Hari 224: Obrolan Butuh Irisan

Hari ini saya kepikiran tentang satu hal yang sederhana, tapi sering terjadi: kenapa kadang kita tidak nyambung ketika ngobrol dengan orang lain?

Pertanyaan ini muncul setelah saya mengalami dua situasi yang berbeda.

Di satu sesi, obrolannya berjalan sangat lancar. Mengalir, menyenangkan, dan tiba-tiba waktunya sudah habis begitu saja. Rasanya seperti baru mulai, tapi ternyata sudah selesai.

Namun, di sesi lain, situasinya berbeda.

Waktunya sudah dijadwalkan setengah jam, tapi rasanya lama sekali. Bukan karena tidak mau ngobrol. Bukan juga karena orangnya tidak penting. Tapi topiknya seperti cepat habis.

Bingung mau diisi apa lagi.

Dari situ saya jadi bertanya-tanya: kenapa dengan sebagian orang obrolan bisa sangat hidup, sementara dengan sebagian yang lain seperti harus terus dipaksa?

Saya pikir jawabannya bukan semata karena orangnya menarik atau tidak menarik.

Mungkin masalahnya ada di cara kita bertemu dalam komunikasi.

1. Gaya Komunikasi Bisa Tidak Bertemu

Saya membayangkan gaya komunikasi itu mirip seperti love language.

Setiap orang punya cara masing-masing untuk merasa nyaman dalam percakapan.

Ada orang yang suka bercerita panjang. Ada yang lebih nyaman mendengarkan. Ada yang perlu dipancing dengan pertanyaan. Ada yang langsung antusias kalau topiknya menyentuh hal yang dia sukai. Ada juga yang butuh waktu lebih lama sebelum terbuka.

Masalah muncul ketika gaya komunikasi dua orang tidak bertemu.

Misalnya, satu orang sebenarnya tipe pendengar, tapi kita berharap dia yang banyak bercerita.

Atau dua-duanya sama-sama suka bicara, sehingga percakapannya malah berebut ruang.

Atau satu orang ingin obrolan yang dalam, sementara yang lain lebih nyaman dengan obrolan ringan.

Akhirnya bukan tidak bisa nyambung karena tidak cocok sebagai manusia.

Bisa jadi hanya karena belum menemukan cara komunikasi yang pas.

Dalam percakapan, kita sering terlalu fokus pada apa yang ingin kita sampaikan, tapi lupa membaca bagaimana orang di depan kita menerima dan merespons.

Padahal komunikasi bukan hanya soal berbicara.

Komunikasi juga soal menyesuaikan frekuensi.

2. Curiosity Sering Hilang

Masalah kedua adalah hilangnya rasa ingin tahu.

Kadang kita masuk ke sebuah percakapan dengan daftar tema yang sudah ada di kepala.

Kita ingin membahas A, B, C.

Lalu ketika semua tema itu sudah keluar, kita merasa obrolannya selesai.

Padahal bisa jadi percakapan baru mulai hidup justru ketika kita berhenti mengejar daftar topik sendiri dan mulai benar-benar ingin tahu tentang orang di depan kita.

Apa yang sedang dia pikirkan?

Apa yang dia sukai?

Apa yang membuat dia antusias?

Apa hal yang belakangan ini mengganggu atau membuatnya senang?

Curiosity membuat percakapan punya jalan baru.

Tanpa curiosity, obrolan hanya menjadi sesi menghabiskan bahan.

Kita datang membawa pertanyaan, lalu pergi setelah pertanyaan habis.

Padahal manusia tidak sesempit daftar pertanyaan.

Selalu ada ruang yang bisa dibuka kalau kita cukup tertarik untuk menggali.

Kadang satu pertanyaan kecil bisa membuka cerita yang panjang.

Kadang satu respons sederhana bisa membuat orang merasa, “Oh, ini boleh diceritakan lebih jauh.”

Di situlah percakapan mulai punya energi.

3. Cari Antusiasme yang Sama

Menurut saya, bagian paling penting dalam membuat obrolan menjadi hidup adalah menemukan topik yang sama-sama membuat dua pihak antusias.

Karena ada perbedaan besar antara topik yang harus dibicarakan dan topik yang ingin dibicarakan.

Topik yang harus dibicarakan bisa membuat percakapan berjalan.

Namun, topik yang sama-sama menarik bisa membuat percakapan menyala.

Kadang kita merasa harus membahas hal tertentu karena sudah masuk agenda. Namun, bagi lawan bicara, topik itu mungkin bukan bagian yang paling dekat dengan dirinya.

Akibatnya, jawaban menjadi pendek.

Energinya kecil.

Obrolan seperti berjalan, tapi tidak hidup.

Sebaliknya, ketika kita menemukan irisan yang kuat, semuanya berubah.

Bisa jadi sama-sama suka membahas perjalanan. Sama-sama tertarik pada buku tertentu. Sama-sama punya pengalaman di kota yang sama. Sama-sama sedang memikirkan fase hidup yang mirip.

Begitu titik itu ditemukan, percakapan tidak lagi terasa seperti tugas.

Ia menjadi ruang bertukar energi.

Dan sering kali, dari percakapan yang hidup itulah hal-hal penting justru muncul.

Bukan karena dipaksa, tetapi karena orang merasa cukup nyaman untuk membuka diri.

Menjadi Komunikator yang Lebih Peka

Saya pikir menjadi komunikator yang baik bukan berarti kita harus selalu pandai bicara.

Kadang justru sebaliknya.

Menjadi komunikator yang baik berarti tahu kapan harus bicara, kapan harus mendengar, kapan harus menggali, dan kapan harus mengganti arah obrolan.

Kita perlu membaca siapa yang sedang kita ajak bicara.

Bagaimana gaya komunikasinya?

Topik apa yang membuat matanya menyala?

Bagian mana yang membuat dia tertutup?

Obrolan yang nyambung jarang terjadi hanya karena kebetulan.

Sering kali, ia muncul karena ada usaha untuk menyesuaikan diri, menjaga rasa ingin tahu, dan mencari irisan yang sama-sama membuat percakapan terasa hidup.

Karena pada akhirnya, komunikasi bukan soal menghabiskan waktu yang sudah dijadwalkan.

Komunikasi adalah tentang membuat dua orang benar-benar bertemu dalam percakapan.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *