Dalam salah satu pembicaraan, ada orang yang bilang bahwa ia punya kemampuan unik untuk melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Bahkan beberapa kali ia merasa bisa membuktikan itu.
“Saya sering lihat hal-hal yang orang lain tidak sadar.”
Saya jadi kepikiran satu hal yang saya sebut sebagai The Red Car Theory.
Sederhananya begini: kadang kita merasa punya kemampuan khusus untuk melihat “mobil merah” di jalan. Kita merasa peka, merasa lebih jeli, merasa bisa menangkap hal yang orang lain lewatkan.
Padahal mungkin bukan karena hanya kita yang bisa melihat mobil merah.
Bisa jadi karena kita memang sedang fokus ke mobil merah, lalu mengabaikan mobil-mobil lain yang lewat di depan mata.
1. Bisa Jadi Kita Mengabaikan yang Lain
Ketika kita mengaku bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat, pertanyaan pertamanya adalah: apakah benar kita melihat sesuatu yang istimewa?
Atau kita hanya sedang memilih untuk memperhatikan satu hal, lalu mengabaikan hal lainnya?
Misalnya kita bilang, “Saya selalu melihat mobil merah.”
Tapi sebenarnya di jalan juga ada mobil putih, hitam, silver, biru, dan banyak warna lain. Hanya saja, karena fokus kita ada di mobil merah, yang lain seperti tidak tercatat di kepala.
Ini yang kadang membuat kita merasa istimewa.
Kita merasa melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Padahal mungkin kita hanya sedang membesarkan satu pola dan mengecilkan pola yang lain.
Dalam hidup juga begitu.
Kita bisa merasa paling peka terhadap satu isu, satu tipe orang, satu masalah, satu tanda, atau satu pola tertentu. Tapi jangan-jangan, selama terlalu fokus ke sana, kita justru melewatkan banyak hal lain yang juga penting.
2. Yang Dibicarakan Jadi Terlihat
Hal kedua, kadang sesuatu terlihat lebih banyak bukan karena jumlahnya benar-benar bertambah.
Tapi karena kita baru saja membicarakannya.
Misalnya kita baru ngobrol tentang mobil merah. Setelah itu, sepanjang jalan rasanya kok mobil merah ada di mana-mana.
Padahal mungkin setiap hari mobil merah juga lewat.
Hanya saja sebelumnya kita tidak memperhatikannya.
Begitu topik itu masuk ke kepala, mata kita jadi lebih sensitif terhadap hal yang sama. Kita jadi lebih mudah menangkapnya. Kita jadi merasa, “Wah, ternyata banyak banget ya.”
Padahal secara faktual, belum tentu jumlahnya berubah.
Yang berubah adalah fokus kita.
Ini penting disadari, karena dalam bekerja dan hidup, kita sering mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang terasa sering terlihat.
Padahal yang terasa sering belum tentu paling benar.
Bisa jadi itu hanya karena kepala kita sedang disetel untuk mencari hal tersebut.
3. Jangan Terlalu Cepat Merasa Istimewa
Hal ketiga, boleh saja kalau kita memang punya ketertarikan atau kepekaan terhadap “mobil merah”.
Mungkin memang itu kemampuan kita.
Mungkin memang kita lebih cepat menangkap pola tertentu dibanding orang lain.
Mungkin memang kita punya sudut pandang yang tidak banyak orang pakai.
Itu tidak salah.
Tapi jangan sampai dari sana kita langsung menyimpulkan bahwa hanya mobil merah yang penting, atau hanya kita yang bisa melihat mobil merah.
Karena begitu kita merasa terlalu istimewa, kita bisa berhenti belajar.
Kita bisa berhenti bertanya.
Kita bisa berhenti membuka diri terhadap hal lain.
Padahal mungkin di luar mobil merah, ada hal-hal lain yang selama ini kita abaikan. Ada pola lain. Ada masalah lain. Ada peluang lain. Ada suara lain. Ada perspektif lain.
Jadi kalau kita merasa punya kemampuan melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat, bagus.
Tapi pertanyaan berikutnya harus tetap ada:
Apa yang selama ini saya lewatkan?
Apakah benar hanya saya yang melihat ini?
Apakah hal lain yang saya anggap tidak penting sebenarnya juga punya nilai?
Jangan Hanya Melihat Mobil Merah
Menurut saya, The Red Car Theory ini mengingatkan kita untuk lebih hati-hati dengan fokus kita sendiri.
Fokus itu penting.
Tapi fokus juga bisa menipu.
Ia membuat sesuatu terlihat lebih besar, lebih sering, dan lebih penting daripada yang sebenarnya. Bukan karena realitanya selalu begitu, tapi karena kepala kita sedang memilih untuk melihat bagian itu saja.
Maka jangan terlalu cepat merasa dunia selalu sesuai dengan apa yang kita lihat.
Bisa jadi kita hanya sedang melihat mobil merah, lalu lupa bahwa jalanan punya banyak warna lain.
Kemampuan melihat pola memang penting.
Tapi kemampuan menyadari bahwa kita mungkin melewatkan pola lain juga tidak kalah penting.
Karena kadang menjadi lebih bijak bukan soal melihat lebih banyak dari orang lain.
Tapi sadar bahwa apa yang kita lihat tetap terbatas.
Leave a Reply