Besok, 17 Agustus, Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke-81.
Setiap mendekati hari kemerdekaan, selalu muncul berbagai refleksi tentang arti merdeka.
Sebagian terasa penting. Sebagian membuat kita berpikir ulang. Namun, ada satu ungkapan yang menurut saya perlu diperdebatkan: “Kita belum benar-benar merdeka.”
Saya paham maksudnya sering kali bukan ingin mengecilkan perjuangan para pahlawan. Biasanya ungkapan itu dipakai untuk menyampaikan bahwa masih banyak persoalan di negeri ini.
Masih ada kemiskinan.
Masih ada ketimpangan.
Masih ada ketidakadilan.
Masih ada orang yang belum hidup layak.
Itu semua benar.
Namun, apakah itu berarti kita belum merdeka?
Menurut saya, tidak sesederhana itu.
1. Merdeka Lawannya Penjajahan
Menurut saya, kata merdeka perlu dikembalikan dulu ke makna dasarnya.
Lawan kata dari kemerdekaan adalah penjajahan.
Penjajahan itu nyata. Ada pihak asing yang menguasai tanah, memaksa rakyat bekerja, mengambil sumber daya, membatasi kehidupan, dan menentukan nasib bangsa lain.
Itu bukan sekadar metafora.
Itu fisik. Terlihat. Dialami. Diderita.
Maka ketika Indonesia sudah tidak lagi berada di bawah penjajahan fisik bangsa lain, secara sederhana kita merdeka.
Bukan berarti semua masalah selesai.
Bukan berarti hidup semua orang langsung enak.
Bukan berarti negara otomatis menjadi sempurna.
Namun, kemerdekaan sebagai kondisi lepas dari penjajahan adalah sesuatu yang nyata dan patut diakui.
Kalau semua persoalan hidup kita masukkan ke dalam istilah “belum merdeka”, lama-lama kata merdeka kehilangan maknanya.
Padahal ada perjuangan yang sangat konkret di balik kata itu.
Ada orang yang benar-benar kehilangan nyawa agar bangsa ini tidak lagi diperintah oleh penjajah.
Jangan sampai karena ingin terdengar kritis, kita malah mengecilkan sesuatu yang seharusnya disyukuri.
2. Belum Makmur Itu Masalah Lain
Kalau yang dimaksud adalah Indonesia belum sepenuhnya sejahtera, saya setuju.
Kalau yang dimaksud masih banyak rakyat belum makmur, saya setuju.
Kalau yang dimaksud masih ada ketimpangan, kesulitan ekonomi, akses pendidikan yang belum merata, layanan publik yang belum ideal, saya juga setuju.
Itu semua masalah nyata.
Namun, menurut saya itu berbeda dengan belum merdeka.
Masalah kesejahteraan adalah pekerjaan rumah setelah kemerdekaan.
Bukan bukti bahwa kemerdekaannya tidak ada.
Kita bisa mengkritik negara tanpa harus meniadakan kemerdekaan.
Kita bisa mengakui masih banyak ketidakadilan tanpa harus berkata bahwa kita masih dijajah.
Kita bisa menuntut perbaikan tanpa menghapus rasa hormat terhadap perjuangan orang-orang yang membuat kita hidup sebagai bangsa yang berdiri sendiri.
Ini penting, karena bahasa membentuk cara kita melihat kenyataan.
Kalau semua kekurangan disebut penjajahan, kita bisa kehilangan ketajaman untuk membedakan jenis masalah.
Padahal setiap masalah butuh istilah yang tepat agar solusinya juga tepat.
Belum sejahtera perlu dijawab dengan pembangunan, pemerataan, pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, dan tata kelola yang lebih baik.
Bukan dengan menyebut seolah-olah kemerdekaan itu belum pernah terjadi.
3. Kita Jauh Lebih Bebas daripada Dulu
Merdeka juga sering dimaknai sebagai bebas.
Dalam konteks ini pun, menurut saya kita perlu jujur.
Hari ini, apa yang benar-benar tidak bebas kita lakukan seperti masa penjajahan dulu?
Dulu orang bisa dipaksa bekerja.
Dulu hidup rakyat ditentukan oleh kekuasaan yang bukan miliknya.
Dulu banyak pilihan tidak benar-benar menjadi pilihan.
Sekarang, tentu hidup tidak otomatis mudah.
Namun, kita punya ruang yang jauh lebih besar untuk memilih.
Mau bekerja, mau membangun usaha, mau sekolah, mau berkarya, mau berpindah, mau menyampaikan pendapat, mau memilih jalan hidup tertentu, semuanya jauh lebih mungkin dilakukan dibanding masa penjajahan.
Apakah masih ada batasan? Ada.
Apakah masih ada ketimpangan akses? Ada.
Apakah semua orang punya kesempatan yang sama? Belum.
Tapi itu bukan berarti kita tidak bebas sama sekali.
Jangan sampai karena hari ini hidup masih sulit, kita lupa bahwa dahulu ada orang yang bahkan tidak diberi hak untuk menentukan hidupnya sendiri.
Kemerdekaan tidak menghapus semua kesulitan.
Namun, kemerdekaan memberi ruang bagi kita untuk memperjuangkan perbaikan dengan tangan kita sendiri.
Mengisi, Bukan Mengaburkan
Menurut saya, cara terbaik memperingati kemerdekaan bukan dengan memperdebatkan apakah kita sudah merdeka atau belum secara berlebihan.
Kita sudah merdeka dari penjajahan.
Itu perlu disyukuri.
Namun, kita memang belum selesai membangun kesejahteraan.
Itu perlu dikerjakan.
Dua hal itu bisa berdiri bersamaan.
Kita bisa bangga sebagai bangsa yang merdeka, sekaligus kritis terhadap persoalan yang masih ada.
Kita bisa menghormati pahlawan, sekaligus melanjutkan perjuangan dalam bentuk yang berbeda.
Kita bisa mengibarkan bendera, sekaligus bertanya: apa kontribusi kita agar kemerdekaan ini tidak hanya menjadi upacara tahunan?
Para pahlawan dulu memperjuangkan kemerdekaan dengan nyawa.
Tugas kita hari ini mungkin tidak sedramatis itu.
Namun, tetap ada tugas.
Mengisi kemerdekaan dengan kerja yang baik.
Membangun hal yang bermanfaat.
Menjadi warga yang tidak hanya pandai mengeluh, tetapi juga mau ikut memperbaiki.
Karena merdeka bukan alasan untuk selesai.
Merdeka adalah kesempatan untuk mulai bertanggung jawab.
Leave a Reply