Masih menjawab masalah-masalah yang sering terjadi di organisasi.
Problem kali ini cukup dekat dengan saya sendiri: CEO merasa harus tahu semua detail, lalu akhirnya capek sendiri.
Sebagai orang yang juga menjabat sebagai CEO, saya paham perasaan ini.
Kadang kita kepo terhadap hal tertentu. Kadang overthinking terhadap hal kecil. Kadang merasa kalau tidak tahu detailnya, nanti ada yang kelewat. Akhirnya kita ingin tahu semua hal.
Masalahnya, ketika akhirnya tahu, belum tentu kita jadi lebih tenang.
Kadang justru makin stres.
Karena semakin banyak detail yang masuk, semakin banyak juga beban yang ikut dipikirkan. Hal yang sebenarnya bisa diselesaikan di level tim, jadi ikut memenuhi kepala CEO. Hal yang harusnya cukup selesai di manajer, ikut terasa seperti masalah besar di atas.
Perasaan ini valid.
Tapi kalau dibiarkan, CEO bisa habis energinya untuk mengurusi detail yang seharusnya tidak semua perlu dipegang sendiri.
Menurut saya, ada tiga hal yang bisa dipelajari.
1. Bagi Level Informasi
Hal pertama, ketika organisasi sudah punya struktur, kita harus mulai membagi level informasi.
Apalagi kalau sudah ada tim, manajer, atau middleman yang menjadi penghubung antara strategi dan eksekusi.
Kita perlu jelas: apa yang harus sampai ke CEO, apa yang cukup di manajer, dan apa yang bisa selesai di level staf.
Tidak semua informasi harus naik ke atas.
Kalau semua hal harus diketahui CEO, struktur organisasi menjadi tidak banyak gunanya. Manajer hanya jadi perantara pesan, bukan pengambil keputusan. Staf juga tidak punya ruang untuk menyelesaikan masalah sesuai tanggung jawabnya.
Di sinilah pentingnya membagi batas.
CEO perlu tahu hal-hal yang berdampak pada arah, risiko besar, keputusan strategis, sumber daya, budaya, atau reputasi perusahaan.
Manajer perlu tahu detail operasional yang cukup untuk mengarahkan tim, menyelesaikan hambatan, dan memastikan output berjalan.
Staf perlu tahu apa yang harus dikerjakan, standar yang diharapkan, dan kapan harus eskalasi.
Kalau pembagian ini tidak jelas, CEO akan terus terseret ke hal-hal kecil.
Dan lama-lama, semua orang juga terbiasa menunggu CEO untuk memutuskan hal yang sebenarnya bisa diselesaikan di bawah.
2. Delegasi Harus Diikuti Kepercayaan
Hal kedua, kalau sesuatu sudah didelegasikan, maka harus ada kepercayaan.
Ini bagian yang kadang sulit.
Kita sudah menyerahkan pekerjaan ke orang lain. Tapi setelah itu masih terus mengecek, mengintip, mengoreksi semua detail, dan merasa tidak tenang kalau tidak tahu semua prosesnya.
Akhirnya delegasinya hanya di atas kertas.
Secara tugas sudah diberikan ke orang lain, tapi secara mental masih kita pegang sendiri.
Padahal kalau kita sudah punya manajer atau orang yang bertanggung jawab, kita perlu memberi ruang bagi mereka untuk menjalankan perannya.
Tentu bukan berarti lepas tangan.
Tetap perlu ada report. Tetap perlu ada indikator. Tetap perlu ada forum evaluasi. Tetap perlu ada sistem eskalasi kalau ada masalah penting.
Tapi kalau sesuatu tidak kita minta report-nya, tidak masuk level keputusan kita, dan sudah dilakukan dengan usaha terbaik oleh orang yang bertanggung jawab, maka kita perlu belajar berkata: ya sudah.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena percaya.
Delegasi tanpa kepercayaan hanya akan membuat dua pihak capek.
CEO capek karena merasa masih harus tahu semua. Tim capek karena merasa tidak pernah benar-benar dipercaya.
3. Pilih Informasi yang Perlu Diketahui
Hal ketiga, membatasi pengetahuan bukan berarti menutup mata.
Ini penting.
Kalau CEO terlalu banyak tahu detail, bisa stres. Tapi kalau CEO terlalu sedikit tahu, bisa juga kaget ketika ada masalah besar yang ternyata sudah lama muncul di bawah permukaan.
Seperti fenomena gunung es.
Dari atas terlihat tidak ada apa-apa. Tapi di bawahnya, bisa jadi ada masalah yang makin besar.
Maka yang perlu dilakukan bukan tahu semua hal, tapi memilih informasi apa yang memang perlu diketahui.
CEO perlu membuat daftar sinyal penting.
Informasi apa yang harus naik?
Masalah seperti apa yang wajib dilaporkan?
Risiko seperti apa yang tidak boleh ditahan di bawah?
Angka apa yang harus dipantau rutin?
Komplain seperti apa yang harus diekskalasi?
Keterlambatan seperti apa yang perlu diketahui?
Konflik seperti apa yang tidak boleh dibiarkan?
Dengan begitu, CEO tidak perlu mengetahui semua detail kecil, tapi tetap tidak kehilangan informasi penting.
Ini bukan membatasi diri secara buta.
Ini seleksi informasi.
Tujuannya agar informasi yang masuk membantu pengambilan keputusan, bukan hanya menambah stres.
Karena tugas CEO bukan menjadi tempat parkir semua detail.
Tugas CEO adalah mengambil keputusan yang lebih baik dari informasi yang tepat.
Tahu Secukupnya, Putuskan Sebaiknya
Saya rasa problem ini akan sering muncul pada CEO, founder, atau pemimpin organisasi yang sedang tumbuh.
Di awal, mungkin kita memang harus tahu hampir semuanya. Karena tim masih kecil, struktur belum lengkap, dan semua hal masih dekat dengan kita.
Tapi ketika organisasi berkembang, cara kerja itu tidak bisa terus dipertahankan.
Kita perlu belajar membagi level informasi.
Kita perlu belajar percaya setelah mendelegasikan.
Kita perlu belajar memilih sinyal penting yang tetap harus diketahui.
Karena banyak tahu belum tentu membuat lebih tenang.
Kadang banyak tahu justru membuat kita stres sendiri, apalagi kalau yang diketahui bukan informasi yang perlu kita putuskan.
Maka pertanyaannya bukan lagi: apakah CEO harus tahu semua?
Tapi: informasi apa yang benar-benar dibutuhkan CEO untuk mengambil keputusan dengan baik?
Kalau itu bisa dijawab, CEO tidak perlu tenggelam dalam detail.
Cukup tahu hal yang tepat, pada waktu yang tepat, dari orang yang tepat.
Karena kepemimpinan bukan tentang memegang semua hal.
Kepemimpinan juga tentang tahu mana yang harus dipegang, mana yang harus dipercaya, dan mana yang cukup diawasi dari jarak yang sehat.
Leave a Reply