Hari 98: Tetap Relevan dengan Teknologi

Hari ini sebenarnya berjalan seperti biasa. Meeting seperti biasa, kerjaan juga seperti biasa.

Tapi di ujung hari, saya iseng mengulik satu fitur baru di WhatsApp. Sebenarnya mungkin bukan benar-benar baru secara umur fitur, karena setelah saya cek ternyata sudah ada. Saya saja yang baru sadar. Fitur itu adalah chat audio, yang rasanya mirip seperti space di Twitter, tapi dibawa ke konteks WhatsApp.

Dari hal kecil itu, saya jadi kepikiran satu hal yang lebih besar: bagaimana kita, termasuk yang mungkin sudah merasa cukup senior, tetap mau mengulik teknologi supaya tetap relevan dengan hal-hal baru yang terus muncul.

Karena hidup terus bergerak. Teknologi juga terus bergerak. Dan sering kali yang membuat kita tertinggal bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita sudah berhenti penasaran.

Ada tiga catatan yang saya bawa hari ini.

1. Jangan menutup diri

Menurut saya, salah satu bahaya setelah punya pengalaman cukup banyak adalah merasa tidak perlu update.

Kita merasa sudah senior, sudah banyak jam terbang, sudah tahu banyak hal. Padahal hidup terus dipenuhi oleh hal-hal baru yang sebelumnya belum ada. Kalau kita menutup diri, kita bisa pelan-pelan kehilangan relevansi.

Bukan berarti semua teknologi baru harus langsung kita pakai. Tapi setidaknya jangan buru-buru menolak hanya karena kita belum akrab. Siapa tahu justru ada alat yang bisa sangat membantu pekerjaan kita ke depan.

Kadang masalahnya bukan teknologinya tidak berguna, tapi kita keburu tidak mau kenalan.

2. Teknologi seharusnya dimanfaatkan

Ada juga orang yang terlalu cepat memusuhi teknologi. Seolah-olah teknologi datang untuk melawan kreativitas, menggantikan manusia, atau membuat semuanya jadi tidak otentik.

Menurut saya, sudut pandang itu terlalu sempit.

Teknologi dari dulu sampai sekarang diciptakan untuk memudahkan. Dan ruang kreativitas manusia justru ada pada bagaimana kita memanfaatkannya. Bukan sekadar menolak atau mengeluh, tapi melihat: ini bisa dipakai untuk apa, ini bisa mempercepat bagian mana, ini bisa membuat pekerjaan jadi lebih efisien di titik yang mana.

Kalau kita hanya kontra, yang keluar cuma emosi. Tapi kalau kita mau memanfaatkan, yang muncul bisa jadi solusi.

Dan sering kali, teknologi tidak mengurangi kreativitas. Justru bisa memperbesar dampaknya.

3. Jangan berhenti eksplorasi

Pelajaran ketiga, jangan cuma jadi penonton.

Kadang kita melihat orang lain memakai teknologi atau fitur tertentu, lalu kita berkomentar dari luar. Kita bilang itu biasa saja, tidak terlalu penting, atau terasa tidak ada manfaatnya. Padahal kita sendiri belum benar-benar mencoba.

Menurut saya, eksplorasi itu penting. Karena saat kita mencoba sendiri, kita mulai paham kekuatan dan keterbatasannya. Kita jadi bisa menilai dengan lebih adil, sekaligus menemukan kemungkinan yang mungkin tidak dilihat orang lain.

Bisa saja fitur yang bagi orang lain terasa biasa, di tangan kita justru punya manfaat yang lebih besar. Karena teknologi itu pada akhirnya tetap alat. Nilainya sangat bergantung pada siapa yang memakai dan bagaimana dia menggunakannya.

Jadi kadang yang perlu ditingkatkan bukan teknologinya dulu, tapi kemauan kita untuk bereksperimen.

Tetap adaptif di zaman yang berubah

Dari hal kecil seperti mengulik fitur chat audio tadi, saya jadi diingatkan bahwa relevansi itu tidak datang otomatis hanya karena kita sudah lama bekerja atau sudah punya pengalaman.

Relevansi tetap perlu dirawat.

Kita perlu terus membuka diri, memahami teknologi, memperbarui cara berpikir, dan mau mencoba hal-hal yang tersedia. Karena di zaman yang berubah cepat, kemampuan untuk tetap adaptif itu bisa jauh lebih penting daripada sekadar merasa sudah berpengalaman.

Dan kalau kita bisa mendekati teknologi dengan pikiran terbuka, manfaatnya bisa sangat besar. Bukan cuma supaya tidak ketinggalan, tapi supaya apa yang kita kerjakan juga bisa jadi lebih efektif, lebih luas, dan lebih relevan.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *