Hari ini hari Minggu.
Harusnya, setiap Minggu saya menulis tentang buku yang saya baca. Targetnya satu buku satu minggu. Tapi bulan ini cukup berat. Banyak hari yang harus dilewati, banyak urusan yang perlu dibereskan, dan akhirnya bacaan saya bulan ini tidak sebanyak biasanya.
Sejauh ini baru dua buku. Itu pun buku tipis.
Tapi ya sudah. Tidak perlu terlalu lama menyalahkan keadaan. Anggap saja ini bagian dari perjuangan yang agak belok sedikit, lalu kita lanjutkan lagi.
Buku ke-17 yang saya baca adalah Pecahkan, karya Panji Pragiwaksono dan Ulwan Fakhri.
Sebenarnya buku ini sudah pernah saya baca sebelumnya, tapi kali ini saya baca ulang. Bedanya, dulu mungkin saya hanya membaca sampai selesai. Kali ini saya coba membaca dengan lebih sadar, sambil memikirkan bagaimana caranya dipraktikkan.
Buku ini membahas proses menulis komedi. Mulai dari menulis joke pertama, calon materi pertama, sampai pekerjaan-pekerjaan komedi pertama.
Dari buku ini, ada tiga hal yang saya tangkap tentang bagaimana komedi ditulis.
1. Mulai dari Premis
Hal pertama adalah premis.
Sebelum menulis sesuatu yang lucu, kita perlu tahu dulu apa yang sebenarnya ingin dibawakan.
Mau ngomongin apa?
Kita berdiri di posisi seperti apa?
Emosi apa yang mau dibawa?
Keresahan apa yang ingin diceritakan?
Ini penting, karena tema yang sama bisa dibawakan oleh banyak orang, tapi hasilnya bisa sangat berbeda.
Misalnya semua orang bisa membicarakan kantor, keluarga, pernikahan, uang, jalanan, atau hidup sehari-hari. Tapi setiap orang punya pengalaman, sudut pandang, dan sikap yang berbeda terhadap hal-hal itu.
Di situlah premis menjadi penting.
Komedi bukan hanya soal mencari hal lucu. Tapi mencari posisi kita terhadap sesuatu.
Apa yang membuat kita terganggu?
Apa yang menurut kita aneh?
Apa yang menurut kita ironis?
Apa yang ingin kita komentari?
Ketika premisnya jelas, materi jadi punya arah. Kita tidak hanya asal melempar kalimat lucu, tapi tahu sedang membawa penonton ke mana.
2. Bangun Set Up
Hal kedua adalah set up.
Setelah tahu apa yang ingin dibawakan, kita perlu mengajak orang masuk ke dalam konteksnya.
Penonton perlu diberi pijakan.
Di sinilah pentingnya universal truth. Sesuatu yang sama-sama bisa dipahami atau disepakati oleh banyak orang.
Kita mulai dari hal yang lurus. Hal yang terasa wajar. Hal yang membuat orang mengangguk dulu.
Karena sebelum orang bisa diajak ketawa, mereka perlu paham dulu apa yang sedang kita bicarakan.
Kalau kita terlalu cepat lompat ke bagian lucu tanpa membangun konteks, bisa jadi orang tidak tertawa bukan karena materinya tidak lucu, tapi karena mereka belum merasa terhubung.
Set up membuat penonton ikut berjalan bersama kita.
Mereka tahu situasinya.
Mereka paham logikanya.
Mereka melihat arah normalnya.
Baru setelah itu, kita bisa membelokkan ekspektasi mereka.
Menurut saya, ini menarik. Karena ternyata dalam komedi, relevansi itu penting sekali. Kalau apa yang kita omongkan tidak nyambung dengan pengalaman atau pemahaman penonton, tawa akan sulit muncul.
Jadi sebelum lucu, harus nyambung dulu.
3. Ciptakan Punchline
Hal ketiga adalah punchline.
Ini bagian yang menurut saya paling menarik dari buku ini: ternyata kelucuan bisa dipabrikasi.
Bisa diciptakan.
Bisa disiapkan.
Bisa punya pola.
Selama ini mungkin kita mengira lucu itu murni bakat. Ada orang yang memang lucu, ada yang tidak. Ada orang yang bisa spontan bikin orang ketawa, ada yang tidak.
Tapi dari buku ini, saya semakin melihat bahwa komedi bisa dipelajari.
Ada tekniknya.
Ada formulanya.
Misalnya dengan melebih-lebihkan sesuatu seperti hiperbola. Atau membuat personifikasi. Atau membandingkan satu hal dengan hal lain. Atau memakai rule of three: satu lurus, dua lurus, yang ketiga dibelokkan.
Bisa juga memakai “what if”.
Bagaimana kalau begini?
Bagaimana kalau begitu?
Bagaimana kalau situasi normal diputar sedikit sampai jadi aneh?
Dari sana saya jadi sadar bahwa lelucon bukan hanya menunggu momen lucu turun dari langit.
Lelucon bisa disusun.
Kita bisa mulai dari premis, membangun set up, lalu mencari belokan yang tepat untuk punchline.
Tentu praktiknya tidak langsung mudah. Tapi setidaknya ada peta. Ada cara untuk mencoba. Ada pegangan untuk memperbaiki.
Lucu Juga Perlu Dilatih
Buku ini saya baca di hari-hari yang cukup sulit.
Mungkin justru karena itu, saya merasa buku seperti ini jadi penting.
Karena perusahaan yang saya bangun dan hari-hari yang saya lewati tidak selalu ringan. Ada banyak tekanan. Ada banyak tanggung jawab. Ada banyak hal serius yang harus dipikirkan.
Tapi saya tetap ingin semua ini dijalani dengan bahagia.
Membaca buku tentang komedi membuat saya melihat bahwa lucu bukan sekadar bakat atau momen spontan. Lucu juga bisa dipelajari. Bisa dilatih. Bisa dibuat dengan sadar.
Dan mungkin itu penting.
Karena hidup sudah cukup banyak memberi hal serius. Kalau kita bisa belajar menemukan, menyusun, dan menciptakan tawa di dalamnya, mungkin perjalanan ini bisa terasa sedikit lebih ringan.
Bukan karena masalahnya hilang.
Tapi karena kita punya cara lain untuk melihatnya.
Kadang yang membuat hidup lebih tahan dijalani bukan hanya solusi besar.
Tapi kemampuan untuk tetap tertawa di tengah proses yang belum selesai.
Leave a Reply