Ben Robani Blog

6. Mengapa apa yang kita pikirkan, kita sampaikan dan yang diterima orang berbeda?

Orang memakai waktunya untuk menangkap informasi dan data yang disimpan di otak lalu diolah menjadi pengetahuan. Lalu apa yang kita tahu inilah yang menjadi bahan perbincangan dengan orang lain. Kita mencoba menyampaikan apa yang kita tahu ini agar orang lain menangkap dan akhirnya ada respon yang sesuai. Tetapi nyatanya tidak semudah itu proses panjang ini benar-benar terjadi.

Saya sering mengalaminya. Mulai dari sulit menangkap informasi, memahami. Sulit dalam mengungkapkan, menyampaikan. Dan yang di luar diri saya, membuat objek teman ngobrol jadi menerima dengan sesuai. Pernah suatu waktu saya mencoba dengan memberikan perintah, instruksi, ternyata ketika dikerjakan kok jauh beda dari yang saya katakan.

Informasi yang tumpah ruah masuk ke akal kita, kadang membuat semua meluap berbarengan ketika dikeluarkan. Maka kita memang harus benar-benar punya gudang arsip di kepala. Ingat adegan Sponge Bob yang mencari-cari informasi di kepala, digambarkan ada lemari berlaci-laci yang dicari satu per satu. Sampai kebakaran.

Kita bisa mengingat sesuatu lalu membuat pin, label pada peristiwa ilmu yang datang pada kita. Lalu kita siapkan hal-hal tersebut ketika memang dibutuhkan. Kita olah pikir, memancingnya dengan kata kunci, lalu bekas ingatan peristiwa itu muncul, lalu kita bisa pilih mana-mana yang bisa dikeluarkan. Seketika muncullah hal-hal yang memang siap santap.

Tentu saja faktor eksternal tentang siapa yang kita ajak omong, gimana tingkat pendidikan, pengalaman hidup, latar belakang, sampai substansi yang kita mau omongkan dan relatibilitas, kenyambungan gagasan dari kita. Belum bagaimana kita menyampaikannya, orang yang ngomongnya cepet kaya saya, kadang tak disadari sebagai alasan ketidakpahaman.

Lalu cara singkat yang biasa saya pakai untuk menjaga kepahaman pesan, adalah dengan memvalidasi, mengkonfirmasi apa saja yang saya sampaikan. Daripada beralinea dan gagal paham, mending per kata-istilah, per kalimat saya terus pastikan lawan bicara mudeng. Selain itu menyederhanakan konsep dengan perandaian yang lebih sederhana yang lebih relate.

Jabungan, 21 Januari
Tabik,
Ben
6/350

Exit mobile version