Ya, hari ke-43. Kemarin siang saya buka satu entry problem yang sering muncul di perusahaan: ada tim yang “decision” ke manajernya. Manajernya sibuk. Timnya nunggu. Ketika saya diskusikan, ada yang jawab: “ya menunggu.”
Saya punya jawaban yang menurut saya lebih benar.
Bukan karena saya lebih galak. Tapi karena kalau jawabannya “menunggu”, kita sedang menerima satu hal: pekerjaan lain akan berhenti cuma karena keputusan belum turun.
Saya tarik jadi tiga poin.
1) Kalau manajer sibuk ambil keputusan, itu justru tanda dia sedang mengerjakan tugas utamanya
Ada satu hal yang manajer punya dan staff tidak punya: otoritas + konteks utuh.
Makanya, mengambil keputusan dan memberi arahan itu harus jadi prioritas paling tinggi. Bukan kerja sambilan, bukan “nanti kalau sempat”.
Kalau manajer memilih sibuk dengan hal lain, lalu keputusan tidak diambil, arahan tidak diberikan, hasilnya jelas: kerjaan tim berhenti. Koordinasi berhenti. Orang nunggu.
Jadi saya malah sepakat: manajer memang harus “sibuk” di decision—dan itu harus dianggap kerja serius, bukan dianggap gangguan.
Kadang keputusan itu rasanya kecil. Tapi dampaknya besar: satu keputusan telat bisa bikin 5 orang idle dalam satu hari.
2) Tugas manajemen itu harus dipilah: mana yang “urgent & cuma saya yang bisa”, mana yang bisa diatur waktunya
Masalahnya bukan manajer punya banyak kerjaan. Masalahnya: prioritasnya kebalik.
Manajer itu pasti punya banyak task:
- review,
- evaluasi,
- hiring,
- koordinasi,
- supporting tim,
- dan yang paling bikin sistem bergerak: decision.
Di sini penting membedakan:
- mana yang under control (bisa dikerjakan kapan saja, dampaknya tetap terukur),
- mana yang urgent dan cuma manajer yang bisa menyelesaikan.
Kalau urgent yang “cuma manajer” ini tidak diprioritaskan, timeline jadi mundur semua. Bukan karena tim lambat, tapi karena jalurnya jadi satu pintu.
Dan kalau satu pintu itu macet, orang-orang di belakangnya jadi antrian.
Saran praktisnya simpel: manajer perlu “ruang keputusan” yang jelas di harinya. Bukan supaya hidupnya enak, tapi supaya timnya jalan paralel, bukan serial.
3) Pekerjaan individual harus makin kecil porsinya ketika kita jadi manajer (biar bisa standby)
Poin terakhir: pekerjaan-pekerjaan yang hanya kita yang tahu, hanya kita yang bisa, pekerjaan individual.
Kalau kita manajer—punya staff, punya koordinasi lintas divisi—porsi kerja individual yang besar itu kontraproduktif.
Karena fungsi besar manajer itu bukan “jadi orang paling sibuk”, tapi jadi orang yang tersedia.
Standby itu bukan berarti nganggur. Standby itu berarti siap dijawil untuk:
- tanda tangan,
- keputusan,
- arahan,
- koordinasi,
- dan problem yang kalau telat, jadi besar.
Saya selalu ingat gambaran sederhana: kepala cabang bank, kepala toko—mereka mungkin punya kerjaan, tapi mereka terlihat “ada”. Dibutuhkan, bisa ditemui. Bukan tenggelam di kerjaan sendiri sampai semua orang nunggu.
Kalau pekerjaan individual masih besar, solusinya ya jelas: delegasikan, tunjuk PIC, atau kalau memang perlu, hire. Supaya manajer kembali ke fungsi utamanya: membuat sistem bergerak.
Penutup
Jadi kalau ada masalah “tim nunggu manajer”, jawabannya bukan “ya menunggu”.
Jawabannya adalah membenahi fungsi manajer:
- keputusan dan arahan itu tugas utama,
- pilah kerjaan manajer: urgent-cuma-saya vs yang bisa diatur,
- kecilkan kerja individual supaya bisa standby dan jadi penggerak paralel.
Karena organisasi kecil itu mirip startup: kalau keputusan telat, semua ikut telat.
Sampai jumpa besok.
Leave a Reply