Hari ini ada satu interview dari anak kuliahan untuk tugas mereka. Seperti biasa, saya coba layani semampu saya. Temanya tentang leadership, jadi saya cerita bagaimana saya memimpin perusahaan dan beberapa hal yang saya alami di dalamnya.
Dari pengalaman itu, saya jadi kepikiran satu catatan kecil: kalau kita ingin interview atau ngobrol dengan orang lain, ada beberapa hal yang bisa membuat prosesnya jauh lebih baik.
Karena interview yang baik menurut saya bukan sekadar bertanya lalu mencatat jawaban. Interview yang baik adalah bagaimana kita membuat narasumber merasa diajak ngobrol, didengar, dan dihargai sebagai manusia yang punya cerita.
Ada tiga hal yang menurut saya penting.
1. Persiapkan diri sebelum bertemu
Hal pertama, kalau interview-nya memang direncanakan dan bukan dadakan, kita perlu mempersiapkan diri.
Cari tahu sebanyak mungkin tentang narasumber. Bisa dari sosial media, berita, latar belakang, karya, perusahaan, atau hal-hal lain yang bisa memberi konteks. Tujuannya bukan supaya sok tahu, tapi supaya obrolannya tidak benar-benar mulai dari nol.
Kalau kita sudah punya sedikit konteks, pertanyaan yang muncul juga akan lebih relevan. Kita bisa menyambungkan cerita. Kita bisa membuat narasumber merasa, “oh, orang ini memang sudah mencari tahu.”
Menurut saya, itu penting.
Jangan biasakan bertanya sesuatu yang terlalu obvious, apalagi hal yang sebenarnya bisa ditemukan dengan mudah. Kalau sejak awal kita menunjukkan bahwa kita sudah berusaha memahami konteks, obrolan biasanya jadi lebih nyaman dan lebih dalam.
2. Jangan cuma bawa checklist
Hal kedua, jangan memperlakukan interview hanya sebagai checklist pertanyaan dari nomor satu sampai sepuluh.
Tentu daftar pertanyaan itu perlu. Tapi kalau terlalu kaku, yang terjadi bukan obrolan. Yang terjadi hanya sesi tanya-jawab yang dingin. Narasumber menjawab, lalu pewawancara buru-buru pindah ke pertanyaan berikutnya, tanpa benar-benar hadir di percakapan.
Padahal interview yang enak membutuhkan rasa ingin tahu.
Apalagi kalau interview ini dilakukan untuk tugas. Narasumber sudah meluangkan waktu, sementara dia mungkin tidak mendapat kompensasi apa-apa. Minimal, kita bisa membalasnya dengan menjadi lawan bicara yang baik, antusias, dan sungguh-sungguh ingin memahami.
Jadi bukan cuma datang untuk menyelesaikan tugas sendiri, tapi juga membuat prosesnya terasa manusiawi untuk orang yang membantu kita.
3. Tanggapi jawaban narasumber
Hal ketiga, ketika narasumber menjawab, tanggapi.
Kalau ada hal yang menarik, beri respons. Kalau ada bagian yang mengejutkan, tunjukkan rasa penasaran. Kalau ada cerita yang bagus, apresiasi. Kalau ada jawaban yang bisa digali lebih jauh, follow up.
Jangan sampai pola interview hanya menjadi: tanya, jawab, selesai, lanjut pertanyaan berikutnya.
Karena ketika kita menanggapi, narasumber akan merasa didengar. Dan dari situ, biasanya cerita yang keluar bisa lebih jujur, lebih dalam, dan lebih hidup.
Bahkan kalau kita bisa menyusun alurnya dengan runut, obrolan akan jauh lebih enak diikuti. Tidak terasa potong-potong hanya karena pewawancara terlalu setia pada checklist yang sebenarnya tidak nyambung dengan arah percakapan.
Jadikan narasumber sebagai manusia
Dari pengalaman saya diinterview dan menginterview orang, salah satu modal terbesar seorang interviewer adalah rasa penasaran.
Bukan penasaran yang basa-basi, tapi rasa ingin tahu yang sungguh-sungguh. Keinginan untuk memahami cerita orang lain, melihat sudut pandangnya, dan menangkap sesuatu yang mungkin tidak langsung terlihat di permukaan.
Karena narasumber bukan mesin jawaban.
Dia manusia yang punya cerita, pengalaman, sudut pandang, dan mungkin juga hal-hal spesial yang bisa kita pelajari. Kalau kita bisa menaruh perhatian dengan baik, interview tidak hanya jadi alat untuk menyelesaikan tugas.
Interview bisa jadi ruang pertemuan yang bermakna.
Dan menurut saya, di situlah bedanya tanya jawab biasa dengan obrolan yang benar-benar hidup.
Leave a Reply