Salah satu masalah yang sering terjadi dalam product development adalah kita terlalu jatuh cinta pada cerita yang ada di kepala sendiri.
Kita ingin membuat produk yang terasa sangat kita. Produk yang keren, canggih, baru, dan membanggakan ketika dipresentasikan.
Masalahnya, keinginan tersebut belum tentu datang dari kebutuhan pasar.
Produk dibuat berdasarkan selera internal, bukan dari masalah yang benar-benar dialami oleh calon penggunanya. Akhirnya, kita punya sesuatu yang mungkin terlihat menarik bagi kita, tetapi belum tentu dianggap penting oleh orang lain.
Padahal, produk bukan hanya sesuatu yang kita banggakan karena berhasil membuatnya.
Produk harus cukup relevan sampai ada orang yang bersedia membelinya.
1. Produk Harus Ada yang Beli
Setiap produk boleh dimulai dari visi.
Kita boleh punya ambisi untuk membuat sesuatu yang berbeda, lebih baik, atau lebih maju daripada apa yang sudah ada. Namun, pada akhirnya, produk tetap harus bertemu dengan orang yang bersedia menggunakannya dan membayar untuknya.
Mau produknya terlihat keren atau sederhana, sangat mencerminkan identitas kita atau tidak, pertanyaan utamanya tetap sama: apakah ada orang yang mau membeli?
Pertanyaan ini terdengar terlalu sederhana. Namun, justru sering terlewat ketika tim terlalu bersemangat dengan idenya sendiri.
Kita sibuk membahas fitur, teknologi, desain, nama, dan berbagai kemungkinan. Namun, belum cukup serius memikirkan apakah semua itu punya nilai bagi calon pengguna.
Produk yang bagus menurut pembuatnya belum tentu menjadi produk yang penting bagi pembelinya.
Kalau tidak ada orang yang cukup membutuhkan, kita mungkin hanya sedang membuat sesuatu untuk memuaskan diri sendiri.
2. Mulai dari Siapa yang Bermasalah
Kalau produk dibuat untuk dibeli orang lain, maka prosesnya harus dimulai dari orang lain juga.
Siapa yang nanti akan membayar produk ini? Masalah apa yang sedang mereka hadapi? Seberapa sering masalah tersebut terjadi? Seberapa besar mereka ingin masalah itu diselesaikan?
Product development seharusnya tidak dimulai hanya dari pertanyaan, “Kita ingin membuat apa?”
Ia juga harus dimulai dari pertanyaan, “Siapa yang sedang kesulitan dan apa yang membuat mereka frustrasi?”
Produk hadir sebagai jawaban.
Artinya, semakin jelas orang dan masalah yang ingin diselesaikan, semakin mudah kita menentukan fitur, harga, bentuk layanan, sampai cara menjualnya.
Sebaliknya, kalau sejak awal kita tidak tahu siapa penggunanya, kita akan terus menambahkan berbagai hal berdasarkan dugaan.
Lama-lama, produknya semakin kompleks, tetapi masalah yang diselesaikan tetap tidak jelas.
3. Canggih Harus Tetap Relevan
Semangat internal sering kali mendorong kita untuk mengejar sesuatu yang paling baru, paling canggih, atau belum pernah dibuat sebelumnya.
Ambisi seperti ini sebenarnya baik. Tanpa ambisi, produk mungkin tidak pernah berkembang menjadi sesuatu yang istimewa.
Namun, ambisi tersebut tetap harus diuji.
Apakah fitur canggih yang kita bangun benar-benar dicari oleh pengguna? Apakah teknologi terbaru itu menyelesaikan masalah yang penting? Atau sebenarnya pengguna hanya membutuhkan solusi yang lebih sederhana, cepat, dan mudah digunakan?
Kadang kita menghabiskan energi untuk membuat sesuatu yang menurut kita mengagumkan. Sementara pelanggan masih kesulitan pada persoalan dasar yang belum kita selesaikan.
Produk yang kuat biasanya tidak selalu terasa paling rumit.
Ia terasa sangat relevan.
Ketika sebuah produk benar-benar menjawab masalah yang membuat pelanggan frustrasi setiap hari, mereka tidak perlu terlalu banyak diyakinkan untuk mencobanya.
Promosi tetap dibutuhkan, tetapi produk tidak sepenuhnya bergantung pada promosi besar-besaran untuk terlihat berguna.
Masalah pelanggannya sendiri sudah cukup kuat untuk mendorong mereka mencari solusi.
Ambisi Bertemu Kebutuhan
Dalam membangun produk, kita memang tidak boleh kehilangan ambisi.
Kalau hanya mengikuti apa yang diminta pasar hari ini, kita mungkin tidak pernah menciptakan sesuatu yang lebih baik untuk masa depan. Tim tetap perlu punya visi, keberanian, dan standar tinggi terhadap produk yang ingin dibuat.
Namun, ambisi saja juga tidak cukup.
Kita harus peduli kepada orang yang akan menggunakannya, memahami kesulitan mereka, dan memastikan produk tersebut benar-benar memberi nilai.
Kalau ambisinya hilang, produknya mungkin biasa saja.
Namun, kalau pasarnya diabaikan, produknya bisa saja hebat tetapi tidak ada yang membeli.
Product development bukan soal memilih antara visi internal atau kebutuhan pasar.
Tugas kita adalah mempertemukan keduanya.
Membuat produk yang tetap terasa seperti kita, tetapi juga cukup relevan untuk menjadi jawaban bagi orang lain.
Leave a Reply