Ben Robani Blog

18. Mengapa kita tergantung dengan alat?

Hari ini hari yang terasa sangat panjang. Listrik mati. Seakan semua kerjaan menunggu semua alat siap. Karena telah terbiasa dengan fasilitas lengkap. Alat elektronik dan sinyal yang cukup. Hidup tanpanya jadi terasa makin sulit. Seolah tidak bisa apa-apa. Padahal sebenarnya kalo kita memakai laptop untuk menulis bukankah alat tulis sangat banyak. That’s the question.

Maka penting untuk tahu apakah alat itu adalah tujuan atau hanya alat. Cara, metode, untuk mecapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Kalau kita menganggap semua item harus tersedia tapi kita tak bertujuan toh ujungnya juga ga ada hasilnya. Bukankah semua kita memiliki cukup mirip akses terhadap alat yang kita maksud. Semua punya handphone, listrik, sinyal. Tapi apakah semuanya memiliki output yang sama. Tentu tidak.

Hal ini juga yang saya khawatirkan terhadap diri saya pribadi. Ketika ingin memulai sesuatu yang sebenanrnya maha mudah, saya merasa bahwa harus tersedia semua tools yang dibutuhkan. Akhirnya waktu dan biaya harus keluar sedemikian besar. Setelah milah-milih, boyar-bayar, akhirnya ga kepake. Pernah ngalamin hal yang sama?

Karena memang seharusnya yang kita fokuskan adalah tujuannya dulu. Masalah alat bisa ngikut. Karena mati listrik misalnya kita bisa gunakan alat-alat non elektronik untuk mencatat dan menulis. Jika hiburan datang dari skral-skrol, bukankah masih numpuk puluhan buku belum terbaca. Selalu ada subtitusi dari alat yang tak bisa digunakan asal tujuan jelas. Dan hidup manusia bergantung pada daya adaptasi. Mereka berburu dengan senjata dari batu, panah sampai senapan mesin. Dan ketika semua alat itu hilang, mereka membuat jebakan.

Jabungan, 17 Februari
Tabik
Ben
18/350

Exit mobile version