Hari 242: Public Speaking Bukan Cuma Berani

Hari ini saya mengikuti acara di kampung.

Dari acara itu, saya jadi memikirkan satu hal: orang yang bisa berbicara di depan banyak orang dengan cukup terstruktur ternyata punya posisi yang unik di banyak tempat.

Terutama di lingkungan yang budaya komunikasinya cenderung malu-malu, sungkan, atau terbiasa diwakilkan.

Ada orang yang sebenarnya punya ide, tapi tidak berani menyampaikan. Ada yang paham persoalannya, tapi memilih diam. Ada yang ingin bicara, tapi merasa lebih aman kalau ada orang lain yang mewakili.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan public speaking menjadi advantage.

Orang yang bisa berdiri, bicara, menyusun poin, dan menyampaikan sesuatu dengan cukup jelas akan mudah terlihat. Bahkan kadang langsung dipercaya untuk mewakili banyak orang.

Tentu ini sesuatu yang perlu disyukuri.

Namun, punya kemampuan bicara di depan orang juga membawa tanggung jawab.

Karena tugasnya bukan hanya berani bicara.

Tugasnya adalah memastikan apa yang disampaikan benar-benar membantu orang yang mendengarkan.

1. Bisa Bicara di Depan Orang Itu Kelebihan

Public speaking sering disebut sebagai salah satu hal yang paling ditakuti banyak orang.

Ada yang takut salah.

Takut ditertawakan.

Takut lupa.

Takut suaranya gemetar.

Takut dilihat banyak mata.

Bahkan kadang rasa takut berbicara di depan umum digambarkan lebih besar daripada rasa takut bertemu hewan buas.

Entah seakurat apa perbandingannya, tapi saya paham maksudnya.

Bagi banyak orang, berdiri di depan orang lain dan berbicara dengan jelas bukan perkara sederhana.

Karena itu, kalau seseorang punya kemampuan tersebut, itu adalah kelebihan.

Di lingkungan masyarakat, kemampuan ini bisa sangat berguna.

Bisa membantu menyampaikan aspirasi.

Bisa membantu menjelaskan gagasan.

Bisa membantu memimpin forum.

Bisa membantu orang lain yang punya isi kepala, tetapi kesulitan menyusunnya menjadi kalimat.

Namun, justru karena kemampuan ini tidak dimiliki semua orang, kita perlu memperlakukannya dengan serius.

Jangan hanya merasa, “Saya bisa ngomong.”

Pertanyaannya: apakah omongan kita membuat orang lain lebih paham?

2. Keunggulan Butuh Adaptasi

Masalahnya, bisa public speaking di satu konteks tidak otomatis membuat kita cocok di semua konteks.

Kita mungkin terbiasa berbicara tentang satu topik.

Lalu tiba-tiba diminta bicara tentang topik lain.

Kita mungkin terbiasa berbicara di forum profesional.

Lalu harus berbicara di lingkungan masyarakat.

Kita mungkin terbiasa dengan audiens yang sudah punya pengetahuan tertentu.

Lalu harus menjelaskan ke orang-orang yang latar belakangnya sangat beragam.

Di sini adaptasi menjadi penting.

Skill bicara bukan hanya soal percaya diri.

Skill bicara juga soal membaca ruangan.

Siapa audiensnya?

Apa yang mereka butuhkan?

Bahasa seperti apa yang paling mudah mereka pahami?

Bagian mana yang perlu dijelaskan pelan-pelan?

Bagian mana yang tidak perlu dibahas terlalu teknis?

Kalau kita tidak adaptif, kemampuan bicara justru bisa menjadi kurang berguna.

Kita mungkin tetap terdengar lancar, tetapi tidak menjawab kebutuhan.

Kita mungkin tetap terlihat percaya diri, tetapi kehilangan konteks.

Kita mungkin tetap bicara banyak, tetapi tidak benar-benar membantu.

Padahal public speaking yang baik bukan tentang menunjukkan bahwa kita pintar bicara.

Public speaking yang baik adalah tentang membuat pesan sampai.

3. Pendengar Butuh Poin yang Jelas

Hal terakhir yang menurut saya penting adalah soal struktur.

Kadang orang yang bisa bicara merasa cukup dengan kemampuan mengalir.

Karena terbiasa ngomong, ia merasa bisa mengisi waktu berapa pun.

Diminta bicara 30 menit, bisa.

Diminta bicara satu jam, juga bisa.

Masalahnya, semakin panjang durasi, semakin besar risiko pembicaraan menjadi muter-muter.

Poinnya melebar.

Contohnya kebanyakan.

Urutannya tidak jelas.

Pendengar akhirnya tidak tahu harus membawa pulang apa.

Padahal audiens tidak hanya membutuhkan kita berbicara.

Mereka membutuhkan arah.

Mereka perlu tahu inti pesannya apa.

Apa yang harus dipahami?

Apa yang harus dilakukan?

Apa yang perlu diingat setelah acara selesai?

Kalau kita menyiapkan materi untuk 30 menit, lalu tiba-tiba diberi waktu satu jam, bukan berarti sisa waktunya harus diisi dengan hal random.

Lebih baik tetap padat, jelas, dan selesai dengan baik daripada panjang tetapi kehilangan arah.

Public speaking bukan lomba menghabiskan durasi.

Ia adalah seni menjaga perhatian orang agar tetap sampai pada pesan yang penting.

Jangan Cuma Mengambil Panggung

Hari ini saya jadi semakin percaya bahwa kemampuan bicara di depan umum adalah privilege.

Apalagi di lingkungan yang banyak orang masih malu, sungkan, atau tidak terbiasa menyampaikan pendapat secara terbuka.

Namun, privilege itu tidak boleh hanya dipakai untuk mengambil panggung.

Ia perlu dipakai untuk membantu memperjelas sesuatu.

Mewakili dengan hati-hati.

Menyampaikan dengan bahasa yang tepat.

Menyesuaikan diri dengan kebutuhan audiens.

Dan yang paling penting, membuat orang lain merasa lebih paham setelah kita selesai bicara.

Karena public speaking bukan cuma soal berani maju.

Bukan cuma soal suara lantang.

Bukan cuma soal bisa mengisi waktu.

Public speaking yang baik adalah ketika keberanian bicara bertemu dengan kejelasan pesan.

Kalau tidak, kita hanya ramai.

Tapi belum tentu membantu.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *