, kepentingan, dan kekuasaan.

Menurut saya pengetahuan memang tidak selalu harus diamalkan.

Ada pengetahuan yang fungsinya justru supaya kita tidak mudah dimainkan.

3. Manusia Tidak Banyak Berubah

Bagian yang paling menyenangkan buat saya justru cerita-cerita di dalamnya.

Ada cerita kerajaan, perang, politik, filsuf, fabel, tokoh-tokoh berabad-abad lalu, dan berbagai kejadian yang mungkin tidak akan pernah saya baca satu per satu dari sumber aslinya.

Buat saya yang tidak banyak membaca sejarah dan sastra klasik, bagian ini memperkaya sekali.

Yang menarik, semakin banyak ceritanya dibaca, semakin terasa bahwa manusia mungkin tidak banyak berubah.

Teknologinya berubah.

Bentuk organisasinya berubah.

Gelar jabatannya berubah.

Tapi ego, ambisi, rasa takut kehilangan posisi, kebutuhan akan pengakuan, persaingan, sampai perebutan pengaruh ternyata sudah ada dari dulu.

Banyak perilaku yang kita kira sangat modern ternyata punya versi yang hampir sama ratusan tahun lalu.

Dan mungkin itu alasan kenapa cerita sejarah tetap relevan.

Kita tidak selalu membaca masa lalu untuk mengetahui apa yang dulu terjadi. Kadang kita membacanya supaya lebih cepat mengenali sesuatu ketika muncul lagi hari ini.

Tidak Semua Buku Harus Diamalkan

Apakah saya akan merekomendasikan buku ini untuk seluruh tim saya?

Kayaknya tidak.

Terutama kalau dibaca sebagai buku panduan untuk kemudian diterapkan mentah-mentah di lingkungan internal. Banyak istilah dan cara berpikirnya menggunakan logika lawan, musuh, permainan posisi, dan perebutan kekuasaan.

Padahal saya tidak ingin organisasi berjalan dengan cara semua orang memandang orang di sebelahnya sebagai calon musuh.

Tetapi sebagai pengetahuan?

Menarik sekali.

Buku ini mengingatkan saya bahwa membaca tidak selalu berarti mencari sesuatu yang kita setujui. Sesekali justru menarik membaca sesuatu yang bertabrakan dengan cara kita berpikir.

Tidak untuk langsung dipercaya.

Tidak juga untuk langsung dipraktikkan.

Kadang cukup untuk membuat kita tahu bahwa dunia ternyata bisa bekerja dengan cara seperti itu.

Karena memahami sesuatu tidak berarti kita harus menjadi seperti itu.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *