Hari 219: Pikirkan Saat Waktunya

Hari ini saya ingin membahas sesuatu yang mungkin cukup dekat dengan banyak orang: overthinking.

Ada orang yang memang terlihat santai menghadapi banyak hal. Ada juga yang setiap keputusan, setiap percakapan, bahkan setiap kemungkinan yang belum terjadi sudah dipikirkan berkali-kali.

Belakangan saya mendengar pendapat bahwa memang ada orang yang pada dasarnya terlahir sebagai overthinker. Seolah itu sudah menjadi sifat bawaan yang tidak bisa diubah.

Mungkin ada benarnya.

Namun, saya ingin mencoba melihatnya dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Jangan-jangan masalahnya bukan karena kita terlalu banyak berpikir.

Tetapi karena kita berpikir pada waktu yang salah.

1. Memikirkan Masalah Itu Wajar

Kalau sedang menghadapi sebuah masalah, tentu kita harus memikirkannya.

Justru akan aneh kalau ada persoalan penting tetapi kita tidak mau memberi waktu untuk menganalisisnya.

Keputusan yang baik lahir dari proses berpikir.

Strategi yang matang juga lahir dari proses berpikir.

Jadi berpikir bukan musuh.

Yang menarik, ketika kita bekerja, sebenarnya kita selalu dibatasi oleh sesuatu.

Ada deadline.

Ada waktu rapat.

Ada jadwal presentasi.

Ada keputusan yang harus diambil sebelum jam tertentu.

Tanpa sadar, batas waktu itu membuat kita fokus.

Kita berpikir sebaik mungkin dalam waktu yang tersedia, lalu mengambil keputusan.

Kalau tidak ada batas waktu, mungkin kita masih akan terus mempertimbangkan pilihan yang sama sampai berminggu-minggu.

Artinya, yang membantu kita bukan berhenti berpikir.

Tetapi memberi batas kapan kita harus selesai berpikir.

2. Ada Waktunya Berhenti

Masalah muncul ketika keputusan sudah diambil, pekerjaannya sudah selesai, atau waktunya sudah lewat, tetapi pikiran kita masih terus kembali ke sana.

“Kemarin seharusnya saya bilang begini.”

“Coba tadi saya memilih yang itu.”

“Bagaimana kalau nanti ternyata salah?”

Pertanyaan seperti itu sering datang ketika sebenarnya tidak ada lagi tindakan yang bisa dilakukan saat itu juga.

Kalau memang masih ada yang bisa diperbaiki, tentu perbaiki.

Namun, kalau semuanya sudah lewat, terus memikirkannya tidak lagi menghasilkan keputusan baru.

Ia hanya menghabiskan energi.

Besok kita akan menghadapi masalah yang baru.

Lusa akan ada keputusan baru.

Minggu depan akan muncul tantangan yang lain lagi.

Kalau pikiran kita masih tertahan di persoalan yang kemarin, kapan kita punya ruang untuk menghadapi persoalan berikutnya?

Belajar dari masa lalu itu penting.

Tinggal di masa lalu adalah hal yang berbeda.

3. Overthinking Suka Mencari Ruang Kosong

Saya memperhatikan satu hal.

Overthinking sering datang bukan ketika kita sedang sibuk.

Ia justru muncul ketika semuanya mulai sepi.

Saat menjelang tidur.

Saat perjalanan pulang.

Saat sedang rebahan tanpa melakukan apa-apa.

Saat itulah pikiran mulai membuka kembali laci-laci lama yang sebenarnya sudah ditutup.

Mungkin karena otak memang tidak suka ruang kosong.

Kalau tidak diberi sesuatu untuk dikerjakan, ia akan mencari pekerjaan sendiri.

Sayangnya, pekerjaan yang dipilih sering kali adalah memutar ulang kekhawatiran.

Karena itu, salah satu cara yang menurut saya cukup membantu adalah mengisi ruang kosong dengan hal lain yang lebih bermakna.

Bukan berarti kita harus sibuk tanpa henti.

Bukan juga berarti menghindari refleksi.

Namun, kita bisa memilih aktivitas yang membuat pikiran tetap bergerak ke depan.

Membaca.

Berolahraga.

Berbicara dengan keluarga.

Belajar sesuatu.

Menulis.

Melakukan hobi.

Memberi otak pekerjaan yang lebih sehat daripada mengulang percakapan yang tidak bisa diubah.

Beri Pikiran Tempatnya

Saya tidak yakin overthinking bisa benar-benar dihilangkan.

Mungkin memang ada orang yang lebih banyak berpikir dibandingkan orang lain.

Namun, kita tetap bisa mengatur kapan pikiran itu bekerja.

Berpikirlah ketika memang waktunya berpikir.

Ambil keputusan ketika waktunya memutuskan.

Lalu, ketika waktunya beristirahat, izinkan pikiran ikut beristirahat.

Karena energi kita terbatas.

Sayang kalau habis untuk memikirkan sesuatu yang sudah tidak bisa kita ubah.

Lebih baik menyimpannya untuk menghadapi hal-hal yang memang masih bisa kita kerjakan hari ini.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *