Hari Minggu ini saya ikut jalan sehat yang diselenggarakan oleh teman-teman KKN di tempat saya tinggal.
Karena saya tinggal di kampung, di desa, kegiatan seperti ini terasa cukup dekat. Ada mahasiswa yang sedang KKN, bahkan dari dua kelompok yang berkolaborasi membuat acara bersama. Ada jalan sehat, ada pembagian doorprize, dan ada warga yang ikut meramaikan.
Sekilas ini hanya acara kampung biasa.
Namun, melihat interaksi antara mahasiswa KKN dan masyarakat, saya jadi memikirkan sesuatu yang lebih besar: tentang jarak, stigma, dan ekspektasi antara orang yang datang membawa program dengan masyarakat yang menjadi tempat program itu dijalankan.
KKN mungkin hanya berlangsung beberapa minggu. Namun, dinamika yang muncul di dalamnya sering kali cukup mewakili banyak hal yang juga terjadi dalam program sosial, pemberdayaan, CSR, atau kegiatan berbasis masyarakat lainnya.
Kita datang dengan niat baik.
Masyarakat menerima dengan harapan tertentu.
Di tengahnya, kadang ada gap yang tidak dibicarakan.
1. Desa Sering Dipandang Tertinggal
Ketika sebuah program masuk ke kampung atau desa, ada stigma yang sering ikut terbawa.
Desa dianggap tertinggal. Masyarakat dianggap belum maju. Cara hidupnya dianggap perlu dibantu, diarahkan, atau diperbaiki.
Mungkin tidak selalu diucapkan secara langsung.
Namun, cara pandang itu bisa terasa.
Mahasiswa sebagai pendatang membawa status sebagai orang kampus. Mereka datang dari dunia pendidikan, membawa program, membawa agenda, dan sering kali dianggap punya pengetahuan yang lebih tinggi.
Di sisi lain, masyarakat kampung ditempatkan sebagai pihak yang perlu menerima.
Dari sini saja, jaraknya sudah terasa.
Padahal masyarakat bukan sekadar objek program.
Mereka punya pengalaman hidup yang panjang di tempat itu. Mereka tahu medan sosialnya, tahu kebiasaan warganya, tahu siapa yang perlu diajak bicara, dan tahu apa yang mungkin berhasil atau tidak berhasil dilakukan.
Masalahnya, pengalaman seperti itu sering tidak terlihat sebagai pengetahuan.
Karena tidak tertulis dalam proposal, tidak disebut sebagai metode, dan tidak dikemas dalam bahasa akademik, ia mudah dianggap kurang penting.
Padahal, tanpa memahami pengetahuan lokal tersebut, program sebaik apa pun bisa terasa asing.
2. Mahasiswa Juga Diberi Ekspektasi Tinggi
Di sisi lain, mahasiswa KKN juga datang dengan stigma yang berbeda.
Karena mereka mahasiswa, masyarakat sering menganggap mereka membawa sesuatu yang lebih.
Lebih pintar. Lebih modern. Lebih punya akses. Bahkan kadang dianggap lebih mampu secara material.
Akhirnya ekspektasi terhadap program KKN bisa menjadi sangat tinggi.
Masyarakat mungkin berharap ada bantuan besar, kegiatan besar, perubahan yang terasa, atau sesuatu yang benar-benar baru. Ketika yang datang ternyata hanya program sederhana, ekspektasi itu bisa turun.
“Lho, kok cuma begini?”
Padahal mahasiswa KKN juga punya keterbatasan.
Waktunya terbatas. Anggarannya terbatas. Pengalamannya juga belum tentu banyak. Mereka datang bukan sebagai penyelesai semua masalah desa, tetapi sebagai orang yang sedang belajar sekaligus mencoba berkontribusi.
Di sinilah kadang terjadi salah paham.
Masyarakat berharap terlalu banyak.
Mahasiswa merasa sudah berusaha.
Lalu kedua pihak sama-sama merasa kurang dipahami.
3. Ketidakpuasan Sering Lahir dari Ekspektasi yang Tidak Bertemu
Ketika dua pihak saling membawa stigma dan ekspektasi masing-masing, ketidakpuasan mudah sekali muncul.
Mahasiswa bisa merasa masyarakat tidak mendukung.
Mereka sudah membuat kegiatan, tetapi warga tidak datang. Mereka sudah menyiapkan program, tetapi responsnya dingin. Mereka merasa mau membantu, tetapi yang dibantu seperti tidak antusias.
Sebaliknya, masyarakat juga bisa merasa programnya tidak sesuai harapan.
Mereka melihat mahasiswa sebagai orang berpendidikan yang seharusnya bisa membawa sesuatu yang besar. Namun, ketika kegiatan yang muncul terasa sederhana, mereka mungkin merasa kecewa.
Dua-duanya bisa merasa benar.
Dua-duanya juga bisa sama-sama kurang memahami posisi pihak lain.
Mahasiswa lupa bahwa masyarakat tidak wajib otomatis antusias hanya karena ada program.
Masyarakat lupa bahwa mahasiswa KKN bukan lembaga besar yang bisa menyelesaikan semua persoalan kampung.
Di sinilah komunikasi menjadi penting.
Program tidak cukup hanya dirancang dari atas meja.
Ia harus dibicarakan, disesuaikan, dan dijalankan dengan pemahaman bahwa setiap pihak membawa kebutuhan dan keterbatasannya masing-masing.
Datang dengan Rendah Hati
Menjadi orang yang punya pendidikan lebih memang sering membuat kita ditempatkan dalam posisi yang diharapkan bisa memberi banyak hal.
Bisa memberi solusi.
Bisa memberi jawaban.
Bisa membawa perubahan.
Namun, pendidikan seharusnya tidak membuat kita datang dengan perasaan paling tahu.
Justru pendidikan seharusnya membuat kita lebih mampu mendengar.
KKN yang hanya berlangsung beberapa minggu tentu tidak sebanding dengan pengalaman masyarakat yang tinggal bertahun-tahun di tempat itu.
Karena itu, masyarakat juga sebaiknya tidak hanya menunggu diberi sesuatu. Mereka bisa membuka diri, membantu apa yang bisa dibantu, dan ikut membuat program menjadi lebih relevan.
Akhirnya, KKN yang baik mungkin bukan tentang siapa yang paling banyak memberi.
Tetapi tentang bagaimana pendatang dan masyarakat bisa saling menurunkan ekspektasi yang terlalu tinggi, lalu bertemu di ruang yang lebih jujur.
Mahasiswa datang untuk belajar dan berkontribusi.
Masyarakat menerima, mengarahkan, dan ikut terlibat.
Kalau dua hal itu bisa bertemu, program sederhana seperti jalan sehat pun bisa menjadi lebih dari sekadar acara Minggu pagi.
Ia bisa menjadi pengingat bahwa pemberdayaan tidak dimulai dari merasa lebih tahu.
Pemberdayaan dimulai dari mau saling memahami.
Leave a Reply