Di beberapa kesempatan terbuka, saya sering ditanya oleh rekan tentang bagaimana dengan melanjutkan kuliah (lagi). Ini tentu mendasar ditanyakan ke saya karena saya selesai S2 dan beranggap ijazah ga bernilai-nilai amat. Tentu saja bagi saya secara personal. Berkecimpung di dunia entreprenuer tak menyaratkan ijazah. Hanya tekad dan terus belajar (bukan hanya kuliah).
Tapi ada beberapa point tentang hal ini:
- Kenali tujuanmu
Banyak yang mau kuliah lagi tapi belum punya tujuan yang jelas. Padahal kalau diurai enak kok. Misal kalau untuk mencari ilmu: sekarang pengetahuan ada dimana-mana kok. Misal mencari network: banyak cara menjalin relasi, ngesosmed salah satunya. Mencari ijazah: ini baru tujuan yang benar. Karena yang menyediakan hanya lembaga formal. Tapi setelah punya, mau dipake apa? Jawaban ini yang dimaksud tujuan, ijazah hanya sarana. - Ijazah (hanya) syarat administrasi
Di banyak lowongan di bidang formal, mulai ASN sampai BUMN sangat ketat dalam syarat kriteria, termasuk lulusan apa dan lulusan mana. Akreditasi kampusnya apa. Jadi kalau memang tujuan kita masuk dunia semacam ini, layak kita googling dulu oppurtunity yang terbuka pekerjaan semacam apa. Biar ga kaget. Bahkan kadang beberapa lowongan mensyaratkan untuk jurusan linier. Nah lho. Kalau mau ngambil jurusan ini tapi S1 ke S2 beda prodi, keknya ga bisa dong. - Ingat konsekuensi
Normalnya biasa S2 hampir dua kali lipat dari S1 atau lebih. Belum yang kelas karyawan atau kelas weekend. Banyak deh. Berarti ada biaya yang kita keluarkan. Belum masalah waktu kalau kita masih nyambi kerja. Kerjaan terganggu, kuliah terganggu, molor, bayar lagi. Nah lho. Belum syarat lulus misalnya harus bikin jurnal internasional, padahal niat awal nyari ijazah, kok malah harus meneliti sampai publish. Belum masalah waktu. Belum masalah status sosial. Mohon maap sebelumnya, kalau anda perempuan dan S2 dan belum menikah, ingat lelaki bisa minder. - Dunia kreatif peduli portofolio
Sekeren-kerennya ijazah, itu hanya syarat administrasi. Dunia kerja keras bung. Kudu bisa kerja, dan kelihatan kalau kita emang ga di kampus doang. Kecuali jadi dosen atau peneliti ya. Bisa lah mirip-mirip. Jalur kreatif atau sektor non formal lebih peduli pada pengalaman dan portofolio. Designer, programmer, writer, editor, content creator menurut saya lebih dilihat udah pernah ngapain aja. Dia S3 Ilmu komputer tapi ga bisa ngoding ga lolos tuh jadi programmer. Bukan sekolah ga penting, tapi kan kalo dia lulusan SMA skill dewa, nego gaji gampang. - Faktor lainnya
Namun semua argumentasi di atas akan patah jika ada alasan yang memang personal dan tak bisa diganggu gugat. Menyenangkan orang tua, cinta ilmu pengetahuan, menaikkan pangkat, memantaskan diri untuk jodoh yang level pendidikannya lebih dari kita. Atau alasan apapun. Sah sah saja. Ambil keputusan, sadari konsekuensinya. Simpel.
So, gimana, kuliah kita? Atau ambil webinar gratis yang berserakan. Belajar sampai akhir hayat.
Jabungan, 21 Februari
Tabik
Ben
22/350