Pertanyaannya bukan cara mengubah kebiasaan buruk, karena susah. Susah sekali. Sukar. Sukar sekali. Setiap kita memiliki suatu pola, perulangan dalam hidup. Kegiatan yang terus dijalani secara rutin. Ada yang kita nilai hal baik, ada yang sudah kita sadari buruk. Minimal ada kesadaran lah.
Lalu mulailah kita memikirkan bagaimana kebiasaan buruk itu berhenti. Kita belajar lalu mencoba namun hasilnya setelah sehari, seminggu, dua minggu, kambuh lagi. Dalam percaya saya, namanya saja kebiasaan, bukankah itu hal biasa. Jadi ya sulit pasti melakukan yang tak biasa.
Lalu bagaimana menghentikannya. Alternatif terbaiknya adalah mengubahnya. Kebiasaan yang kita rasa buruk pasti ada alasan, ada tujuan. Ketika alasan datang, kebiasaan ter-triger, agar tujuan tercapai. Kalo pola ini dipahami, kita bisa challenge satu per satu. Apakah alasan itu bisa berubah. Atau alasan itu akan terus ada. Jika terus ada berarti tidak kita ubah, tapi kita jadikan alarm.
Lalu lanjut ke bagian tujuan. Apa yang dirasakan di ujung kebiasaan buruk itu yang kita nanti. Apakah perasaan gembira. Apakah rasa kenyang. Apakah bikin lega. Jika kita tau perasaan macam apa yang memang kita tuju, tentu saja, cara bisa kita ubah. Cara inilah yang ketika diulang, dibiasakan menjadi kebiasaan. Kalo baik ya jadi kebiasaan baik.
Terakhir, dengan mengubah sedikit rentetan tadi kita bisa mengubah dari kecanduan sosmed menjadi sering baca buku. Sering makan menjadi pasti kenyang. Karena kejelasan tujuan sedari awal. Maka biasakanlah.
Jabungan, 19 Februari
Tabik
Ben
20/350