Ya, saya (Miftachurrobani) mewakili LindungiHutan untuk dipilih di antara tiga kandidat lain dalam helatan SATU INDONESIA Award oleh ASTRA, apa saja yang saya pelajari dari kejadian ini, mari kita mulai dengan kronologisnya:
Hasilnya Saya Kalah Telak
Ya, saya jumping ke endingnya dulu. Pagi hari di minggu (27/10) saya dikirimi oleh rekan dan mengecek sendiri bahwa perolehan suara untuk saya mencapai 426 sedangkan pemuncak klasemen mengumpulkan 628. Sama sebelum saya tidur malamnya. Dan ketika siang hari saya coba vote, memang sudah ditutup dan tak bisa vote lagi. #AkhirTragis. Engga kok. Kan dipantau juga setiap hari.
Pengumuman Pemilihan Favorit
Mundur seminggu sebelumnya, seperti weekend biasanya saya tidak aktif membuka chat. Namun saya tau ada pihak panitia mengontak saya, saya tak terbaca, sampai Senin saya mendapat selamat dari grup bersama dengan proyek Astra yang mengucapkan selamat sekaligus menautkan link postingan Instagram Satu Indonesia yang berisi pemilihan juara favorit dan hadiah bagi yang melakukan voting. Periode pemilihan sampai tanggal 27 Oktober. https://www.instagram.com/p/DBQ5g9-zFme/
Bukankah Juara Sudah Ditentukan
Saya tidak reaktif terhadap vote tersebut karena seingat saya sewaktu presentasi di depan juri (9/10) lalu, sudah dilakukan penilaian bahkan di rundown tertulis salah satu mata acara adalah diskusi juri yang sepemahaman saya ya diskusi menentukan juara. Maka saya bertanya ke panitia untuk konfirmasi. Jawab panitia sesuai dengan pemahaman saya. Juara ditentukan juri sementara untuk voting ini untuk menentukan juara favorit. Yang sebenarnya saya tidak tahu di awal ada juara ini. Bukankah biasanya juara favorit itu selayaknya juara harapan ya, dikasih ke yang tidak menang saja, atau malah bisa juara ganda: juara umum sekaligus favorit. Saya tidak tau.
Hanya Menunggu
Di awal pembukaan voting saya hanya menunggu. Literally hanya me-refresh halaman vote untuk tahu berapa yang sudah vote. Saat itu hanya ada satu forward-an di grup kerja. Hasilnya waktu itu dari anggota grup 40-an orang vote saya masih 24 vote. Aneh kan. Maka saya reminder ke anak-anak untuk bantu vote. Saat itu suara ketiga kandidat masih sangat kontras. Satu kandidat sudah mencapai 200 sementara yang lain masih lebih kecil dari punya saya.
Favorit Siapa
Waktu saya belum melakukan hal effort, saya hanya memantau grup dan tim berkomentar tentang pakai banyak akun sampai cara canggih lainnya. Saya berseloroh bahwa kita saja ga suka ada orang menang dengan menghalalkan segala cara apalagi dengan mengubah aturan. Lalu kita pakai cara yang sama? Apa beda penghujat dan yang dihujat kalau gitu. Karena judul dari vote ini adalah juara favorit, artinya yang menang memang difavoritkan oleh pemilih. Tapi kalo kita jadi juara favorit dengan suara kita sendiri, betapa Narsistik. Orang di luar sana ga memfavoritkan, kita pura-pura menjadi orang lain yang memfavoritkan. Aduh. Jangan gitu.
Perlombaan Berbeda
Lalu setelah hanya melototi sembari berkala refresh halaman vote, saya terpikir sesuatu. Ini merupakan kompetisi yang berbeda. Sepanjang saya malang melintang di dunia kompetisi bisnis dan semacamnya, sistem penjurian selalu mirip. Kita mengumpulkan proposal, lalu seleksi, masuk TOP sekian, lalu diadu presentasi di depan juri. Kadang selama penjurian mendapat feedback, kadang hanya silent treatment. Tau tau ada yang juara. Tanpa kita tau apa dan kenapa si itu menang si itu kalah. Dan dari banyaknya kompetisi, tentu kami seingat saya selalu kalah, sekali juara harapan. Tapi namanya juara kan hanya satu. Tapi pada pemilihan favorit ini, di versi saya cukup berbeda. Ini bukan adu ide tapi adu banyakan vote dari siapapun. Dan angka vote nya kelihatan. Artinya siapa menang dan kenapa nampak nyata.
Menyusun Strategi
Masuk hari Selasa saya sadari untuk mencoba memenangkan kompetisi favorit ini, saat itu suara saya masih tertinggal jauh. Masih sekitar 50an suara sementara pemuncak sudah masuk 300an suara. Saya bayangkan saya menjadi peserta pilkada jalur independen yang sedang meminta relawannya untuk memberikan KTP sebagai bukti dukungan. Lalu merenunglah saya, apa strategi utama yang dapat membuat orang untuk vote saya. Oke, ajak orang yang memang sudah pasti mau vote, bukan nyebar ke sembarang orang. Setidaknya itu yang saya yakini sebagai plan awal. Karena saya refleksi ke diri sendiri, misal tiba-tiba ada pengumuman atau kabar bahwa si A mau maju pilkada lalu minta KTP, tentu saja kalau saya tidak kenal, tidak percaya, mau dijanjikan apapun juga saya tidak akan memberi suara saya.
Belajar Dari Masa Lalu
Saya secara sadar atau narsistik merasa bagai lebah yang mengambil dan memberi hal-hal baik dimana dia berlabuh. Dari teman sekelas, komunitas sampai grup yang saya gabungi semuanya pasti punya kesan baik tentang saya. Entah saya jadi pemimpin yang dipercaya atau minimal guyonan saya cukup menghibur. Dari sini, muncul pikiran kala itu. Saya menikah di awal fase pandemi 2020, setelah resepsi sederhana dan terbatas tamunya, saya ingin menagih balik kondangan saya selama ini. Maka saya membuat acara sederhana di rumah dan mengundang teman-teman terdekat saja. Teman-teman sekolah, kuliah dan komunitas. Tapi, karena merasa populer saya hanya blast undangan saya di Grup, tanpa japri satu per satu. Hasilnya acara saya sepi bahkan yang hadiri nikahannya juga tak muncul batang hidungnya.
Menjapri Lebih 600 Kontak
Akhirnya saya mulai merancang rencana untuk melakukan japri massal ke semua kontak yang saya punya. Balik ke pemikiran kenapa orang mau mendukung tadi, saya fokus ke orang yang sebenar-benarnya merasa terima kasih karena saya ada interaksi langsung. Maka kloter awal adalah saya japri ke Anak Magang yang kebetulan sejak pandemi kami rutin membuka. Kurang lebih ada 150 atau lebih saya japri. Awalnya yang sekarang sedang magang, saya cuma mention yuk dukung saya. Tapi ke yang lebih senior saya tanya kabar, mendoakan kebaikan baru meminta dukungan. Hasilnya kelihatan works, suara saya naik dari 60 ke hampir 150 suara. Pemuncak masih 300 dan tidak bergerak banyak. Sementara satu kandidat naik perlahan seperti suara saya.
Nostalgia Grup Lama
Pada kamis saya melanjutkan agresi ini karena terlihat jelas hasilnya. Kalau itu anak magang jelas ada relasi kuasa yang kuat sekaligus bayar jasa. Tapi karena belum bisa unggul, saya coba masuk ke klaster berikutnya. Bagaimana jika ke orang yang pernah interaksi dengan saya. Masalahnya keburukan saya adalah saya tidak pernah menyimpan kontak orang mungkin 5 tahun terakhir ini. Akhirnya saya coba telusuri Grup saya, karena pada tampilan Whatsapp yang baru ada pilihan untuk melihat hanya bagian grup saja, mulailah saya scroll ke bawah dan saya geleng-geleng ternyata saya pernah menjadi bagian dari banyak sekali grup-grup itu. Coba dan rasakan pengalaman ini.
Mencoba Dengan Teknologi
Sebelum saya memulai pergerakan, setelah tahu banyaknya grup availble saya mencoba untuk mencari tools barangkali saya bisa dapat nama dan kontak orang di grup dan saya dapat lebih mudah untuk eksekusi. Walaupun tidak ada yang gratis untuk fungsi ini. Tapi trial nya sudah menunjukan saya pernah chat dengan 600an kontak dan kontak yang tersinkron dengan akun kantor ada sekitar 4000. Wow, lebih dari cukup untuk mengalahkan juara bertahan. Jika saya mau approach semua orang. Namun lagi-lagi, bagi yang tidak kenal dan tidak percaya, sebuah chat hanyalah terbaca seperti ajakan MLM.
Memulai Percakapan
Saya sediakan berbagai template tergantung grup yang sedang saya singgahi, di awal karena saya menyapa grup yang ada bau tentang startup, saya buka dengan kabar mereka bagaimana masihkah bertahan atau sudah berpindah pihak sebagai konjungsi saya beri korelasi ber-startup sulit mari bantu saya. Saya japri dengan caption tersebut ke para founder yang saya satu grup atau panitia program bahkan ke mantan karyawan. Dan responnya yang membuat tercengang. Mereka membalas sudah vote dan memberi semangat. Satu yang menarik ada yang respon “chat ini make my day” mungkin beliau refleksi dengan masa lalu struglingnya membangun startup. Semua chat ini, manual dan dipermudah dengan fitur pada hape saya yang memungkinkan untuk paste pada banyak clipboard saya. Akhirnya saya buka grup, scroll ke anggota, mengingat apakah saya kenal, lalu mulai chat, ke bagian paste, paste salam sapa, paste cara vote. Di waktu yang sama pada media dan kanal yang LindungiHutan punya juda sudah dilakukan publikasi. Tetapi ini sulit ditrack hasilnya.
Kembali Ke Teman Lama
Karena tujuh tahun belakang memang saya berkecimpung di dunia startup maka sepertinya saya mengirim pesan ke lebih 200 kontak untuk kategori ini. Dan suara saya naik signifikan, mulai menyalip posisi tiga dengan 177 suara dan mendekati pemuncak dengan 327 suara. Sementara pesaing terdekat naiknya tidak main karena sudah melampaui pemuncak sebelumnya. Lalu saya melanjutkan strategi pada Jumat dengan menggalang suara ke grup alumni. Dari SMP, SMA, Kuliah S1, S2, saya merasa kalau saya punya peran. Maka mulailah saya bergerilya dengan chat satu per satu. Dan responnya sangat positif, sebagaimana dulu kita berinteraksi. Dua teman di masa lalu ternyata bekerja di Semen-semen dan you know semen dan alam gimana. Kesempatan.
Kontak Lama
Kebiasaan lima tahun belakangan ini saya hanya melakukan chat dengan menyebut nama jadi ketika saya ingin mencari siapa orang itu saya ketikan nama dan asal instansi. Dan saya tidak save kontak. Karena kalau kontak disave tapi tidak dichat kadang mubazir dan menuh-menuh kontak saja. So, strategi selanjutnya adalah saya membuka kontak lama saya. Mereka yang saya simpan kontaknya berarti punya interaksi lebih dari lima tahun lalu. Saya coba ingat-ingat namanya karena kebanyakan nama tanpa konteks, lalu coba saya kirim pesan. Kebanyakan positif, hanya ada satu chat negatif yang malah bikin kepikiran. Nanti di bagian benefit saya lanjutkan. Suara dua peserta sudah tidak bergerak, sang pemimpin seblumnya di 327 dan yang bontot di 177. Tinggal punya saya di 380an tertinggal 200 suara ke pemimpin terbaru. Saya kagum sih dengan pergerakan pemimpin ini, benar-benar saya menambah satu suara tapi beliau menambah dua-tiga suara di waktu yang sama.
Nekat Ke Grup
Strategi terakhir untuk Malam Minggu adalah saya menahan rasa malu dan ga enakan saya untuk post ke grup-grup WhatsApp yang saya ikuti. Kenapa saya malu, simple karena saya tidak suka saya-centris di grup yang kadang ga relevan. Apalagi grup yang pasif, grup lama dan isinya kebanyakan spam. Yang seperti itu biasa ga dibaca apalagi mau ambil tindakan. Tetapi karena saya punya gap 200 suara untuk menang saya harus melawan itu semua. Saya mencoba membuat caption perkenalan diri lagi, apa yang saya lakukan, dan memohon dukungan. Saya kirim ke grup alumni. Selain grup alumni saya hanya kirim ke grup yang masih aktif setahunan ini bukan grup kuno antah berantah. Dan ternyata respon positif, sebagian yang kenal saya langsung respon dan bantu share. Dan saya bisa menjangkau beberapa dosen yang saya yakini mereka pasti support tapi tidak saya berani japri. Saya juga sempat hadir offline di pertemuan karang taruna dan saat itu saya sampaikan langsung permohonan saya dan suara saya naik 22 suara sebanyak kurang lebih yang hadir langsung. Akhirnya sampai Minggu dini hari sebelum tidur saya cek suara saya 426 dan pemimpin klasemen di 648. Dan ternyata tanggal 27 sudah tidak bisa vote. So the end. Lalu apa pelajaran lainnya?.
Menjalani Proses Dengan Benar
Kalau ada pembelajaran kunci dari cerita ini adalah bagaimana saya benar-benar fokus pada usaha, proses dan strategi. Bukan malah pesimis, menyerah dan merasa hancur. Saya benar-benar terpacu untuk berkompetisi pada bidang yang seadil ini, setransparan ini. Hal yang terbiasa kita salahkan pada pihak eksternal semisal: ini kompetitornya ga imbang, ini juri ga adil dan semua persepsi ini tidak logis dipakai untuk proses segamblang ini. Semoga ini jadi ubah mental yang terjadi di saya untuk saat ini dan seterusnya.
Menepati Janji
Ya, di awal tahun, di awal saya mulai nulis blog ini, saya membuat target harian. Di antaranya adalah saya ingin melakukan chat 3 orang kontak per hari, waktu itu saya ingin meningkatkan network saya karena saya hanya pekerja kantor dari rumah yang tidak nongkrong dimana-mana, tetapi secara virtual saya bergabung di banyak grup yang isinya orang baru. Bagaimana kalo kita kenalan ke orang-orang baru itu. Ternyata kesempatan ini bisa saja dianggap menebus itu, bahwa mungkin tidak 3 orang sehari, tapi 600 kontak sepekan.
Respon Beragam
Mungkin kalau dibagi dua, adalah tidak ada respon, artinya tidak membalas, tidak react, mungkin sampai tidak vote. Atau ada jawaban, doa, nanya kabar sampai bukti vote berhasil. Hal ini sangat terasa ketika yang dijadikan objek memang sudah sesuai, mereka yang kenal dan terdampak dengan keberadaan saya, merasa perlu bayar jasa atau minimal tanda terima kasih seminimalnya tanda pertemanan di masa lalu. Bahkan pada caption terkirim disana tertulis kami tidak memberi apapun namun dukungan ini sebagai motivasi bagi kami. Namun ada satu respon yang menanyakan apa yang didapat apakah satu pohon. Saya bingung meresponnya. Dan ada satu kontak yang sepertinya salah kontak, setelah menjawab tidak dapat apa-apa, responnya: “GA GUNA”. Sakit tapi tak berdarah.
Personal Connection
Sama dengan apa yang terjadi pada acara resepsi ala-ala saya, bahwa apa yang disampaikan di hadapan banyak orang seringkali tidak sekuat apa yang kita sampaikan secara personal. Selain sudah banyaknya informasi dan kadang literasi rendah, membuat publikasi via grup besar apalagi yang traficnya sepi seringkali dipandang sebelah mata. Tentu saja bagian dua adalah tentang siapa yang mengirim dan siapa yang menerima. Jika kontak kita disimpan sebagai mana memori tentang kita teringat tentu saja akan terjadi transaksi yang mudah. Sementara saat kontak mata dan batin kosong, mungkin Report as Spam bisa jadi opsi utamanya.
Momen Berkabar
Saat menjalani proses ini, saya jadi merefleksi memang butuh momentum seperti ini untuk kita dapat mengontak teman lama, rekan seprofesi, kawan komunitas. Mungkin momen yang pas sebenarnya waktu mengirim undangan pernikahan, tapi tidak mungkin kan kalo kita nikah setiap tahun. Tapi dengan ini, kebingungan mencari konteks untuk mulai membangun komunikasi jadi lebih mudah karena ada bahan untuk memulai ngobrol. Minimal mereka tau apa yang sedang saya lakukan, lalu ada interaksi. Syukur bisa ketemu kesempatan: perusahaanku ingin nanem nih bisa bantu engga.
Konteks Sebelum Kontak
Banyak orang berpuas diri dengan saya punya kontak orang penting di negeri ini. Padahal save nomor semua orang bisa. Tapi bagaimana kita punya konteks yang kuat. Apakah ketika kita mengkontak nomor tersebut respon yang diharapkan sesuai dengan kemauan kita, atau lagi-lagi itu sebatas nomor yang meaningless. Maka ini membuat saya semangat kembali untuk ber-network, membuat kesan yang diingat, tidak melupakan kawan dan hal positif lainnya di luar punya ratusan ribuan kontak tanpa pernah dikontak.
Hobi Berteman
Salah satu buku terakhir yang saya baca dan khatam di bawah 3 jam adalah Young On Top oleh Billy Boen yang kebetulan saya dapat karena ikut acara Astra ini, dikirim sebagai hampers. Bagian menarik dari buku ini adalah ketika Billy bercerita tentang hobinya berteman. Bahkan ada orang yang mengontak beliau ditanya ada yang bisa dibantu, temannya menjawab saya hanya bertanya kabar dan memastikan baik-baik saja. Sepertinya setelah menjalani ritual panjang ini, saya jadi makin berenergi untuk menghobikan pertemanan ini. Bayangkan jika 600 yang saya kontak adalah teman yang saya kelola dengan baik, pasti perlombaan ini bisa mudah dimenangkan. Karena saya favorit dari 600 teman saya.
So, barangkali ini yang mampu saya ingat dan ketik selama sejam ini. Benar saya bukan juara favoritnya, tapi mendapat poin di atas bagi saya worth it untuk dijadikan ladang bersyukur. Wal hasil saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk tim LindungiHutan dan ‘teman’ saya dari sumber manapun, semoga kita bisa terus bersahabat dalam kebaikan. Terima kasih.