Ben Robani Blog

9. Mengapa terbuka justru membuat kepercayaan meningkat?

Hubungan seseorang dengan yang lain dimulai dengan kepercayaan. Apalagi yang menyangkut perpindahan satu hal milik satu orang bertukar dengan hal milik orang lain. Ambil contoh, jika kita ingin bertransaksi kita harus percaya bahwa yang kita bayarkan sepadan dengan barang yang diterima. Mau barang mewah atau semurah apapun prinsipnya sama. Tidak ada yang ingin apalagi mau ditipu.

Sama dengan tempat bekerja. Perusahaan tentu memiliki alasan, resep dapur, sejarah kelam yang memang disimpan rapat-rapat. Walaupun kalau boleh memilih, tentu saja kita kalau diberi akses untuk melihat proses produksinya tentu kita jadi makin percaya. Itu mengapa beberapa iklan produk tertentu memang beneran shooting di pabriknya, pamer teknologi, pamer higienitas agar orang menjadi percaya kualitas dan produknya dan akhirnya membeli.

Dari segi internal, perusahaan dan karyawan, ternyata sama. Makin banyak hal yang tidak jelas justru yang muncul adalah kecurigaan, menerka, apalagi manusia basic-nya berprasangka buruk. Namun ketika pemilik perusahaan mau bercerita tentang kenapa semua ini terjadi, produk yang dibuat, aturan yang mengikat, sasaran yang dilihat, ketika semua disampaikan secara terbuka ternyata membuat karyawan merasa istimewa.

Bukankah dalam kehidupan sosial kita begitu. Ada masalah yang kita sebut rahasia lalu kita hanya sebar pada yang percaya dengan kita. Ketika kita membisikan, ini rahasia, jangan sampai yang lain tahu. Kita sudah tau akhirnya. Pasti tersebar. Tapi sebagai pihak pertama, penerima info A1 pasti orang ini bukan sembarangan. Minimal kita percaya. Dan orang yang kita ajak bicara, ternyata dia juga percaya dengan kita. Percaya cerita kita. Buktinya disebar juga, bukan.

Jabungan, 24 Januari
Tabik
Ben
9/350

Exit mobile version