Akhirnya sampai juga di hari ke-100.
Tiga digit. Seratus hari berturut-turut. Buat sebagian orang mungkin ini kelihatan kecil. Tapi buat saya, tetap ada rasa senang, lega, dan syukur karena bisa sampai di titik ini.
Karena yang dihitung bukan cuma angkanya. Yang dihitung adalah proses untuk bertahan, untuk terus mengingat, terus menulis, terus mencari makna dari hari-hari yang lewat. Dan sampai ke seratus itu cukup untuk membuktikan satu hal: ternyata sesuatu yang awalnya terasa jauh, kalau dicicil terus, bisa benar-benar sampai.
Ada tiga hal yang paling saya rasakan dari perjalanan ini.
1. Karya yang ditunjukkan punya tenaga sendiri
Saya merasa salah satu hal yang membantu perjalanan ini adalah karena karya ini tidak disimpan diam-diam.
Ia dibagikan. Dilihat orang. Mungkin tidak semua orang membaca sampai habis. Mungkin tidak semua orang merespons. Tapi fakta bahwa ada mata yang melihat, ada yang notice, ada yang tahu bahwa saya sedang menjalani ini, ternyata memberi dorongan yang tidak kecil.
Mirip seperti saat kita tahu ada kamera di tempat ramai. Bukan berarti kita jadi palsu, tapi kita jadi lebih sadar pada apa yang kita lakukan.
Kadang semangat berkarya juga begitu. Saat karya itu keluar dari kepala dan dibagikan ke ruang publik, kita jadi punya alasan ekstra untuk menjaga ritmenya. Ada tanggung jawab kecil yang ikut tumbuh. Ada rasa sayang untuk berhenti di tengah jalan.
Jadi kadang yang kita butuhkan untuk konsisten bukan motivasi besar, tapi keberanian untuk memperlihatkan prosesnya.
2. Konsistensi tidak selalu berarti sempurna
Kalau melihat ke belakang, tentu jalannya tidak selalu mulus.
Ada hari-hari ketika saya skip. Ada hari ketika saya telat menulis. Ada masa liburan ketika rasanya jauh dari laptop dan tidak ingin buka apa-apa. Ada juga momen ketika ide itu ada, tapi waktunya tidak ada.
Tapi saya belajar satu hal: konsisten itu tidak harus selalu berarti sempurna.
Kadang yang penting bukan harus selalu ditulis persis di jam yang sama atau dengan kondisi ideal. Kadang yang penting adalah memori harinya tetap disimpan, lalu saat ada waktu, dituliskan. Daripada kehilangan satu hari lalu merasa semuanya rusak, lebih baik tetap diteruskan meski ritmenya sedikit goyang.
Karena kalau sekali ketinggalan lalu dianggap selesai, mungkin saya tidak akan sampai di hari ke-100.
Jadi buat saya, salah satu kunci sampai di sini justru keberanian untuk tetap melanjutkan, bahkan ketika bentuknya tidak serapi yang dibayangkan.
3. Tantangan terbesarnya adalah repetisi
Tantangan yang cukup terasa setelah puluhan hari adalah soal cerita yang mulai terasa mirip.
Kadang saya juga lupa, ini sudah pernah saya tulis atau belum. Kadang ada satu hari yang idenya banyak sekali, lalu saya tahan sebagian untuk besok. Tapi saat besok datang, rasanya malah mirip lagi. Ada perulangan, ada pola yang sama, ada tema yang berdekatan.
Dan menurut saya itu wajar.
Karena ini memang bukan proyek untuk bikin 300 ide yang sepenuhnya berbeda satu sama lain. Ini proyek untuk merekam hari, menyimpan refleksi, dan menangkap apa yang hidup di kepala pada momen itu. Jadi kalau ada kemiripan, ya mungkin memang karena hidup juga punya pola yang berulang.
Yang penting bukan memaksakan semuanya harus selalu baru secara ekstrem. Yang penting adalah tetap jujur pada hari itu: hari ini ada apa, hari ini saya memikirkan apa, hari ini makna apa yang saya tangkap.
Dari situ, justru kontennya terasa hidup.
Yang perlu dijaga setelah ini
Saya senang bisa sampai di milestone ini.
Seratus hari berturut-turut berkonten itu bukan hal yang mudah. Tapi justru karena sudah sampai di sini, saya merasa angka berikutnya jadi lebih mungkin. Kalau bisa sampai 100, harusnya 200 juga mungkin. Kalau bisa sampai 200, satu tahun penuh juga bukan sesuatu yang mustahil.
Tinggal bagaimana polanya terus dijaga. Tinggal bagaimana saya terus peka pada hal-hal kecil yang bisa diolah jadi refleksi. Tinggal bagaimana saya tidak berhenti menangkap kehidupan sehari-hari sebagai bahan berpikir.
Karena ternyata, kadang yang perlu dijaga bukan ide besarnya dulu.
Cukup kebiasaan kecilnya.
Leave a Reply