Hari ini saya kejar konten yang sempat lewat satu hari. Kemarin rasanya kejar-kejaran, ditutup nonton bola, lalu harus tidur. Akhirnya satu hari kelewat. Pagi ini saya tebus.
Refleksi hari ke-69 saya sederhana: yang paling dekat, justru sering jadi yang paling banyak berkorban.
Saya membayangkan situasi yang umum: di satu keluarga ada tamu datang, lalu keluarga yang tinggal di rumah jadi “mengalah” untuk tamu. Di titik itu, yang paling dekat bisa bertanya, “kok tamu justru dikasih lebih?”
Saya mencoba memahami kenapa ini sering terjadi, dan saya menemukan tiga alasan.
1) Karena orang terdekat toleransinya lebih tinggi
Orang terdekat dianggap lebih paham dan lebih bisa menerima. Karena sudah kenal, akrab, dan ada sejarah bersama, maka toleransinya diasumsikan tinggi.
Akhirnya mereka jadi sasaran pertama untuk “mengalah”, karena dalam pikiran kita:
“tidak apa-apa, nanti juga bisa dimengerti.”
Dan kalau pun tersakiti, kita merasa minta maafnya lebih mudah, memperbaikinya lebih mungkin.
Masalahnya, toleransi yang tinggi tidak berarti tidak punya batas.
2) Karena orang terdekat adalah zona aman dan nyaman
Orang luar sering membuat kita tegang: kita harus menjaga sikap, menjaga kata-kata, menahan diri supaya situasi tetap kondusif. Ada energi sosial yang harus dikeluarkan.
Sementara orang terdekat adalah zona nyaman. Kita merasa mereka “akan menerima”, sehingga kita cenderung membiarkan mereka menanggung ketidaknyamanan—sementara kita mengelola kenyamanan untuk pihak luar.
Tanpa sadar, kita memberi versi terbaik kita pada orang luar, dan memberi versi lelah kita pada orang rumah.
3) Karena konflik dengan orang terdekat terasa lebih “terukur”
Dengan orang terdekat, kita sudah sering bertemu konflik kecil: beda pendapat, salah paham, emosi naik turun. Kita merasa konflik di dalam itu bisa diprediksi, bisa dipulihkan, dan kita tahu pola damainya.
Sementara konflik dengan orang luar terasa tidak terukur. Kita tidak tahu dampaknya bisa sejauh apa, dan kadang kita takut salah langkah. Maka kita cenderung memilih “mengalahkan yang sudah pasti aman”: orang terdekat.
Padahal, yang aman bukan berarti pantas terus-menerus menanggung.
Penutup
Dulu saya mengira orang terdekat adalah pihak yang paling dipilih, paling disayang, paling dijaga. Ternyata dalam banyak situasi, orang terdekat justru yang paling sering dikorbankan: lebih banyak mengerti, lebih banyak menerima, lebih banyak menahan.
Buat saya, ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini pengingat: kedekatan bukan alasan untuk melonggarkan empati. Justru karena dekat, kita harus lebih sadar untuk adil.
Dan mungkin, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah membicarakan ini baik-baik—supaya tidak tumbuh iri, tidak tumbuh salah paham, dan tidak tumbuh luka yang dianggap remeh hanya karena “kita kan dekat.”
Leave a Reply