11. Mengapa kita sulit melupakan padahal kita pelupa?

Bagaimana cara kita move on?

Bagaimana berdamai dengan perpisahan?

Bagaimana kalau berpisah selamanya?

Tulisan kali ini ditujukan atas kasus yang terjadi hari ini, benar, karyawan ada yang resign. Menyelesaikan kontrak lebih tepatnya. Tentu bukan karena istimewa orangnya tapi karena momennya aja. Kalau semua yang resign saya nulis, bakal berseries dong. Kan ya ada lagi, ada lagi. Jadi untuk yang telah dan akan. Tulisan ini untukmu.

Dimulai dari merintis usaha kecil, sulit terbayang ada yang mau bergabung dengan kami. Tapi wow, ada aja yang mau bantu, gabung, tak dibayar, tidak jelas, capek dan panas-panasan. Kok ada. Lalu emosional. Ingin memberi yang terbaik. Membalas semampunya. Tapi semua ada masanya. Ada bertemu ada perpisahan.

Mentor saya pernah berujar, Akan tiba masanya seorang founder diam di pojokan karena ada timnya pamitan. Si Founder berpikir apa yang salah, membalik-balik memori apa ada tindakannya yang kurang berkenan, bercanda berlebihan, atau gajinya kurang. (Padahal ga dibayar. hiks). Sang mentor bertutur merintis berenam dan limanya pergi. Wow. sebengong apa itu. Dan ternyata sama dengan saya.

Selalu masuk pikiran, bikin mood buruk, bahkan saat dengar rumor ga jelas. Lalu tiba saat kita mendewasa dan tidak terkungkung dalam drama sosialita ditinggal pembantunya. Pamit pulang kampung dan tak kembali selamanya. Saatnya punya perspektif yang diupdate. Bahwa there are good in goodbye. Selalu ada kebaikan untuk kedua belah pihak. Mimpi yang pergi akan tercapai. Hidup kita terus berjalan, mandiri.

Tentu ada momen lega ketika yang pergi adalah yang tak diharap. Mau mengusir tidak mampu, masih butuh, didiemkan ga mau berubah. Kadang sampai hari itu datang kita merasa masa berjalan pelan sekali. Belum ditambah sampai hari H banyak drama dan tidak khusnul khotimah. Ada ini ada itu. Makanya beneran ada good di goodbye kan. Waktunya move on, jangan diulangi lagi.

Tapi sebaliknya, bagaimana kalau yang mau pergi adalah yang terbaik, yang dibutuhkan, yang kinerjanya selalu meningkat. Tentu ini berat. Sekalipun semua harus direlakan, semua hanya titipan. Tentu saja guncang tempat kerja bakal jadi hal sulit. Belum semua hasil kerjaan, kenangan yang kadang nyangkut. Ketika diganti yang baru pun kok rasanya beda.

Bukankah manusia adalah pelupa dan tempat salah. Tapi kenapa sulit melupakan yang baik-baik. Suka membandingkan sama mantan, ada momen aja yang mudah kita bergumam, kalo sama yang dulu pasti ga gitu. Mungkin sebabnya adalah ada bekas luka di otak kita, yang membekas, yang kalo ketriger dikit kerasa lagi. Dengan mudah tempat, kata kunci, momen, bercandaan, membawa kembali romantika masa lalu.

Maka jika melupakan itu sulit, maka timpalah dengan kenangan baru.

Biar semua bahagia, bertemu, berpisah, bersedih, berpindah.

Sukses selalu yang tak disini lagi. Jangan kangen.

Jabungan, 26 Januari
Tabik
Ben
11/350


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *