Hari 57: Sulitnya Mencari Metrik yang Pas

Ini sebenarnya keresahan yang mulai kebentuk sejak hari ke-50: sulitnya mencari metrik yang pas untuk mengukur kerjaan.

Setelah hampir sebulan dalam pencarian, kita tak kunjung juga menemukan metrik yang benar-benar bisa dipakai untuk nge-track kerjaan kita. Mungkin karena referensi baru yang belum kita lakukan, jadi rasanya lebih sulit daripada sebelumnya. Padahal tahun kemarin kita masih punya pengukuran yang “banyak informasi”-nya.

Akhirnya saya catat tiga pelajaran dari fase nyari metrik ini.


1) Sulit kalau kita menjadikan lag metric sebagai ukuran utama

Lag measure itu metrik masa lalu. Revenue yang sudah terjadi. Follower yang sudah bertambah. Reach yang sudah lewat. Angka-angka yang baru kelihatan setelah kita kerja dulu seminggu, sebulan, baru bisa menilai “ini benar atau salah”.

Masalahnya, ini bikin celah besar:
evaluasinya baru terjadi setelah semuanya kejadian.

Itu juga yang bikin Desember kemarin terasa mengecewakan: kita baru sadar “ada yang kurang” ketika bulan sudah selesai. Makanya kita pengen punya ukuran yang bisa dipantau sejak Januari, sejak Senin pertama, sejak bulan pertama jalan.

Bukan berarti lag metric nggak penting. Tapi kalau itu satu-satunya kompas, kita selalu telat belok.


2) Lead measure harus predictable (punya hubungan ke hasil akhir)

Pelajaran kedua: lead measure itu harus punya semangat “predictable”.

Artinya metriknya harus benar-benar punya hubungan ke hasil akhir. Bukan sekadar “yang penting selesai”, “yang penting ada”, atau “yang penting sibuk”.

Karena kita sering kejebak pada kerjaan yang rasanya penting tapi dampaknya nggak signifikan.

Kalau lead measure-nya tepat, biasanya polanya terasa:
kalau intensitasnya naik, hasil akhir ikut terdorong. Kalau konsisten, hasil akhir ikut konsisten.

Jadi bukan cuma kerja keras, tapi kerja yang ngungkit.


3) Lead measure harus influenceable/controllable

Pelajaran ketiga: lead measure itu harus bisa kita pengaruhi—bisa kita kontrol.

Karena banyak hal eksternal yang nggak bisa kita pegang: kliennya gimana, customer-nya gimana, user-nya gimana. Itu terlalu banyak variabel.

Yang bisa kita kontrol cuma diri kita sendiri dan sistem yang kita jalankan.

Jadi ukuran yang sehat itu adalah ukuran yang:

  • bisa kita lakukan setiap hari/minggu,
  • bisa kita modifikasi dari sisi kita,
  • bisa kita lihat perubahannya tanpa harus menunggu pihak lain berubah dulu.

Biar kita punya “tuas” yang bisa kita tarik, bukan cuma angka yang kita tunggu.


Penutup

So, ini catatan saya untuk akhir bulan.

Pekan kerjaan satu bulan ini mungkin belum selesai menemukan “metrik paling pas”. Tapi saya bangga: kita maju satu langkah.

Daripada cuma merekam lag measure yang seperti spion—yang kasih tahu setelah lewat—kita lagi merancang, mencoba, menginisiasi, menggagas: parameter baru yang bisa kita kontrol harian/mingguan, supaya kita bisa tahu lebih cepat apakah kita sudah baik atau masih belum.

Sampai jumpa besok.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *