Hari 97: Interview Bagus, Kerja Belum

Hari ini saya kepikiran satu pertanyaan yang cukup sering muncul saat mengelola orang: kenapa ada kandidat yang saat interview terasa bagus sekali, tapi ketika sudah bekerja hasilnya tidak sesuai prediksi?

Ini bukan pertanyaan yang asing. Kadang kita bertemu orang yang portofolionya meyakinkan, pengalamannya terlihat relevan, cara bicaranya rapi, dan saat interaksi awal terasa punya bekal yang cukup. Kita merasa, minimal orang ini akan bisa jalan.

Tapi begitu masuk ke pekerjaan sehari-hari, lalu kita lihat hasilnya, kok rasanya biasa saja. Bahkan kadang tidak sesuai dengan kesan awal.

Menurut saya, ada beberapa sudut pandang yang bisa membantu membaca hal ini.

1. Ekspektasi kita terlalu tinggi

Kadang masalahnya bukan semata-mata pada orangnya, tapi pada ekspektasi kita yang sudah keburu terlalu tinggi.

Saat melihat kandidat yang terasa menjanjikan, kita mudah sekali menaikkan bayangan. Kita merasa orang ini akan cepat nyetel, cepat bagus, cepat memberi hasil. Akhirnya ketika performanya ternyata tidak seburuk itu tapi juga tidak setinggi harapan kita, rasanya drop sekali.

Padahal bisa jadi masalahnya ada di jarak antara realita dan ekspektasi.

Mungkin yang perlu dijaga sejak awal adalah standar harapan yang tetap sehat. Jangan terlalu rendah, tapi juga jangan terlalu tinggi. Karena dalam proses bertemu orang baru, selalu ada kemungkinan bahwa dia tetap bisa gagal, tetap bisa lambat beradaptasi, atau tetap butuh waktu lebih lama dari yang kita kira.

Apalagi lingkungan kerja, tekanan kerja, dan budaya kerja sekarang bisa saja sangat berbeda dari pengalaman dia sebelumnya.

2. Interview dan kerja itu dua hal berbeda

Hal kedua, ada orang yang memang pandai saat interview.

Bukan berarti dia bohong. Tapi dia bisa sangat baik dalam menjelaskan dirinya, menyusun narasi, menunjukkan sisi terbaiknya, dan menutup kekurangannya dengan cukup rapi. Di ruang interview, itu bisa terlihat sangat meyakinkan.

Masalahnya, pekerjaan sehari-hari bukan lagi soal menyenangkan orang yang mewawancarai.

Pekerjaan adalah soal tanggung jawab, konsistensi, paperwork, menyelesaikan hal yang membosankan, menjalankan proses yang berulang, dan tetap deliver meskipun suasananya tidak selalu ideal. Itu jenis kemampuan yang berbeda.

Jadi sangat mungkin ada orang yang jago menjual dirinya saat interview, tapi belum tentu sekuat itu saat harus mengerjakan tanggung jawab nyata setiap hari.

3. Kita harus menilai dengan parameter yang tepat

Menurut saya, ini mungkin bagian yang paling penting.

Kalau mau menilai apakah seseorang benar-benar bagus atau tidak, kita perlu pakai parameter yang tepat. Jangan hanya melihat hasil akhir tanpa membaca prosesnya.

Karena hasil akhir sering dipengaruhi banyak variabel lain. Ada faktor tim, ada faktor sistem, ada faktor arahan, ada faktor lingkungan, ada faktor atasan, dan ada faktor kondisi yang tidak selalu sepenuhnya dipegang oleh si orang ini.

Maka yang lebih penting untuk dipegang adalah: bagaimana proses dia setiap hari?

Apakah cara kerjanya rapi? Apakah kualitas usahanya baik? Apakah dia responsif? Apakah dia belajar? Apakah dia mengeksekusi tugas dengan benar? Apakah dia bisa diandalkan di hal-hal yang memang menjadi tanggung jawabnya?

Kalau kita tidak punya parameter yang jelas, penilaian kita bisa kabur. Kita cuma merasa orang ini kurang aktif, kurang terasa kontribusinya, atau kurang nyetel. Padahal kalau dibaca lebih rinci, bisa jadi kualitas kerjanya sebenarnya tidak buruk-buruk amat.

Hiring memang masih menebak

Ada satu kalimat yang cukup menggambarkan ini: hiring is guessing, firing is understanding.

Saat merekrut orang, kita memang masih banyak menebak. Waktu kita pendek, sesi interview mungkin hanya 30 menit, tes juga bisa diakali, dan kita belum tahu orang ini secara utuh. Jadi selalu ada unsur gambling di sana.

Sebaliknya, ketika sampai pada keputusan untuk melepas orang, biasanya itu lahir dari pemahaman yang lebih utuh. Kita sudah melihat interaksinya, tahu pola kurangnya, tahu dampaknya, dan punya parameter yang lebih jelas untuk menilai.

Jadi mungkin memang wajar kalau prediksi hiring kadang meleset.

Karena interview memberi kita kesan. Tapi pekerjaan memberi kita kenyataan.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *