Hari Sabtu, back to track.
Akhirnya saya menyelesaikan satu buku lagi. Buku ke-23 dari target 52 buku tahun ini.
Judulnya The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry.
Ini adalah buku parenting pertama yang saya baca. Dan mungkin juga akan menjadi satu-satunya buku parenting yang saya baca dalam waktu dekat.
Bukan karena bukunya jelek.
Justru karena bukunya bagus, tetapi berat untuk diamalkan.
Membaca buku parenting itu rasanya seperti membaca sesuatu yang kita tahu benar, tetapi begitu masuk ke praktik harian, langsung terasa sulit. Apalagi ketika sudah berhadapan dengan anak yang punya emosi, kemauan, tangisan, dan logikanya sendiri.
Philippa Perry mengklaim buku ini bukan buku tutorial atau how-to parenting. Bukan buku yang memberi daftar langkah: kalau anak begini, lakukan begitu. Kalau anak menangis, jawab dengan kalimat ini. Kalau anak marah, pakai teknik itu.
Buku ini lebih banyak bicara tentang mindset.
Tentang cara berpikir orang tua.
Tentang bagaimana kita melihat anak, melihat diri sendiri, dan melihat hubungan yang sedang dibangun di antara keduanya.
Yang menarik, buku ini banyak menggunakan contoh kasus sehari-hari. Bukan contoh yang terlalu jauh, tetapi situasi yang sering terjadi dalam kehidupan orang tua dan anak.
Dari buku ini, saya menangkap tiga hal penting.
1. Luka Lama Ikut Mengasuh
Hal pertama yang cukup kuat dari buku ini adalah kesadaran bahwa cara kita memperlakukan anak sering punya hubungan dengan bagaimana kita dulu diperlakukan.
Ini sulit dibantah.
Kadang kita membawa pola dari masa lalu tanpa sadar.
Cara kita marah.
Cara kita menuntut.
Cara kita mengontrol.
Cara kita kecewa.
Cara kita merasa anak harus menjadi sesuatu.
Semua itu tidak muncul dari ruang kosong.
Ada pengalaman masa kecil, ekspektasi orang tua, luka, trauma, rasa kurang, atau mungkin ambisi yang dulu tidak selesai.
Misalnya, ada orang tua yang merasa anaknya harus selalu berprestasi. Mungkin karena dulu ia tidak pernah diberi ruang untuk gagal. Atau karena dulu ia merasa tidak cukup dihargai jika tidak mencapai sesuatu.
Ada orang tua yang mudah marah ketika anak tidak menurut. Mungkin karena dulu ia dibesarkan dalam pola bahwa anak baik adalah anak yang diam dan patuh.
Ada orang tua yang sulit mendengarkan anak. Mungkin karena dulu ia juga tidak pernah benar-benar didengarkan.
Kita sering mengira sedang mendidik anak.
Padahal kadang kita sedang mengulang masa lalu.
Atau sedang membalas masa lalu.
Atau sedang memaksa anak menyelesaikan sesuatu yang dulu tidak selesai di hidup kita.
Ini bagian yang cukup berat.
Karena sebagai orang tua, kita tidak hanya berurusan dengan anak.
Kita juga berurusan dengan diri kita sendiri.
Mungkin salah satu tugas paling penting dalam parenting adalah berani melihat ulang masa lalu, menerima bahwa ada hal-hal yang membentuk kita, lalu memilih untuk tidak meneruskannya begitu saja.
Bukan untuk menyalahkan orang tua kita.
Bukan juga untuk merasa semua luka harus selesai sempurna dulu sebelum mengasuh.
Tetapi agar kita lebih sadar: jangan sampai anak kita menjadi tempat pelampiasan pola yang sebenarnya bukan miliknya.
2. Inti Parenting Adalah Hubungan
Premis utama yang saya tangkap dari buku ini adalah parenting itu tentang membangun hubungan.
Bukan sekadar membuat anak patuh.
Bukan sekadar memastikan anak mengikuti instruksi.
Bukan sekadar mengoreksi, mengomentari, mengarahkan, atau menuntut anak menjadi versi yang kita inginkan.
Parenting adalah relasi.
Dan relasi yang baik membutuhkan dua arah.
Orang tua menyampaikan apa yang penting.
Anak juga perlu didengarkan.
Orang tua punya kebutuhan.
Anak juga punya perasaan.
Orang tua boleh memberi batas.
Anak juga perlu merasa dipahami.
Masalahnya, dalam praktik harian, hubungan sering kalah oleh ekspektasi.
Kita ingin anak cepat mandi.
Cepat makan.
Cepat tidur.
Tidak rewel.
Tidak berantakan.
Tidak menangis terlalu lama.
Tidak bertanya terlalu banyak ketika kita sedang lelah.
Akhirnya, komunikasi berubah menjadi instruksi.
Instruksi berubah menjadi tekanan.
Tekanan berubah menjadi marah.
Lalu setelah marah, hubungan jadi rusak sedikit demi sedikit.
Buku ini mengingatkan bahwa kalau hubungan menjadi basisnya, cara kita menyampaikan sesuatu akan berbeda.
Kita tidak hanya fokus pada “anak harus melakukan apa”.
Kita juga bertanya, “Apa yang sedang terjadi pada anak ini?”
Apa yang ia rasakan?
Apa yang belum bisa ia sampaikan?
Apa yang sebenarnya ia butuhkan?
Tentu ini tidak mudah.
Apalagi ketika kita sendiri sedang lelah.
Namun, kalau hubungan terjaga, banyak hal menjadi lebih mungkin dibicarakan.
Anak tidak hanya merasa dikendalikan.
Ia merasa ditemani.
Dan mungkin di situlah parenting menjadi lebih manusiawi.
3. Sampaikan Perasaan, Bukan Sekadar Tuntutan
Hal ketiga yang menarik adalah pentingnya menyampaikan apa yang kita rasakan.
Sering kali orang tua berbicara dengan format tuntutan.
“Kamu harus begini.”
“Kamu jangan begitu.”
“Kamu kok susah sekali.”
“Kamu bikin capek.”
Kalimat-kalimat seperti itu menjadikan anak sebagai pusat kesalahan.
Padahal, ada cara lain: menyampaikan dari sisi perasaan kita.
“Saya merasa lelah ketika rumah terus berantakan.”
“Saya khawatir kalau kamu melakukan itu.”
“Saya butuh kamu mendengarkan karena ini penting.”
Dengan cara ini, kita tidak hanya menuduh atau menekan anak.
Kita mengajak anak memahami perasaan dan kebutuhan kita.
Ini penting karena sesuatu yang berasal dari diri kita lebih bisa kita kontrol.
Kita tidak selalu bisa mengontrol respons anak.
Kita tidak bisa memastikan anak langsung patuh.
Kita tidak bisa menjamin anak selalu memahami maksud kita.
Namun, kita bisa mengontrol bagaimana kita menyampaikan perasaan.
Kita bisa memilih kata.
Kita bisa memilih nada.
Kita bisa memilih apakah ingin menyerang atau menjelaskan.
Ini bukan berarti orang tua harus selalu lembut dan tidak boleh tegas.
Tegas tetap perlu.
Batas tetap perlu.
Namun, ketegasan yang dibangun dari kesadaran perasaan akan berbeda dengan ketegasan yang lahir dari ledakan emosi.
Yang satu membantu hubungan.
Yang satu lagi sering meninggalkan luka.
Berat karena Harus Dipraktikkan
Membaca buku parenting membuat saya sadar bahwa teori menjadi orang tua sering terdengar sangat masuk akal.
Masalahnya, anak tidak hidup di dalam teori.
Anak hidup di ruang tamu, di kamar, di meja makan, di tengah tangisan, di jam tidur yang terlambat, di hari ketika kita capek, dan di momen ketika kesabaran sedang sangat tipis.
Di situlah semua yang dibaca diuji.
Maka buku ini bagi saya menarik bukan karena memberi trik cepat menjadi orang tua ideal.
Buku ini menarik karena memaksa kita melihat bahwa parenting bukan hanya soal anak.
Parenting juga soal masa lalu kita.
Soal hubungan yang sedang kita bangun.
Soal cara kita menyampaikan perasaan.
Soal keberanian untuk tidak selalu mengulang pola lama.
Mungkin saya tidak akan langsung menjadi orang tua yang jauh lebih baik setelah membaca buku ini.
Tapi setidaknya, ada beberapa hal yang bisa saya sadari lebih cepat.
Ketika marah, saya bisa bertanya: ini benar karena anak saya, atau karena ada luka lama yang ikut bicara?
Ketika menuntut, saya bisa bertanya: saya sedang membangun hubungan, atau hanya ingin menang?
Ketika menyampaikan sesuatu, saya bisa bertanya: saya sedang menjelaskan perasaan, atau sedang menyalahkan?
Buku parenting pertama ini berat.
Mungkin juga terakhir untuk sementara.
Tapi kalau satu buku bisa membuat kita sedikit lebih sadar dalam memperlakukan anak, rasanya sudah cukup layak untuk dibaca.
Leave a Reply