Hari 192: Magang Bukan Tenaga Murah

Perusahaan yang membuka kesempatan magang seharusnya sudah memahami bagaimana memperlakukan anak magang.

Masalah yang sering terjadi sebenarnya cukup sederhana. Anak magang datang dengan harapan bisa belajar, sementara perusahaan berharap mereka segera menghasilkan output.

Dua kepentingan ini tidak selalu bertentangan. Anak magang tetap bisa belajar sambil menghasilkan sesuatu. Perusahaan juga tetap bisa mendapatkan kontribusi dari mereka.

Namun, keduanya harus ditempatkan secara tepat.

Masalah mulai muncul ketika perusahaan meminta hasil seperti staf penuh waktu, tetapi memberikan status, kompensasi, pendampingan, dan perlakuan sebagai anak magang.

1. Ekspektasinya Harus Tepat

Ketika perusahaan memutuskan menerima anak magang, perusahaan juga menerima konsekuensinya.

Mereka masih belajar. Pengalamannya terbatas. Pemahaman terhadap industri, produk, dan cara kerja organisasi juga belum tentu lengkap.

Karena itu, kita tidak bisa langsung mengharapkan output yang setara, bahkan lebih tinggi, daripada staf tetap yang memang sudah direkrut berdasarkan kompetensi dan pengalamannya.

Tentu saja setiap anak magang punya kapasitas yang berbeda. Ada yang cepat belajar, punya inisiatif tinggi, dan mampu menghasilkan pekerjaan yang sangat baik.

Namun, pencapaian seperti itu seharusnya dianggap sebagai perkembangan yang bagus, bukan dijadikan standar minimal bagi semua anak magang.

Perusahaan perlu membedakan antara memberi tantangan dengan memberikan beban yang tidak masuk akal.

Kalau sejak awal kita sudah tahu mereka datang untuk belajar, maka kesalahan, pertanyaan, revisi, dan kebutuhan akan arahan adalah bagian dari prosesnya.

Jangan menerima anak magang, tetapi marah karena mereka belum bekerja seperti profesional berpengalaman.

2. Magang Tetap Praktik Kerja

Di sisi lain, tempat magang juga bukan ruang belajar seratus persen tanpa tanggung jawab.

Namanya magang tetap berkaitan dengan praktik kerja.

Pada hari atau minggu pertama, mungkin sebagian besar waktunya digunakan untuk onboarding, memahami produk, mengenal cara kerja tim, dan mempelajari tugasnya.

Namun, setelah mendapat konteks dan instruksi yang cukup, mereka tetap perlu diberi pekerjaan nyata yang sesuai dengan kemampuannya.

Belajar tidak hanya terjadi melalui kelas, materi, atau penjelasan. Banyak pembelajaran justru muncul ketika seseorang mencoba mengerjakan sesuatu, melakukan kesalahan, menerima feedback, lalu memperbaikinya.

Karena itu, anak magang tidak perlu hanya menjadi penonton.

Mereka bisa diberi tanggung jawab, target, dan ruang untuk berkontribusi. Namun, tingkat kesulitannya harus bertahap, supervisinya tersedia, dan ekspektasinya tetap sesuai dengan status mereka sebagai pembelajar.

Magang yang baik bukan hanya duduk mendengarkan.

Namun, juga bukan dilempar ke pekerjaan tanpa arahan lalu dinilai gagal ketika hasilnya belum sesuai.

3. Jangan Menutupi Kebutuhan Staf

Hal yang paling bermasalah adalah ketika perusahaan sebenarnya membutuhkan tenaga kerja penuh, tetapi memilih merekrut anak magang karena lebih murah atau bahkan tidak berbayar.

Perusahaan membutuhkan seseorang untuk mengejar target, memegang tanggung jawab penting, dan menghasilkan output tinggi. Namun, posisi tersebut diisi anak magang karena dianggap lebih mudah dan ekonomis.

Kalau jumlah anak magang bahkan lebih banyak daripada staf yang bisa membimbing mereka, kita perlu bertanya kembali: ini program pembelajaran atau strategi penghematan tenaga kerja?

Anak magang berada dalam posisi yang relatif lemah.

Mereka membutuhkan pengalaman, surat keterangan, portofolio, atau kesempatan untuk masuk ke dunia kerja. Ketergantungan itu tidak boleh dimanfaatkan untuk meminta terlalu banyak dengan imbalan dan pendampingan yang terlalu sedikit.

Kalau perusahaan butuh output seperti karyawan, maka perusahaan seharusnya merekrut dan memperlakukan orang tersebut sebagai karyawan.

Magang tidak boleh dijadikan cara untuk menutupi kekurangan staffing.

Apalagi kalau perusahaan menyebutnya kesempatan belajar, tetapi sebagian besar manfaatnya hanya diterima oleh perusahaan.

Perusahaan Juga Harus Belajar

Program magang sebenarnya bukan hanya ruang belajar bagi anak magang.

Perusahaan juga ikut belajar.

Manajer dan staf belajar memimpin orang yang masih membutuhkan banyak arahan. Tim belajar memberi instruksi dengan jelas, mendelegasikan pekerjaan, memberikan feedback, dan membangun kemampuan orang lain.

Perusahaan juga belajar apakah mereka mampu menerima raw talent lalu mengembangkannya menjadi lebih siap.

Kalau anak magang selalu dianggap merepotkan, mungkin persoalannya tidak hanya ada pada mereka. Bisa jadi sistem onboarding, cara delegasi, atau kemampuan supervisi kita memang belum cukup baik.

Magang bukan solusi murah untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.

Ia adalah investasi waktu, energi, dan perhatian untuk membantu seseorang bertumbuh sekaligus melatih organisasi menjadi tempat belajar yang sehat.

Anak magang memang perlu menghasilkan sesuatu.

Namun, perusahaan juga punya kewajiban memastikan mereka pulang membawa lebih banyak pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman daripada saat pertama kali datang.

Kalau yang berkembang hanya output perusahaan, sementara anak magangnya tidak berkembang, mungkin itu bukan program magang.

Itu hanya tenaga kerja murah dengan nama yang dibuat lebih nyaman.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *