Hari 127: Fokus Solusi, Bukan Drama

Dalam beberapa sesi one on one, muncul pertanyaan yang arahnya mirip-mirip.

Bagaimana cara menjaga kewarasan saat bekerja?

Bagaimana melewati stres ketika pekerjaan sedang banyak, tapi masalah pribadi juga ikut datang?

Bagaimana tetap bisa menjalani hari ketika kepala rasanya penuh, badan capek, dan hati ikut kepencet?

Saya rasa pertanyaan seperti ini penting, karena dalam bekerja kita tidak selalu datang dalam kondisi ideal. Kadang kita membawa masalah dari rumah. Kadang pekerjaan yang membuat kita sesak. Kadang dua-duanya datang bareng, seperti janjian.

Tapi saya ingin melihat ini dari perspektif pemecahan masalah, bukan dari drama yang melebar ke mana-mana.

Karena stres itu nyata. Tapi kalau hanya dirawat sebagai drama, dia bisa makin besar. Maka yang perlu dicari bukan hanya “saya kenapa”, tapi juga “saya bisa melakukan apa”.

1. Cari Sumber Stresnya

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah sadar dulu sumber stresnya dari mana.

Apa yang membuat kita merasa tidak waras?

Apakah sumbernya eksternal atau internal?

Eksternal berarti ada hal di luar diri kita yang memicu stres. Bisa pekerjaan, atasan, teman kerja, keluarga, situasi, rutinitas, deadline, atau lingkungan yang memang membuat kita sesak.

Internal berarti bisa jadi situasinya sebenarnya biasa saja, tapi cara kita memaknai, memikirkan, atau membesarkannya yang membuat kita makin tertekan.

Ini penting dibedakan.

Karena solusi untuk masalah eksternal dan internal bisa berbeda.

Kalau masalahnya eksternal, mungkin kita perlu mengubah cara berinteraksi dengan orang tertentu, mengatur ulang beban kerja, meminta bantuan, atau mengambil jarak dari situasinya.

Tapi kalau masalahnya internal, mungkin yang perlu diubah adalah cara pikir, cara merespons, ekspektasi, atau narasi yang kita ulang-ulang di kepala sendiri.

Cara mengeceknya sederhana: kalau kita menjauh dari orang atau situasi itu, apakah kondisi kita membaik?

Atau kalau cara pikir kita diganti, apakah rasa stresnya ikut berkurang?

Dari situ kita bisa mulai tahu, yang perlu dibereskan itu sumber di luar diri, atau cara kita memprosesnya di dalam diri.

2. Fokus Solusi, Bukan Drama

Hal kedua, setelah tahu sumber stresnya, fokuslah ke solusi.

Bukan berarti kita tidak boleh mengakui sedang stres. Justru perlu diakui.

Tapi jangan berhenti di kalimat, “Saya stres, saya tidak waras, saya tidak bisa apa-apa.”

Karena kalau berhenti di sana, kita hanya memperbesar masalah tanpa membuka jalan keluar.

Pertanyaannya harus dilanjutkan: kalau saya stres karena ini, lalu saya bisa melakukan apa?

Apakah saya perlu rehat sebentar?

Apakah saya perlu ngobrol dengan orang lain?

Apakah saya perlu mengalihkan pikiran?

Apakah saya perlu melakukan hal yang menyenangkan?

Apakah saya perlu menata ulang pekerjaan?

Apakah saya perlu minta bantuan?

Apakah saya perlu izin dengan benar?

Kadang solusi tidak langsung besar. Bisa saja kecil. Jalan sebentar. Tidur lebih cepat. Menunda percakapan sulit sampai kepala lebih jernih. Menulis apa yang sedang dipikirkan. Mengobrol dengan orang yang bisa membuat kita lebih tenang.

Yang penting orientasinya bergerak.

Karena kalau kita hanya memutar ulang drama, masalahnya tidak selesai, energinya habis, dan kepala makin penuh.

Stres butuh ruang untuk diakui, tapi juga butuh arah untuk diurai.

3. Tahu Kapan Berhenti

Hal ketiga, kita perlu tahu kapan harus berhenti.

Berhenti bukan berarti menyerah. Berhenti bisa berarti rehat sejenak supaya kita tidak makin rusak.

Kadang yang membuat kita merasa tidak waras bukan satu masalah besar, tapi rutinitas yang terlalu padat dan tidak pernah diurai.

Kadang bukan pekerjaannya yang mustahil, tapi lingkungan yang terlalu sesak sehingga kita butuh mengambil napas lebih dulu.

Kadang bukan kita lemah, tapi memang sudah terlalu lama memaksa diri untuk tetap berjalan tanpa jeda.

Maka kita perlu tahu titik berhenti.

Apakah cukup dengan melakukan aktivitas lain sebentar?

Apakah perlu izin beberapa jam?

Apakah perlu cuti satu hari?

Apakah perlu mengambil jarak lebih panjang?

Atau dalam situasi tertentu, apakah kita memang perlu keluar dari lingkungan yang terus-menerus membuat kita tidak sehat?

Ini bukan keputusan yang harus diambil dengan tergesa-gesa. Tapi pilihan itu perlu diakui ada.

Karena dalam bekerja, kita tetap butuh akal sehat. Kalau setiap hari stres, tertekan, dan merasa tidak waras, kita juga sulit memberikan hasil kerja yang baik.

Tidak fair juga kalau kita memaksa diri terus hadir, tapi yang bisa kita berikan justru makin menurun karena diri kita sendiri sudah terlalu penuh.

Jaga Diri Juga Tanggung Jawab

Bagi saya, menjaga kewarasan dalam bekerja bukan berarti kita harus selalu bahagia.

Bukan juga berarti kita tidak boleh stres.

Stres bisa terjadi. Tekanan bisa datang. Masalah pribadi bisa ikut terbawa. Pekerjaan bisa terasa berat.

Tapi yang penting adalah kita tidak membiarkan semuanya menjadi kabut besar yang tidak kita pahami.

Cari sumbernya. Bedakan apakah masalahnya eksternal atau internal. Fokus pada solusi, bukan hanya drama. Lalu tahu kapan harus berhenti untuk mengambil napas.

Karena kalau kita tidak peduli, masalah kecil bisa membesar. Stres yang awalnya bisa diurai bisa berubah jadi sesuatu yang makin berat.

Pada akhirnya, bekerja tetap membutuhkan manusia yang sadar, sehat, dan punya ruang untuk berpikir.

Kita tidak selalu bisa mengontrol semua masalah yang datang.

Tapi kita bisa belajar mengurai, memilih respons, dan menjaga diri sebelum semuanya meledak.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *