Hari 143: Leader Newbie

Dalam salah satu sesi one on one, saya sharing dengan beberapa orang yang mulai diberi peran sebagai leader atau manajer.

Secara jabatan, mereka mulai punya tanggung jawab untuk mengatur orang lain. Tapi secara eksekusi, beberapa masih terasa newbie.

Dan itu wajar.

Semua orang yang hari ini terlihat jago memimpin, dulunya juga pernah pertama kali diberi tanggung jawab. Pernah bingung. Pernah ragu. Pernah merasa tidak enak. Pernah salah mengambil sikap.

Tapi justru karena masih newbie, ada beberapa pola yang menurut saya perlu disadari lebih cepat.

Karena kalau tidak, jabatan leader hanya berubah jadi tambahan beban, bukan tambahan kapasitas.

1. Semua Dikerjakan Sendiri

Ciri pertama leader newbie adalah selalu merasa, “Ya sudah, saya saja yang mengerjakan.”

Diberi kewenangan untuk mengatur pekerjaan orang lain, membagi tugas, mendelegasikan, dan memastikan tim berjalan. Tapi begitu ada yang tidak bisa, tidak sesuai ekspektasi, atau lambat, pilihannya langsung: saya kerjakan sendiri.

Sekilas ini terlihat bertanggung jawab.

Tapi kalau terus-menerus begitu, sebenarnya cukup aneh.

Karena tugas leader bukan mengerjakan semua pekerjaan sendirian. Tugas leader adalah memastikan pekerjaan selesai lewat pembagian peran yang benar.

Kalau semua hal akhirnya dia ambil sendiri, lalu untuk apa ada tim?

Untuk apa ada delegasi?

Untuk apa dia diberi peran sebagai leader?

Leader memang harus bisa turun tangan. Tapi turun tangan berbeda dengan mengambil alih semuanya.

Kalau setiap masalah dijawab dengan “saya saja”, tim tidak belajar, leader kelelahan, dan pekerjaan tidak pernah benar-benar terdistribusi.

2. Terlalu Membela Tim

Ciri kedua leader newbie adalah terlalu membela orang yang berada di bawahnya, sampai semua kesalahan terasa harus ditanggung sendiri.

Menurut saya, posisi leader itu harus netral.

Bukan berarti selalu membela bawahan. Tapi juga bukan berarti selalu menyalahkan bawahan.

Kalau ada feedback dari atas, tugas leader bukan menyimpan semuanya sendiri lalu merasa paling bersalah. Tugas leader adalah membaca feedback itu, menyaringnya dengan adil, lalu menyampaikannya ke orang yang memang perlu memperbaiki.

Masalahnya, beberapa leader newbie sering terlalu protektif.

Ada kekurangan di tim, tapi tidak disampaikan.

Ada kesalahan, tapi tidak ditegur.

Ada evaluasi, tapi ditahan sendiri.

Akhirnya yang terjadi, orang di bawahnya tidak tumbuh, sementara leader-nya makin stres karena merasa harus jadi tameng untuk semuanya.

Padahal mengoreksi orang lain juga bagian dari tugas memimpin.

Kalau ada yang kurang, ya perlu dikoreksi.

Kalau ada yang perlu diperbaiki, ya perlu dibicarakan.

Bukan untuk menjatuhkan, tapi supaya orangnya berkembang dan pekerjaan tim jadi lebih baik.

3. Terlalu Cepat Mengalah

Ciri ketiga leader newbie adalah terlalu cepat mengalah ketika ide atau arahannya tidak langsung berhasil.

Sebagai leader, kadang kita memberi gagasan, strategi, arahan, atau keputusan berdasarkan banyak pertimbangan. Ada pengalaman, data, konteks, dan pandangan yang lebih luas.

Tapi ketika gagasan itu dibawa ke tim, responsnya bisa macam-macam.

Ada yang kurang setuju.

Ada yang tidak semangat.

Ada yang mencoba tapi hasilnya belum bagus.

Ada yang mengusulkan arah berbeda.

Masalahnya, leader newbie kadang terlalu cepat ikut arus bawahannya. Begitu idenya tidak langsung diterima atau hasilnya belum terlihat, langsung mundur dan mengikuti semua usulan tim.

Padahal tugas leader bukan sekadar menampung semua pendapat.

Tugas leader adalah mendengar, memilah, lalu mengambil keputusan.

Tidak semua usulan harus diterima.

Tidak semua keberatan berarti arah awal harus dibuang.

Tidak semua hasil yang belum maksimal berarti strateginya salah total.

Leader perlu punya suara.

Bukan keras kepala, tapi punya pendirian.

Karena kalau semua pendapat orang lain diterima, sementara gagasan sendiri selalu kalah, lama-lama leader hanya jadi moderator, bukan pengambil keputusan.

Berani Jadi Newbie

Menurut saya, orang yang baru menjadi leader memang perlu waktu.

Tidak mungkin langsung sempurna.

Akan ada fase terlalu banyak mengerjakan sendiri. Terlalu tidak enak memberi teguran. Terlalu cepat mengalah. Terlalu takut dianggap tidak enak. Terlalu ragu memakai power yang diberikan organisasi.

Tapi justru di situ proses belajarnya.

Menjadi leader berarti belajar memakai kewenangan dengan sehat.

Bukan untuk sok berkuasa.

Bukan untuk menyuruh-nyuruh sembarangan.

Tapi untuk memastikan tim bergerak, pekerjaan terbagi, orang berkembang, dan keputusan bisa diambil.

Semua expert dulunya juga newbie.

Tapi kalau kita tidak berani melewati fase newbie itu dengan sadar, kita bisa terjebak terlalu lama di tempat yang sama.

Jadi kalau hari ini baru menjadi leader dan masih sering bingung, tidak apa-apa.

Yang penting jangan berhenti belajar.

Jangan semua dikerjakan sendiri.

Jangan semua kesalahan disimpan sendiri.

Jangan semua keputusan dilepas ke orang lain.

Karena leader bukan hanya orang yang punya jabatan.

Leader adalah orang yang berani mengambil peran.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *