Hari Rabu ini saya belajar satu hal: ternyata sulit sekali menahan informasi yang kita anggap rahasia, apalagi kalau informasi itu terasa penting untuk orang lain.
Saya sedang mengerjakan satu proyek rahasia untuk karyawan saya. Karena sifatnya memang ingin dibuat tidak banyak diketahui orang, saya berusaha mengerjakannya sendiri sebisa mungkin.
Tapi ternyata ada dua hal yang sama-sama tidak mudah.
Pertama, mengerjakan semuanya sendiri itu berat. Kedua, menahan informasi agar tidak bocor juga berat.
Karena sebagai manusia, kita terbiasa berbagi cerita. Apalagi ketika sedang memikirkan sesuatu, sedang mengerjakan sesuatu, atau sedang menyiapkan sesuatu yang menurut kita penting. Rasanya ingin cerita, ingin minta pendapat, ingin berbagi beban.
Tapi kalau sejak awal sudah diberi label rahasia, ya konsekuensinya memang berbeda.
Ada tiga pelajaran yang saya rasakan dari pengalaman ini.
1. Label rahasia punya konsekuensi
Ketika sebuah proyek kita beri label rahasia, konsekuensinya langsung naik.
Bukan cuma soal tidak boleh cerita. Tapi juga soal bagaimana kita mengatur orang yang terlibat, bagaimana kita menjaga alur komunikasi, bagaimana kita menyimpan dokumen, dan bagaimana kita menahan diri dari kebiasaan bercerita terlalu bebas.
Apalagi kalau proyek itu dikerjakan dalam lingkungan kerja yang isinya manusia. Kita ketemu orang. Kita ngobrol. Kita ditanya. Kita punya momen untuk keceplosan. Dan di titik itu, rahasia punya risiko untuk jebol kapan saja.
Jadi menurut saya, sebelum memberi label rahasia pada sesuatu, kita harus sadar bahwa itu bukan label kecil.
Rahasia berarti ada tanggung jawab tambahan.
2. Jangan jadi pembocor rahasia sendiri
Hal kedua, kalau memang sebuah proyek harus rahasia, maka kita harus serius menjaganya.
Artinya, hanya libatkan orang-orang yang memang perlu tahu dan bisa dipercaya. Jangan semua orang diberi sedikit cerita dengan alasan “cuma kasih tahu sedikit.” Karena sering kali rahasia bocor bukan karena ada orang jahat, tapi karena terlalu banyak orang diberi potongan informasi.
Dan yang paling penting: jangan sampai kita sendiri yang membocorkannya.
Kadang kita ingin cerita karena capek. Kadang kita ingin validasi. Kadang kita ingin kelihatan sedang mengerjakan sesuatu yang menarik. Kadang kita ingin membagi beban pikiran.
Tapi kalau proyek itu memang rahasia, kita harus belajar menahan diri.
Jangan overthinking, tapi juga jangan oversharing.
Karena rahasia yang sudah keluar, biasanya sulit ditarik kembali.
3. Ketika rahasia terbuka, rasanya lega
Hal ketiga yang saya rasakan adalah ketika akhirnya proyek itu sampai pada waktu untuk diketahui, rasanya lega sekali.
Seperti ada beban yang turun.
Akhirnya tidak perlu lagi menahan informasi. Tidak perlu lagi menyusun kalimat agar tidak terlalu banyak membocorkan konteks. Tidak perlu lagi khawatir keceplosan. Tidak perlu lagi memikul rasa “saya tahu sesuatu, tapi belum bisa cerita.”
Mungkin sedikit banyak, itu yang dirasakan orang-orang yang hidup lama dengan rahasia. Ada beban mental yang menempel, bahkan ketika rahasianya bukan sesuatu yang buruk.
Ketika akhirnya bisa dibuka, diumumkan, atau diketahui orang yang seharusnya tahu, ada rasa plong. Rasanya bisa move on dan kembali mengerjakan hal lain dengan kepala yang lebih ringan.
Menjaga rahasia juga perlu batas
Dari pengalaman ini, saya jadi merasa bahwa merahasiakan sesuatu memang bisa penting, tapi tetap perlu dikelola dengan bijak.
Tidak semua hal harus dirahasiakan. Tapi kalau memang harus, pastikan alasannya jelas, orang yang terlibat terbatas, dan cara menjaganya disiapkan.
Karena menjaga rahasia bukan cuma soal diam.
Ia juga soal disiplin, kontrol diri, dan kemampuan menahan dorongan untuk berbagi sebelum waktunya.
Di sisi lain, saya juga jadi sadar bahwa berbagi sesuatu itu menyenangkan. Menceritakan sesuatu ke orang lain, mengajak orang ikut tahu, dan membuka informasi pada waktunya bisa memberi rasa lega yang besar.
Jadi mungkin pelajaran hari ini sederhana: jangan mudah memberi label rahasia kalau tidak siap dengan bebannya.
Tapi kalau memang harus rahasia, jaga baik-baik sampai waktunya tiba.
Leave a Reply