Semua hari ke-39. Seperti biasa, masih dalam rangka menamatkan satu buku dalam satu minggu.
Buku kali ini adalah buku kelima yang saya baca dalam pola ini: The 4 Disciplines of Execution (Chris McChesney, Sean Covey, Jim Huling).
Ini bukan buku baru. Tapi buat saya ini buku yang menarik banget karena biasanya buku bisnis ngajak kita ngomongin strategi: “gimana caranya bisnis berhasil, gimana polanya, gimana framework-nya.”
Buku ini beda. Dia ngomongin hal yang sering kita skip: eksekusi.
Strategi mah nyaman. Presentasi strategi juga nyaman.
Tapi eksekusi… itu yang menentukan. Dan sering kali itu yang hilang.
BTW saya menyelesaikan buku ini lumayan ekstrem. Cover “seminggu”, tapi sebenarnya dua hari:
- hari pertama 70 halaman,
- hari kedua saya baca 2 jam, tidur lalu baca lagi 1,5 jam, lalu lanjut sampai selesai jam 04.45 pagi.
Cover seminggu? iya. Cara cover-nya? ya begitulah 😄
Ada tiga takeaway yang paling nempel buat saya.
1) “Whirlwind” — angin puting beliung yang bikin strategi nggak jalan
Istilah yang paling saya ingat dari buku ini adalah whirlwind (angin puting beliung).
Maksudnya: kita boleh punya rencana, strategi, goal.
Tapi hidup itu “berputar”: meeting, rutinitas, problem harian, urgensi dadakan, hal-hal yang kalau nggak diselesaikan akan jadi masalah berkepanjangan.
Dan yang menarik: awalnya kita merasa kita akan selalu bisa menjalankan strategi itu. Ternyata tidak.
Rutinitas harian itu bukan “gangguan kecil”. Itu hal yang memang sama pentingnya, dan dia punya daya hisap besar: dia bisa menelan fokus, menelan energi, menelan waktu.
Jadi bukan berarti strategi kita jelek. Kadang strategi kita nggak jalan karena kalah sama puting beliung yang tiap hari datang.
Kalau kita nggak punya sistem untuk jalan di tengah whirlwind, strategi akan jadi ide bagus yang selalu tertunda.
2) Empat disiplin ini kelihatan sederhana… karena memang harusnya sesederhana itu
Buku ini menjelaskan 4 disiplin eksekusi yang sebenarnya masuk akal banget:
- Fokus (pilih yang benar-benar penting)
- Cari pengungkit (bukan cuma targetnya, tapi tindakan yang mendorong target)
- Tracking dengan scorecard (biar kelihatan, bukan sekadar merasa)
- Accountability (komitmen rutin, dicek tiap minggu)
Yang saya suka: mereka menekankan bukan cuma “goal”-nya, tapi caranya yang benar-benar dilakukan. Jadi bukan sekadar: “kita mau sampai sana.” Tapi: “minggu ini kita melakukan apa yang mendorong sampai sana?”
Terus scorecard itu penting karena kita sering merasa sudah kerja keras, tapi nggak tahu dampaknya. Dengan scoreboard, kita bisa lihat: ini beneran dorong hasil atau cuma bikin capek.
Dan bagian yang paling saya merasa “ini yang sering bocor”: accountability level tinggi.
Jujur, bikin target saya bisa. Bikin metrik juga bisa.
Tapi accountability yang konsisten itu yang membedakan strategi yang jadi realita vs strategi yang jadi poster.
Mereka menyebutnya sesi mingguan: WIG session (weekly meeting untuk Wildly Important Goal). Di situ dicek:
- minggu lalu komitmennya apa,
- kejadian apa,
- minggu ini komitmennya apa,
- dan kalau nggak works, harus cari cara baru.
Ini yang bikin eksekusi jadi nyata, bukan cuma perasaan.
3) “Install”-nya nggak sesederhana kelihatannya (dan buku ini jujur soal itu)
Takeaway terakhir: menerapkan ini di perusahaan itu ternyata nggak sederhana.
Buku ini panjang menjelaskan proses instalasinya:
- orangnya disiapkan,
- tool dan opsinya disiapkan,
- harus ada curah pendapat,
- bukan cuma top-down tapi juga bottom-up,
- harus open terhadap masukan,
- dan perlu konsistensi sampai kebentuk kebiasaannya.
Saya suka karena buku ini nggak jualan “framework cepat jadi”. Dia realistis: sistem eksekusi itu perlu dipasang pelan-pelan, dan butuh energi yang serius.
Dan buat saya, buku ini bisa jadi fondasi buat sistem eksekusi di perusahaan. Karena ini menjawab problem yang sering banget terjadi:
“kok kita udah punya target, udah punya KPI/OKR, tapi nggak achieve ya?”
Kadang jawabannya bukan “strateginya kurang.”
Tapi “prosedur eksekusinya belum dipasang sampai jadi kebiasaan.”
Dan ini nggak cuma soal kantor. Ini juga soal target diet, target olahraga, target apa pun. Prinsipnya sama: niat itu gratis, sistem itu yang mahal.
So, itu aja. Buku yang menarik banget.
Semoga saya bisa konsisten baca buku lagi minggu depan.
Sampai jumpa besok.
Leave a Reply