Hari 113: Buku Jangan Ditinggal

Hari ini rasanya campur aduk. Ada sisi menyenangkan, ada juga sisi menyedihkan.

Belakangan ini saya memang sedang membiasakan anak untuk tidak terlalu dekat dengan gadget. Saya ingin dia akrab dengan buku sejak kecil. Untungnya beberapa waktu ini dia sedang suka sekali dengan puzzle-puzzle, jadi tetap ada aktivitas yang seru dan tidak melulu layar.

Tapi ternyata ada satu dampak yang tidak saya duga.

Karena terlalu fokus ke puzzle, buku-bukunya jadi tidak dibuka selama sekitar seminggu. Dan saat dicek, banyak yang sudah dimakan rayap.

Rasanya sedih, tentu. Karena buku anak itu bukan cuma barang. Di situ ada niat baik, ada harapan, ada proses membangun kebiasaan, ada momen-momen kecil yang ingin dijaga. Tapi dari kejadian ini, saya jadi dapat beberapa catatan juga.

1. Biasakan baca buku terus

Pelajaran pertama, kebiasaan baca buku memang harus terus dijaga.

Karena membaca itu bukan sekadar aktivitas sesekali. Justru yang penting adalah ritmenya. Buku perlu tetap disentuh, tetap dibuka, tetap dihadirkan dalam keseharian. Supaya anak tidak hanya tahu buku itu ada, tapi juga merasa bahwa buku memang bagian dari hidupnya.

Menurut saya, habit seperti ini memang dibentuk dari kecil. Bukan harus lama-lama setiap hari, bukan juga harus langsung berat. Tapi konsisten. Ada sentuhan, ada keakraban, ada momen yang terus diulang.

Karena kalau tidak dijaga, perhatian anak memang mudah berpindah. Hari ini suka buku, besok suka puzzle, lusa suka hal lain. Itu normal. Tugas kita bukan melarang dia suka hal baru, tapi memastikan buku tidak sampai hilang dari kebiasaannya.

2. Tempat penyimpanan juga penting

Pelajaran kedua, niat baik tidak cukup kalau tempat penyimpanannya tidak aman.

Apalagi kalau rumah memang punya tantangan dengan serangga atau rayap. Buku itu rentan. Kertas, lem, seratnya, semua bisa jadi sasaran. Jadi ternyata bukan cuma anaknya yang harus dibiasakan baca, tapi orang tuanya juga harus disiplin menjaga tempat simpan bukunya.

Kadang kita fokus ke isi, tapi lupa ke wadahnya.

Padahal buku yang bagus, niat yang bagus, dan kebiasaan yang bagus bisa rusak juga kalau penyimpanannya lalai. Jadi buat saya ini pengingat bahwa literasi bukan cuma soal membeli buku atau mengajak baca. Tapi juga soal merawat medianya.

Karena sesuatu yang ingin dipakai lama memang harus dijaga tempat hidupnya.

3. Kalau sudah rusak, fokus recovery

Pelajaran ketiga, kalau masalahnya sudah terjadi, jangan terlalu lama berhenti di sedihnya.

Sedih boleh. Kesal juga wajar. Tapi setelah itu, ya fokus ke recovery. Cek mana yang masih bisa diselamatkan, mana yang memang harus dilepas, mana yang perlu diganti, dan apa yang harus dibenahi supaya hal seperti ini tidak terulang.

Menurut saya, ini berlaku juga di banyak hal. Kadang kita terlalu lama menatap kerusakannya, sampai lupa bahwa energi kita lebih berguna kalau dipakai untuk memperbaiki.

Masalah yang terjadi tidak selalu bisa dibalik. Tapi respons kita setelah itu tetap bisa menentukan apakah kita hanya berhenti di kecewa, atau benar-benar belajar sesuatu.

Literasi juga perlu dirawat

Hari ini saya jadi merasa bahwa membangun kebiasaan membaca ternyata bukan cuma soal niat dan bahan bacaan. Tapi juga soal ritme, perawatan, dan kesiapan untuk menjaga hal kecil yang sering dianggap sepele.

Semoga kejadian ini jadi pengingat baik buat saya sendiri.

Bahwa kalau ingin anak dekat dengan buku, maka bukunya juga harus terus hidup dalam keseharian. Dibuka, dibaca, dirawat, dan dijaga. Karena literasi yang baik bukan cuma dibeli. Ia juga perlu dipelihara.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *