Hari Sabtu ini, di hari libur kerja, saya mencoba mengajak kembali motor lama saya yang sudah lama sekali tidak dipakai.
Saya coba panaskan, ganti beberapa bagian yang rusak, lalu dicoba berjalan lagi. Dari situ saya malah kepikiran hal yang lebih besar: ternyata motor lama itu mirip dengan skill, hobi, atau pengalaman hidup yang dulu pernah kita kuasai, tapi sekarang tergantikan karena ada hal baru.
Kadang kita merasa hidup sudah terlalu jauh berubah. Karier kita mungkin sudah berbeda dari jurusan kuliah. Pekerjaan sekarang mungkin sudah jauh dari pengalaman pertama. Hobi lama mungkin juga sudah tidak lagi jadi bagian utama keseharian.
Tapi dari motor lama itu, saya merasa ada beberapa refleksi yang menarik.
1. Simpan yang pernah kita lalui
Menurut saya, hal-hal yang pernah kita lalui di masa lalu sebaiknya tidak buru-buru dibuang begitu saja.
Mungkin hari ini jalur hidup kita sudah melenceng jauh dari apa yang dulu kita pelajari di sekolah, di kuliah, atau di pekerjaan pertama. Tapi tetap simpan saja. Karena kita tidak pernah benar-benar tahu kapan itu dibutuhkan lagi.
Motor lama saja bisa jadi backup saat motor utama bermasalah. Begitu juga skill lama, pengalaman lama, atau kebiasaan lama yang dulu pernah membawa kita sampai di titik tertentu.
Tidak semuanya harus dipakai setiap hari. Tapi tidak juga harus dihapus seolah tidak pernah ada. Kadang yang lama justru menyelamatkan saat yang baru tidak bisa diandalkan.
2. Cek dan asah berkala
Kalau motor lama dibiarkan begitu saja, pasti ada yang rusak, kotor, berdebu, atau tidak nyaman dipakai.
Hal yang sama juga berlaku pada kemampuan yang pernah kita punya. Kalau tidak pernah disentuh, ia akan tetap ada, tapi performanya menurun. Bukan hilang total, tapi jadi tidak siap dipakai kapan pun dibutuhkan.
Karena itu, menurut saya, yang lama tetap perlu dicek berkala.
Bukan berarti kita tidak move on. Bukan berarti kita hidup di masa lalu. Tapi setidaknya kita sesekali melihat lagi: apa yang dulu pernah saya bisa? Apa yang dulu pernah saya kerjakan? Apakah ada yang masih relevan dengan hidup saya sekarang?
Dengan begitu, kita tidak selalu harus mulai dari nol. Kadang kita hanya perlu membersihkan, memperbaiki, lalu memakai lagi sesuatu yang sebenarnya sudah pernah ada.
3. Yang lama belum tentu usang
Pelajaran ketiga yang saya rasakan hari ini adalah bahwa hal lama itu ternyata masih bisa dipakai.
Asal dirawat sedikit, diperhatikan lagi, dan diberi ruang, sesuatu yang dulu pernah kita jalani bisa tetap punya fungsi hari ini. Mungkin bukan lagi jadi pekerjaan utama. Mungkin hanya jadi hobi, pelarian, pekerjaan sampingan, atau sekadar alat bantu saat dibutuhkan. Tapi tetap bisa dipakai.
Karena apa yang pernah benar-benar kita jalani biasanya meninggalkan bekas.
Kalau dulu kita pernah bertahun-tahun mengerjakan sesuatu, hampir mustahil semuanya hilang begitu saja. Pasti ada yang tertinggal di kepala, di cara berpikir, di refleks kerja, atau di kebiasaan kita. Dan itu semua tetap bisa punya nilai.
Makanya kadang menarik juga untuk sesekali flashback. Bukan untuk mundur, tapi untuk melihat apa yang masih bisa dibawa maju.
Bersyukur pada yang pernah membawa kita
Saya jadi merasa, sama seperti motor lama yang dulu dibeli dengan uang dan pernah membawa kita ke banyak tempat, pengalaman dan skill masa lalu juga begitu.
Dulu kita mau belajar itu. Dulu kita mau mengerjakan itu. Dulu mungkin itu juga pernah menghasilkan uang, pernah membentuk cara berpikir kita, pernah menolong kita di fase tertentu.
Jadi rasanya sayang kalau hari ini kita seperti menolak mengakui masa lalu itu hanya karena hidup sudah berubah.
Menurut saya, lebih baik kita bersyukur atas apa yang pernah kita lalui. Lalu kalau masih ada yang bisa dimanfaatkan, ya manfaatkan saja.
Karena tidak semua yang lama harus ditinggalkan. Ada yang justru perlu dirawat, supaya sewaktu-waktu tetap bisa mengantar kita lagi.
Leave a Reply