Hari 154: Eksplorasi Harus Punya Ujung

Hari ini saya merefleksikan tentang strategi baru.

Ketika sebuah strategi baru dicanangkan, pasti rasanya berbeda dengan strategi lama. Kalau strategi lama sudah repetitif, kita tinggal mengulang cara yang sudah pernah dilakukan. Kurang lebih polanya sama. Tantangannya sudah bisa diprediksi. Ritmenya juga sudah terbaca.

Tapi strategi baru tidak begitu.

Kadang kita belum tahu akan seberhasil apa. Belum tahu cara terbaiknya seperti apa. Belum tahu konsekuensi di tengah jalannya bagaimana. Bahkan bisa terasa seperti masuk ke proses eksplorasi yang tidak ada habisnya.

Lalu pertanyaannya: apakah kita bisa mengerjakan sesuatu yang eksploratif tanpa merasa tersesat?

Menurut saya bisa. Tapi ada syaratnya.

1. Goal Tidak Boleh Ikut Dieksplorasi

Cara mencapai sesuatu boleh dieksplorasi. Apalagi kalau hal itu baru.

Kita boleh mencoba pendekatan A, lalu ternyata kurang cocok. Kita coba pendekatan B, lalu ternyata belum pas. Kita ubah sudut pandang, ubah metode, ubah kanal, ubah ritme, ubah cara eksekusi.

Itu bagian dari eksplorasi.

Tapi ada satu hal yang tidak boleh ikut berubah-ubah: tujuannya.

Kalau tujuan ikut dieksplorasi, prosesnya tidak akan pernah ketemu ujung. Hari ini mau ke sana, besok mau ke sini, minggu depan ganti arah lagi. Akhirnya yang terjadi bukan eksplorasi, tapi muter-muter.

Eksplorasi yang sehat harus punya ujung yang jelas.

Kita harus tahu, sebenarnya yang ingin dicapai apa. Apakah sudah makin dekat? Apakah makin terjangkau? Atau justru makin jauh?

Selama goal-nya dikunci, eksplorasi yang terasa panjang tetap punya arah. Tapi kalau goal-nya kabur, semua percobaan akan terasa seperti jalan tanpa peta.

Dan jalan tanpa peta itu bukan strategi. Itu wisata tersesat.

2. Orangnya Harus Siap Eksplorasi

Hal kedua, orang yang mengerjakan juga harus paham konsekuensinya.

Tidak semua orang cocok dengan pekerjaan eksploratif.

Ada orang yang lebih nyaman dengan pekerjaan yang sudah pasti, repetitif, dan punya pola jelas. Itu tidak salah. Banyak pekerjaan memang membutuhkan orang seperti itu.

Tapi kalau sebuah pekerjaan menuntut testing, percobaan, alternatif, dan perubahan cara, maka profil orangnya juga harus sesuai.

Kita tidak bisa meminta orang yang sangat nyaman dengan kepastian untuk menjalankan pekerjaan yang penuh ketidakpastian, lalu berharap dia langsung menikmati prosesnya.

Strategi baru membutuhkan orang yang tidak hanya bisa bekerja, tapi juga mau mencoba.

Karena dalam eksplorasi, pekerjaan tidak selalu punya jawaban siap pakai. Kadang harus menguji. Kadang harus menebak dengan data yang terbatas. Kadang harus gagal dulu untuk tahu mana yang tidak bekerja.

Maka sejak awal, orang yang terlibat perlu tahu: ini bukan pekerjaan yang tinggal mengulang. Ini pekerjaan yang harus dicari jalannya.

Kalau dari awal ekspektasi itu tidak jelas, orang bisa merasa frustrasi. Perusahaan juga bisa merasa kecewa. Padahal masalahnya bukan cuma pada kemampuan, tapi pada kecocokan dengan jenis pekerjaannya.

3. Gagal Juga Hasil

Hal ketiga, proses eksplorasi tidak boleh hanya dimaknai dari hasil akhirnya.

Kalau kita hanya melihat output final, eksplorasi bisa terasa melelahkan dan membuat putus asa. Karena tidak semua percobaan langsung menghasilkan jawaban yang kita mau.

Tapi karena ini strategi baru, setiap percobaan sebenarnya membawa penemuan.

Mencoba satu cara lalu gagal, itu tetap hasil. Artinya kita tahu cara itu tidak perlu diulang. Mencoba sepuluh cara lalu semuanya gagal, itu juga hasil. Artinya kita punya sepuluh pembelajaran untuk menentukan arah berikutnya.

Yang berbahaya adalah ketika percobaan gagal lalu dianggap sia-sia.

Sudah dicoba, gagal, lalu kita merasa mulai dari nol lagi. Padahal seharusnya tidak nol. Kita sudah punya data, pengalaman, catatan, dan pelajaran.

Eksplorasi yang baik tidak hanya menghasilkan keberhasilan. Ia juga menghasilkan daftar hal yang tidak perlu diulang.

Kadang itu justru yang menyelamatkan effort di masa depan.

Yang Mencoba Tidak Boleh Disalahkan Sendirian

Ada satu kalimat yang saya pikirkan hari ini:

Orang yang tidak tahu, tidak bisa menyalahkan orang yang mencoba.

Kalau kita sama-sama belum tahu caranya, lalu ada orang yang mencoba dan ternyata gagal, kita tidak bisa langsung menyalahkan orangnya begitu saja.

Tentu percobaannya bisa dievaluasi. Caranya bisa dikoreksi. Hipotesisnya bisa dibaca ulang. Tapi keberanian untuk mencoba tetap harus diakui.

Karena dari percobaan itu, kita jadi tahu sesuatu.

Yang penting sejak awal kita tahu tujuannya apa, ekspektasinya apa, dan ujung yang ingin dicapai apa. Kalau ujungnya tidak tercapai, kita bisa evaluasi percobaannya. Tapi bukan berarti percobaan itu tidak menghasilkan apa-apa.

Yang membuat eksplorasi jadi lingkaran setan adalah ketika kita tidak tahu tujuannya, tidak mencatat pembelajarannya, lalu setiap gagal dianggap sia-sia dan mulai dari nol lagi.

Itu baru eksplorasi yang tidak ada ujungnya.

Strategi baru memang butuh percobaan. Tapi percobaan yang baik tetap harus punya arah, orang yang tepat, dan cara membaca kegagalan sebagai data.

Karena dalam strategi baru, gagal bukan selalu tanda kita tidak bergerak.

Kadang gagal adalah bukti bahwa kita sedang mencari jalan yang lebih benar.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *