Hari 44: Budaya Itu Bukan Jargon

So, hari ke-44 ini udah delay 13 jam dari target. Tapi nggak apa-apa ya. Tadi malam ketiduran, pagi belum sempat juga.

Saya mau cerita yang terjadi kemarin. Kita diskusi tentang culture—budaya—dan menariknya, budaya ini dibahas sebagai solusi atas permasalahan, bukan sekadar slogan.

Ada tiga hal yang saya bawa pulang dari diskusi ini.


1) Awalnya saya pikir budaya itu alat untuk menilai “benar atau tidak”

Di awal, saya membayangkan budaya itu bisa jadi perangkat penilaian yang clear.

Orang-orang yang berkumpul dalam organisasi itu perlu pendekatan bersama: kita mau pakai approach A atau approach B. Budaya bisa jadi parameter yang memudahkan.

Kalau ada orang yang tidak menjalankan budaya, dia akan terlihat aneh, terlihat “nggak pada tempatnya”. Dari sisi manajemen, ini kelihatan enak: jadi ada standar, jadi ada rambu.

Budaya jadi semacam kompas: yang nyimpang kelihatan.


2) Tapi ternyata yang lebih penting: budaya itu harus lahir dari masalah yang nyata

Yang kedua, ternyata tujuan yang lebih masuk akal bukan langsung “aturan do and don’t”.

Justru budaya itu lebih kuat kalau dibangun dari pertanyaan:
masalah apa yang ingin kita selesaikan?

Bukan budaya yang hanya bagus di kata-kata, tapi budaya yang ngejawab hambatan produktif:

  • apa yang bikin kerjaan kita seret?
  • apa yang bikin komunikasi kita sering miss?
  • apa yang bikin eksekusi mandek?
  • apa yang bikin tim capek tapi nggak maju?

Kalau budaya lahir dari masalah, dia jadi alat problem-solving.
Dia bukan cuma jargon di dinding, tapi cara pandang yang dipakai orang untuk mengambil keputusan dan mengatasi friksi.

Dan di situ saya merasa: budaya yang bagus itu bukan yang terdengar indah, tapi yang terasa berguna.


3) Budaya itu bukan tempelan. Dia harus tumbuh dan kelihatan di antara orang-orang

Yang ketiga, ini yang paling sering dilupakan: budaya itu bukan satu kalimat yang ditempel di dinding.

Budaya harus tumbuh, nampak, dan jadi sesuatu yang hidup di antara ruang-ruang kita:

  • kelihatan dari cara orang bicara,
  • kelihatan dari cara orang menyelesaikan konflik,
  • kelihatan dari cara orang ngasih feedback,
  • kelihatan dari cara orang ambil keputusan,
  • kelihatan dari cara orang menolong tim lain.

Dan untuk sampai budaya itu terlihat, kita bisa pakai dua arah:

  • top-down (ditunjukkan oleh leader, ditegaskan dalam keputusan),
  • bottom-up (dibiasakan dari praktik sehari-hari, dari antar rekan).

Intinya: budaya itu harus bisa “dilihat”, bukan hanya “disebut”.


Penutup

So, tiga hal yang saya dapat:

  1. budaya bisa jadi parameter benar-salah,
  2. tapi yang lebih penting: budaya harus lahir dari masalah nyata sebagai solusi,
  3. dan budaya harus hidup—tumbuh dan terlihat di antara orang.

Telat 13 jam nggak apa-apa. Yang penting konsistennya dikejar.

Sampai jumpa besok.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *