Hari 169: Risiko Bukan Alasan Berhenti

Masalah yang sering terjadi di organisasi adalah tim takut dengan target tinggi.

Ketika target dinaikkan, yang pertama kali terlihat bukan peluangnya, tapi risikonya.

Ini sebenarnya wajar. Apalagi kalau target sebelumnya belum tercapai dengan optimal. Lalu saat evaluasi, kita masih mencari apa yang salah, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang harus ditingkatkan.

Di saat yang sama, tim melihat banyak risiko di depan mata.

Kadang risikonya benar-benar nyata. Kadang datang dari overthinking. Kadang muncul karena mereka belum tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi tantangan itu.

Akhirnya target tinggi terasa menakutkan.

Bukan karena mereka tidak mau berusaha, tapi karena mereka melihat begitu banyak kemungkinan buruk sebelum mulai berjalan.

Menurut saya, ada tiga perspektif yang perlu dibagikan ketika kita bicara tentang target tinggi dan risiko.

1. Melihat Risiko Itu Perlu

Hal pertama, melihat dari sudut pandang risiko sebenarnya adalah hal yang baik.

Kita tidak bisa hanya modal optimis. Tidak bisa hanya modal semangat. Tidak bisa hanya bilang, “Pokoknya bisa,” tanpa melihat potensi hambatan yang mungkin terjadi.

Karena kalau kita hanya melihat dari satu sudut pandang, kita bisa melewatkan banyak hal.

Ada batu sandungan yang tidak terlihat.
Ada kendala yang belum dihitung.
Ada kapasitas tim yang mungkin belum siap.
Ada asumsi yang ternyata terlalu optimis.
Ada proses yang bisa gagal di tengah jalan.

Jadi ketika tim melihat risiko, itu bukan sesuatu yang harus langsung dianggap negatif.

Justru itu bisa menjadi bahan penting untuk membuat strategi lebih kuat.

Optimisme tetap perlu. Tapi optimisme yang sehat harus ditemani kemampuan membaca risiko.

Karena target tinggi tanpa kesadaran risiko bisa berubah menjadi ambisi yang tidak punya rem.

2. Risiko untuk Diantisipasi, Bukan Ditakuti

Hal kedua, risiko bukan dibuat untuk membuat kita cemas.

Risiko bukan alasan untuk diam.
Risiko bukan alasan untuk tidak bergerak.
Risiko bukan alasan untuk menolak target sebelum mencoba.

Risiko seharusnya membantu kita menyiapkan antisipasi sebelum berjalan.

Kalau ini terjadi, kita apa?
Kalau leads kurang, kita cari dari mana?
Kalau konversi turun, kita perbaiki bagian apa?
Kalau tim overload, kita atur ulang bagaimana?
Kalau strategi A tidak jalan, strategi B-nya apa?

Pertanyaan seperti ini membuat risiko menjadi lebih berguna.

Karena risiko yang hanya dipikirkan akan melahirkan kecemasan. Tapi risiko yang dibahas dan disusun antisipasinya bisa menjadi peta tindakan.

Di sini penting sekali membedakan antara risk awareness dan fear.

Risk awareness membuat kita lebih siap.
Fear membuat kita berhenti sebelum mulai.

Kalau tim melihat risiko, tugas berikutnya bukan berhenti di daftar risiko. Tugas berikutnya adalah membuat rencana antisipasi.

Karena risiko yang sudah diberi respons tidak lagi seseram risiko yang hanya dibayangkan.

3. Tidak Ada Pilihan yang Benar-Benar Aman

Hal ketiga, mau kita diskusi banyak risiko atau tidak, tidak ada sesuatu yang benar-benar aman.

Target tinggi punya risiko.

Tapi target rendah juga punya risiko. Diam punya risiko. Tidak mencoba punya risiko. Menunda punya risiko. Bertahan di zona nyaman juga punya risiko.

Kadang kita hanya merasa lebih aman karena risikonya tidak terlihat langsung.

Padahal tetap ada.

Kalau kita tidak mencoba, risikonya mungkin penyesalan.
Kalau kita tidak menaikkan target, risikonya perusahaan tidak tumbuh.
Kalau kita tidak bergerak, risikonya kesempatan lewat begitu saja.
Kalau kita terlalu takut gagal, risikonya kita tidak pernah tahu kapasitas sebenarnya.

Di titik ini, istilah high risk, high return menjadi relevan.

Semakin tinggi target, semakin besar risiko yang perlu dihadapi. Tapi potensi hasilnya juga bisa lebih besar.

Tentu bukan berarti semua risiko harus diterjang tanpa perhitungan. Risiko tetap perlu dibaca, dihitung, dan diantisipasi.

Tapi jangan sampai keberadaan risiko membuat kita merasa bahwa pilihan terbaik adalah tidak melakukan apa-apa.

Karena tidak melakukan apa-apa juga punya risikonya sendiri.

Target Tinggi Perlu Keberanian dan Antisipasi

Ketika kita membuat target besar, lalu melihat banyak risiko, itu wajar.

Justru aneh kalau target besar tidak membawa risiko sama sekali.

Yang perlu dijaga adalah cara kita merespons risiko itu.

Jangan hanya optimis tanpa perhitungan.
Tapi juga jangan cemas sampai tidak bergerak.

Lihat risikonya.
Petakan hambatannya.
Siapkan antisipasinya.
Lalu tetap berjalan.

Karena target tinggi memang tidak akan pernah terasa sepenuhnya aman.

Tapi kalau kita hanya memilih yang terasa aman, mungkin kita juga hanya akan mendapatkan hasil yang biasa-biasa saja.

Risiko bukan alasan untuk berhenti.

Risiko adalah bahan untuk membuat kita berjalan dengan lebih siap.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *